Payakumbuh – Dalam upaya intervensi penurunan Stunting, berbagai upaya telah dilakukan Pemko Payakumbuh. Hal itu terlihat saat Pj. Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh, hadir dalam monitoring dan evaluasi (monev) bersama seluruh kepala Puskesmas, pengelola gizi, pengelola KIA serta pengelola wilayah dari seluruh Puskesmas di Kota Payakumbuh.
Pj. Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh Elfriza Zaharman, kepada wartawan, Selasa (2/7), mengatakan, monev yang dihelat oleh Dinas Kesehatan melalui bidang Kesmas itu, berlangsung di aula pertemuan kantor bersama Dinas Kesehatan, Padang Kaduduak.
“Langkah strategis dalam upaya akselerasi terus dilaksanakan, meski ada tren terjadi penururnan angka Stunting, akan tetapi tetap dibutuhkan langkah-langkah yang tepat. Update dan validasi data harus berangkat dari ketersediaan data yang valid, pemetaan kelompok sehingga kondisi real yang dihadapi masyarakat mencerminkan kebijakan apa yang harus dilakukan,” ujarnya.
Menurutnya, kelembagaan tidak bisa bergerak sendiri, harus melibatkan seluruh komponen dan unsur semua lini serta kelurahan. Baik itu RT dan RW, sehingga dalam ini akan terus berkolaborasi dalam menurunkan stunting. “Begitu pula dengan OPD dan petugas yang bertugas di lapangan, harus mengevaluasi secara baik. Sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai,” tambah Cece, sapaan akrab Pj. Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh itu.
Dikatakan, dalam hal ini haruslah terus memperkuat kolaborasi dan sinergitas lintas sektor, pada setiap lembaga dalam percepatan penurunan Stunting. Dan yang terakhir adalah sistem kemantapan dan evaluasi monitoring yang bertanggung jawab. Ini beberapa poin penting yang menjadi acuan kita dalam penanganan Stunting di Kota Payakumbuh,” katanya.
Sementara itu, Kepala bidang Kesmas Dinas Kesehatan Vivi Leswary, secara terpisah, mengatakan, dalam mengetahui pemutakhiran, evalusi dan validasi data aksi serentak penurunan Stunting, merupakan suatu proses kondisi terkini di lapangan maupun pengecekan kasus Stunting yang merupakan output dari elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan.
“Dan kemudian di mutakhirkan sesuai kondisi terkini sehingga didapatkan data sasaran yang valid dan akurat yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penajaman sasaran maupun intervensi program dalam rangka penurunan keluarga berisiko stunting maupun kasus stunting,” ungkap Vivi.
Monitoring dan evaluasi pelaksanaan verifikasi dan validasi data aksi serentak penurunan Stunting tersebut berlangsung untuk membahas tentang proses penginputan data kerluarga berisiko Stunting yaitu melalui web verval. Dalam monev tersebut, juga dibahas tentang apa penyebab sehingga terjadinya keluarga berisiko Stunting.
“Ada enam dasar untuk menyatakan bahwa suatu keluarga itu dikatakan berisiko Stunting antara lain, terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak. Selain itu, juga ada keluarga yang tidak mempunyai sumber air minum yang layak dan keluarga yang tidak mempunyai jamban yang layak,” tambahnya. (207)












