Padang – Dunia saat ini menurut Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd, tidak lagi membutuhkan intelektual yang bermental sekadar pembebek. Jangan pernah sudi menjadi “beo” yang hanya mahir meniru dan mengulang narasi peradaban bangsa lain tanpa proses kurasi yang kritis!
“Kedaulatan sejati sebuah bangsa dimulai dari kedaulatan akal pikiran generasi mudanya. Gunakan ketajaman intelektual anak-anakku untuk membongkar kebekuan sosial, dan wujudkan gagasan-gagasan itu menjadi kontribusi bernyawa yang mengangkat derajat kemanusiaan dari lubang kebodohan,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara Wisuda Angkatan ke-95 UIN Imam Bonjol Padang, di Gedung J Kampus lll Sungai Bangek UIN Imam Bonjol Padang, Sabtu (18/4/2026).
Pada wisuda kali ini, UIN Imam Bonjol Padang mewisuda 1001 lulusan, dibagi dua hari, Sabtu dan Minggu. Khusus Sabtu, total wisudawan/watu sebanyak 491 jiwa dengan rincian, Pascasarjana sebanyak 143 lulusan,
Fakultas Adab dan Humaniora 79 lulusan, Fakultas Sains dan Teknologi 35 lulusan dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan sebanyak 234 lulusan.
Ia juga mengarahkan agar para wisudawan menjadi insan yang inspiratif dalam berkreasi dan berinovasi. Apalagi situasi di luar kampus, akan membuat para wisudawan berhadapan langsung dengan badai disrupsi teknologi yang tidak kenal ampun.
“Di sinilah letak ujian sesungguhnya atas peran anak-anakku sebagai khalifatullah fil ardh. Jadikan konsep Islam Transformatif yang anak-anakku serap di kampus ini sebagai ruh dalam berkreasi. Inovasi yang anak-anakku ciptakan haruslah sintesis mahakarya yang mampu menjahit kecerdasan sains buatan dengan keluhuran nilai-nilai profetik,” tambahnya.
Menurutnya, semua gagasan yang melangit dan inovasi yang futuristik itu, akan hancur menjadi malapetaka, jika tidak diikat erat oleh akhlakul karimah. Apalagi di tengah dunia yang sedang dijangkiti krisis integritas moral, maka jadilah pemimpin yang tawadhu. Jadilah kompas yang tak sudi bergeser meski terus digoda oleh pragmatisme duniawi.
“Perjalanan anak-anakku ke depan tentu tidak akan selalu dihiasi permadani merah. Anak-anakku akan ditampar oleh kenyataan dunia yang penuh paradoks. Tetapi, ingatlah selalu petuah batin leluhur Minangkabau, ‘’Keseimbangan dalam pertentangan’’. Kebijaksanaan yang sejati tidak pernah sudi lahir dari rahim kemanjaan dan kemudahan,” ungkapnya.
Kebijaksanaan itu dikaruniakan Tuhan melalui kesanggupan anak-anakku untuk menyeimbangkan antara cita-cita yang mengangkasa dengan kenyataan bumi yang berbatu. Antara harapan yang terus menyala dengan pahitnya kesulitan yang menerpa.
“Kini, kepakkan sayapmu, anak-anakku. Terbanglah mengangkasa, jelajahi luasnya jagat raya. Bawalah mandat perguruan tinggi ini di dadamu, dan sajikanlah karya terbaikmu pada meja peradaban dunia,” tutupnya. (Hendri)












