Bukan Cuma Razia, KAI Sumbar Pilih Sapa Sekolah dan Mushala demi Buru ‘Agen Selamat’ di Pinggir Rel

PADANG – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat punya cara unik untuk menekan angka kecelakaan di jalur kereta api (KA). Alih-alih sekadar melakukan patroli ketat, KAI justru menggelar aksi simpatik bertajuk “Sapa Sekolah dan Masjid/Mushollah” di sepanjang jalur aktif Kota Padang pada Sabtu (23/5/2026).

Lewat program ini, KAI masuk ke ruang kelas dan mimbar rumah ibadah yang berada di zona merah (radius 30 hingga 700 meter dari rel aktif). Tujuannya satu: melahirkan ‘agen keselamatan’ baru dari kalangan siswa dan warga sekitar jalur KA petak Bukit Putus hingga Indarung.

Agar pesan keselamatan lebih membekas, KAI Divre II Sumbar juga menyalurkan bantuan CSR berupa alat olahraga untuk sekolah serta sarana ibadah untuk masjid dan mushala yang dikunjungi.

Edukasi Garis Keras: Jangan Jadikan Rel Tempat Bermain!
Aksi jemput bola yang dipimpin langsung oleh Manager Pengamanan KAI Divre II Sumbar, Kolonel Marinir Ernst Rikumahu, dan jajaran Polsuska ini membongkar kebiasaan-kebiasaan sepele masyarakat yang berdampak fatal bagi perjalanan kereta.

Baca Juga  Banjir Landa Manggilang, Puluhan Rumah Terendam

Di hadapan ratusan siswa SD IT Arroyan dan perwakilan warga, Karu Polsuska Divre II Sumbar, Jeni Ramadhan, menjabarkan “dosa besar” di area perlintasan yang harus dihentikan, seperti:

Menjadikan rel tempat bermain atau nongkrong.

Iseng melempar batu ke arah kereta api yang melintas.

Meletakkan benda asing di atas rel.

Melintas atau menyeberang di jalur ilegal.

“Menjaga keselamatan perjalanan kereta api itu tanggung jawab bersama. Edukasi sejak dini adalah kunci agar budaya selamat ini tertanam kuat di benak masyarakat yang tinggal berdampingan dengan rel,” jelas Jeni tegas.

Bongkar Mitos Palang Pintu Kereta Api
Selain larangan beraktivitas di jalur rel, tim KAI juga memberikan edukasi penting mengenai aturan di perlintasan sebidang. KAI mengingatkan masyarakat agar tidak lagi ‘mendewakan’ palang pintu.

Faktanya, palang pintu kereta hanyalah alat bantu keamanan, bukan pelindung utama. Keselamatan mutlak ada di tangan pengendara itu sendiri. KAI mengajak warga kembali mendisiplinkan diri dengan rumus aman: Berhenti, tengok kanan-kiri, jika dipastikan aman, baru melintas.

Baca Juga  Tiga Pelaku LGBT saat Malam Lebaran di Bukittinggi

Didukung Penuh Sekolah dan Tokoh Masyarakat

 

Langkah kreatif KAI ini langsung dihujani apresiasi. Kepala Sekolah SD IT Arroyan, Amdrean Ruseffendi, S.Pd., dan Pengurus Mushollah Al Jannah, Rohadi, kompak menyebut bahwa edukasi langsung seperti ini jauh lebih efektif mengubah perilaku masyarakat dan anak-anak di lapangan ketimbang sekadar memasang papan larangan.

Menutup kegiatan, Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, menyatakan bahwa investasi terbaik KAI saat ini adalah membangun kesadaran kolektif masyarakat.

“Kami ingin membekali para siswa dan masyarakat agar mereka tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga berani menegur orang lain di sekitarnya yang kedapatan bermain di rel. Mereka adalah agen edukasi kami di lapangan,” tutur Reza Shahab.