AGAM – Setiap pagi, suasana Simpang Ampek Tangah, Lubuk Basung, mulai ramai oleh aktivitas masyarakat yang hendak memulai pekerjaan. Tepat di depan Kantor Walinagari Lubuk Basung, berdiri sebuah kedai sederhana milik Nte Santi yang cukup dikenal warga sekitar.
Meski tampil sederhana, kedai tersebut menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menikmati sarapan dengan harga terjangkau. Nte Santi mulai berjualan setiap Senin hingga Jumat sekitar pukul 08.00 WIB. Berbagai menu sarapan tersedia di kedainya, seperti ketupat gulai, pical, bubur kacang padi, serta aneka kue tradisional.
Keberlangsungan usaha Nte Santi sangat bergantung pada aktivitas yang berlangsung di Kantor Walinagari Lubuk Basung. Pada hari-hari biasa, sebagian besar pelanggan yang datang merupakan pegawai kantor walinagari yang sudah akrab dengannya. Mereka memanfaatkan waktu pagi untuk sarapan sambil berbincang sebelum memulai pekerjaan.
Saat kantor walinagari ramai melayani masyarakat, jumlah pelanggan di kedai Nte Santi biasanya ikut meningkat. Banyak warga, terutama ibu-ibu, yang datang mengurus berbagai keperluan administrasi seperti surat keterangan dan dokumen lainnya. Sambil menunggu proses pelayanan, mereka kerap mampir untuk menikmati sarapan atau sekadar menyeruput secangkir kopi.
Selain itu, para walijorong yang menghadiri rapat maupun urusan pemerintahan di kantor wali nagari juga menjadi pelanggan tetap. Tak jarang mereka duduk bersama sambil menikmati kopi dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan nagari. Kehadiran masyarakat umum yang datang untuk bersantai dan berbincang turut menambah kehangatan suasana kedai setiap pagi.
Namun, berjualan di lokasi tersebut tidak selalu mendatangkan keuntungan besar. Ketika aktivitas di kantor wali nagari sedang sepi, jumlah pembeli juga ikut menurun. Menurut Nte Santi, kondisi usahanya sangat dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya masyarakat yang datang ke kantor.
“Kalau kantor sepi, warung juga ikut sepi. Orang yang singgah untuk sarapan atau minum kopi jadi berkurang,” ujarnya kepada penulis, Rabu (4/6).
Ia mengaku hasil berjualan selama ini pada dasarnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, Nte Santi tetap bersyukur karena usahanya masih mampu memberikan penghasilan yang relatif stabil.
Pada saat ada kegiatan besar atau pelayanan masyarakat yang ramai, pendapatan yang diperoleh tentu lebih baik dibandingkan hari biasa. Sebaliknya, ketika kondisi sedang sepi, terkadang hanya satu atau dua porsi ketupat gulai maupun bubur kacang padi yang terjual.
Selain menghadapi naik turunnya jumlah pelanggan, Nte Santi juga harus menerima kenyataan bahwa kedainya tidak beroperasi pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional karena aktivitas di Kantor Wali Nagari juga berhenti. Meski demikian, ia tetap menjalankan usahanya dengan penuh kesabaran dan rasa syukur.
Kisah Nte Santi menjadi gambaran perjuangan pelaku usaha kecil yang menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas lingkungan pemerintahan. Di balik kesederhanaan kedainya, terdapat semangat kerja keras dan ketekunan yang terus dijaga demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Bagi Nte Santi, setiap pelanggan yang datang bukan sekadar pembeli, melainkan bagian dari perjalanan panjang usahanya yang terus bertahan dari hari ke hari. (nathania/Ilkom Unes)












