PADANG — Dosen Biologi Universitas Andalas, Dr. Resti Rahayu, atau akrab disapa “Ayu Maggot”, menegaskan bahwa pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF) merupakan solusi ramah lingkungan untuk pakan ikan.
Hal ini terbukti dari uji coba yang dilakukan bersama PT Semen Padang, yang menunjukkan peningkatan bobot ikan nila hingga 27 persen.
Uji coba dilakukan selama 45 hari di 12 kolam berukuran 1×1 meter, masing-masing berisi 20 ekor ikan dengan bobot awal 100–125 gram. Empat jenis pakan diuji, termasuk maggot segar dan kombinasi dengan pakan komersial.
“Hasil terbaik dicapai pakan komersial. Tapi kombinasi maggot memberi efisiensi biaya luar biasa,” jelasnya.
Harga pakan komersial mencapai Rp12.000/kg, sementara maggot hanya Rp4.000–6.000/kg. Jika dibudidayakan secara mandiri, biaya bisa ditekan lebih rendah lagi.
“Ini sangat membantu pembudidaya kecil,” kata Dr. Resti yang juga menjadi pendamping teknis program ini.
Ia juga menyoroti manfaat lingkungan. Penggunaan maggot turut mengurangi volume sampah organik ke TPA dan mengurangi emisi gas rumah kaca. “Ini dampaknya luas, tidak hanya ekonomi, tapi juga ekologi,” ujarnya.
Maggot digunakan berasal dari Rumah Sentra Budidaya Maggot binaan Semen Padang di Kelurahan Rawang. Fasilitas ini sebelumnya TPS3R dan kini bertransformasi menjadi pusat inovasi pengelolaan sampah organik.
“Jika dikembangkan lebih luas, maggot bisa jadi pilar ekonomi baru berbasis lingkungan,” ungkapnya. Ia juga mendorong pemerintah untuk menjadikan maggot sebagai bagian dari strategi nasional pengelolaan limbah dan ketahanan pangan.
Program ini menjadi contoh kolaborasi antara industri, akademisi, dan masyarakat dalam menciptakan solusi nyata yang terukur dan berkelanjutan.
Dr. Resti berharap kesuksesan ini bisa direplikasi di seluruh Indonesia untuk membantu para petani ikan menghadapi mahalnya biaya produksi pakan. (*)












