Minuman tradisional Sumatera Barat tidak hanya sekadar pelepas dahaga, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang sarat makna. Setiap tegukan menyimpan kisah tentang kearifan lokal, kehangatan kebersamaan, serta hubungan erat masyarakat Minangkabau dengan alam sekitarnya. Dari bahan-bahan alami seperti rempah, kelapa, hingga beras, terciptalah racikan minuman yang unik, menyehatkan, sekaligus memperkaya cita rasa Nusantara. Kehadiran minuman-minuman ini menjadi bukti bahwa tradisi kuliner Minang bukan hanya terkenal dengan masakan pedas dan lezat, tetapi juga memiliki kekayaan rasa dalam bentuk sajian segar dan berkhasiat. Berikut adalah beberapa minuman Tradisional Sumatera Barat.
1. Teh Talua
Teh Talua atau teh telur adalah minuman manis khas Sumatera Barat yang dapat dijumpai di Lapau, warung tradisional Minangkabau hingga restoran Padang. Minuman ini berupa teh ditambah gula dan telur yang sudah dikocok serta diberi sedikit perasaan jeruk nipis. Telur yang digunakan umumnya adalah telur ayam kampung .
Teh Talua juga memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh, meningkatkan energi dan stamina karena kandungan protein dan kafein dari teh dan telur, meningkatkan daya tahan tubuh karena kaya vitamin A, D, E dan Zinc serta menjaga kesehatan seperti kesehatan mata, tukang, dan kulit.
2. Aia Aka
Aia Aka adalah minuman tradisional khas Sumatera Barat yang terbuat dari bahan dasar Cincau hijau, gula aren, santan, dan kadang air asam atau air daun kacang, memberikan tekstur kenyal dan rasa manis, gurih yang menyegarkan.
Awalnya dibuat dari akar tanaman kalimpangan, kini bahan utamanya adalah jeli daun cincau yang memiliki manfaat kesehatan untuk pencernaan dan sebagai pendingin tubuh, menjadikannya minuman pelepas dahaga populer di Ranah Minang. Memiliki rasa yang manis gurih dan tekstur nya yang menyegarkan sangat cocok untuk menghilangkan dahaga.
3. Kopi Kawa daun
Kopi Kawa daun adalah minuman tradisional khas Sumatera Barat yang dibuat dari daun kopi yang direbus, bukan biji kopi. Minuman ini populer di kalangan masyarakat Minangkabau, dan populer karena proses sejarahnya ketika masyarakat tidak bisa mengonsumsi biji kopi akibat tanam paksa kolonial. Kawa daun memiliki rasa unik mirip teh tetapi beraroma kopi dan umumnya disajikan dalam gelas batok kepala.
Memiliki rasa pahit yang tetap seperti kopi, namun tidak sekuat kopi biasa, dan memiliki sensasi unik dari daun nya. Umumnya disajikan dalam batok kelapa yang disebut “sayak” dalam bahasa minang.
4. Es Cindua
Es Cindua adalah minuman dingin tradisional khas Minang (Sumatera Barat) yang terdiri dari cendol kenyal (terbuat dari sagu atau tepung beras), santan, dan sirup gula merah. Cindua seringkali lebih lengkap dibandingkan es cendol Jawa, sering ditambahkan tape singkong, dan atau kacang emping dari beras ketan, serta terkadang irisan nangka, untuk menciptakan rasa gurih, manis, dan tekstur yang beragam dalam satu sajian.
Berbeda dengan cendol Jawa yang cenderung lembut, cendol pada cindua Minang biasanya lebih kenyal karena terbuat dari tepung aren. Namun, ada juga varian yang menggunakan tepung sagu atau campuran tepung beras. Es cendol Jawa biasanya hanya berisi cendol, santan, dan gula merah. Sementara itu, cindua Minang lebih kaya dengan tambahan tape, ketan, dan emping. (Dikra/Mahasiswi Upgrisba)












