Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci
Pasar ternak Kakiyah, Makkah pada Sabtu (4/8) penuh sesak. Kambing saja nyaris sesayup mata memandang. Ternak itu didatangkan dari Somalia, Somaliland, Nigeria, Afrika Selatan, Sudan dan sejumlah negara lainnya.
Sebelum musim haji kambing tadi di karantina, antara lain di Pelabuhan Berbera, Laut Merah. Kota di wilayah Saxiil, Somaliland itu sedang sibuk-sibuknya. Kambing diseberangkan menuju Jeddah. Sebanyak 33 dokter hewan dan para stafnya yang ratusan orang akan memeriksa kambing tersebut. Setelah lolos baru dikirim ke Makkah.
Begitulah Sabtu pekan lalu, jemaah dari KBIH Nur Zikrillah meninggalkan Hotek Alkiswah dengan beberapa bus. Setelah melewati sejumlah jembatan layang, bus masuk Kuday Ajyad Tunnels, dua terowongan di bukit batu. Di ujung sana, pembangunan sedang menggeliat. Saya iseng berpikir,
“Semennya dari manakah? Jika di Saudi maka dipastikan natural gypsumnya didatangkan dari Oman.
Terlihat bukit cadas digali, bangunan baru berdiri. Kawasan Kuday ini ramai rupanya. Bus kemudian berhenti di pasar kambing Al- Kakiyah.
Kontan saja pedagang kambing menghadang saya. Untung ada Prof Masnal yang fasih berbahasa Arab. Melihat pedagang kambing tinggi badagok dengan ladiang tajam di tangannya, ngeri juga saya.
“Sudan…Sudan,” katanya menjawab Masnal. Tak lama kemudian kami masuk bangunan lapang, tempat kambing dam disembelih satu demi satu. Sebelum landiang mengkilat setajam pisau cukur itu bekerja, nama peserta dipanggil. Sekejap saja.
Dam Itu
Dam adalah denda. Keseluruhan 221 jemaah Indonesia, wajib bayar dam karena mereka melaksanakan haji tamattuak, yakni menjalankan ibadah umrah sebelum haji. Saya dan kawan-kawan membayar 350 riyal atau sekitar Rp1,4 juta/orang. Untuk 221 ribu orang, uangnya sekitar Rp300 miliar. Daging kambing dam itu, dikirim ke 23 negara Islam. Indonesia pun berminat menerima kiriman. Sebagian jemaah membayar dam melalui Bank AlRajhi atau Bank Pembangunan Islam yang ATM ditemukan di banyak tempat itu.
Untuk keperluan dam itu, Saudi membeli kambing ke Afrika. Dikirim melalui beberapa pelabuhan di Laut Merah yang dijepit Jazirah Arab dan Afrika itu. Antara lain kambing dikirim dari Pelabuhan Pelabuhan Berbera di Somaliland. Kapal pembawa kambing itu menggerjaji Laut Merah untuk merapat di Teluk Aden, lalu masuk ke Jeddah. Dokter hewan akan memeriksa semua kambing yang didatangkan 61.000 eksportir itu. Setelah selesai dibawa ke Makkah.
Laporan mutakhir menyebut, tujuh tim dokter hewan disiapkan di titik masuk Makkah termasuk Kaakiya, Shumaisi Tua, Sharaie, Nouriya, dan Hada. Dua tim baru dikerahkan di Husainiya dan Jurana, sebagaimana dilansir ibadah.id.
Maka bertemulah jemaah dengan kambing dari lain benua itu. Luar biasa. Dua makhluk Tuhan, satu manusia, satu binatang bersua dalam bahasa yang tak mereka mengerti dalam sebuah ritual yang tak tertandingi di dunia oleh agama manapun.
Bisnis
Tak sia-sia Nabi menggembalakan kambing kala kecil. Secara fokus Islam menyebut kambing untuk kurban. Untuk dam juga. Maka tak heran kami menyaksikan bertruk-truk kambing datang. Di rumah jagal sekian kambing sedang dikuliti. Inilah bisnis halal yang digeluti dalam musim haji ini.
Akan halnya kambing domestik hari ini, nenek moyangnya adalah kambing liar di Eropa Timur dan Asia Barat Daya, yang di dalamnya ada Saudi Arabia. Kini kambing itu “pulang kampung” dalam sebuah rantai bisnis. Tentu saja dam tak boleh dilihat sebagai sebuah bisnis. Bahwa ada bisnis nengikutinya, alhamdulillah.
Jika dam Indonesia saja Rp300 miliar, belum lagi jemaah dari bangsa lain. Saudi mengimpor kambing musim ini lebih satu juta. Jika satu juta itu saja uang damnya di atas Rp1 triliun.
Jika diinap-inapkan Rukun Islam adalah pangkal dari bisnis halal. Dagang. Makanya, Nabi suka berdagang. Kita sering menerima nasihat bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah dagang. Maka cobalah berdagang rempah atau telur ke Saudi. Bukankah hampir tiap hari ada telur yang bertemu dalam ransum jemaah Indonesia. Nah. (bersambung)












