PEKALONGAN – Di Grya Batik Dini berjejer kain batik cap aneka motif corak. Sang Ceonya, Maghfur Hadi 53 tahun, dengan sigap aktif mencek proses pembuatan oleh 10 karyawannya.
“Ini kainnya dan motif canting cetakan cap yang dipesan oleh pelanggan,” kata Maghfur Hadi menyerahkan kain batik sekaligus motifnya. Di dinding rumah kediaman pribadinya yang ditinggali bersama belahan jiwa, Anj dan satu buah cintanya, Dini berjejer canting cap aneka motif yang digunakan.
“Ratusan motif canting cap yang kami punyai. Untuk canting cap motif semuanya ada di jual di pasar,” kata Maghfur Hadi yang dikenal dengan nama beken, Purhedi.
Masing-masing karyawannya punya meja berukuran besar nan bisa di letakkan kain berukuran satu meter. Tangan-tangan lincah itu piawai mencelupkan cating cetakan cap berisikan lilin malam batik yang telah di cairkan dalam wajan yang dipanasi di atas kompor gas.
Agar tampilan batiknya menarik, pencanting harus berkreasi dan berimajinasi meletakan cap di atas kain putih. Usai dibubuhi cap-cap motif yang indah di pandang, kain dicolet aneka warna yang diinginkan.
Kemudian, dilakukan pewarnaan dasar untuk keseluruhan. “Kain usai dicap dan colet, dicelupkan ke aneka ragam warna yang diinginan. Untuk tampilannya agar berwarna tua, dicelupkan sekali. Sementara, warna lembut (soft/muda) dicelupkan dua atau tiga kali,” jelas Purhedi.
Usai dicelup, langsung dilorot dalam air mendidih, agar lilin hilang sehingga tampilannya cerah.
Jika, ada sisa lilin yang kosong pencolet mengisinya dengan warna seleras nan indah. Kemudian di canting cap lagi agar tak tercampur. Diulang proses melorotnya sebelum di jemur di panasnya terik matahari.
“Kami ada dua tempat penjemuran. Di lantai dasar di belakang kediamannya dan lantai dua, jika hujan melanda,” jelasnya.
Purhedi mengakui, jika usaha batiknya dipesan seragaman sekolah ataupun di pasarkan ke penjahit untuk dibuatkan pakaian siap pakai. Seperti daster, gamis ataupun kemeja. Bahkan, sebagai UMKM binaan Koperasi Jasa Bangun Bersama TBIG (KKB-TBIG), ia mendapatkan bantuan modal dan pemasaran kain batik capnya.
“Kami sangat terbantu sekali untuk pemasaran dan permodalan yang diberikan Koperasi Jasa Bangun Bersama TBIG,” ucap Purhedi yang mengakui usahanya yang telah dirintisnya sedari 2003 ada pasang surut.
Sempat berjaya dan punya 40 orang karyawan pada 2003 – 2011. Pada 2011, ia sempat jatuh dan terus bangkit lagi 2019 – 2023. Dan dari 2023 hingga sekarang tinggal 10 orang karyawan.
Semangat Maghfur Hadi tak pernah pernah surut. Ia bangkit lagi. Sebagai UMKM binaan Koperasi Jasa Bangun Bersama TBIG, ia yakin usahanya dalam produksi batik cap pasti maju secara berangsur-angsur.
Walaupun di tengah gempuran bahan-bahan untuk proses pewarnaan batik yang terus menanjak naik, Purhedi tetap optimis.
“Harga canting cap yang baru saja yang dahulunya harga satuannya cuma Rp275 ribu – 350 ribu, sekarang harganya Rp1.200.000. Tapi yang bekas alias second masih dapat 350 ribu, namun harus service harus diservice terlebih dahulu. Belum lagi, satu kilo obat pewarnaan hanya Rp100 ribu, meningkat menjadi Rp150 ribu hingga Rp250 ribu. Hal serupa pun terjadi pada harga lilin malam batik, yang semula satu kwintal harganya Rp400 ribu, sekarang meningkat tajam menjadi Rp2 juta lebih.
Walaupun harga bahan-bahan untuk proses batik cap lumayan meningkat, ia tetap optimis bisa bangkit lagi. Apalagi ia sekarang tergabung dalam UMKM binaan dari KBB – TBIG. Banyak sekali manfaat yang ia rasakan sejak terdaftar dalam anggota koperasi tersebut.
Ya, Koperasi Jasa Bangun Bersama (KBB) adalah koperasi binaan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) yang didirikan sejak tahun 2012 sebagai bagian dari inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
Koperasi ini didirikan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah operasional TBIG, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“KKB didirikan untuk bantuan permodalan dan pendistribusian barang binaan kita. Kemudian kami pasarkan di market-market tersebar Jawa, Sumatra dan Kalimantan,” Ketua Koperasi Jasa Bangun Bersama Nanang Tri Purwanto. (*)












