Buk, Badan Rani Sudah Lurus

KISAH HARU PENDERITA SKOLIOSIS SELAMAT BERKAT JKN KIS

Khairani, bersama ayah dan ibunya memperagakan kartu JKN KIS yang telah mengubah hiduonya dari masa sulit ke masa dengan penuh harapan. Ist

PADANG-Gadis itu, menatap dirinya sendiri di cermin. Dua tahun silam, tubuhnya lebih bungkuk dari bulan sabit, karena tulang punggungnya bengkok ekstrim. Sekarang lurus. Normal.

“Buk, badan Rani sudah lurus sekarang, “ katanya berbinar via vidio call whatsApp. Matanya berubah bak telaga, ia ingin mengisahkan perjalanan hidupnya.

Seperti ini. Raut wajah anak perempuan jolong gadang (Anak perempuan beranjak remaja-red) begitu elok. Tubuhnya tinggi semampai. Kulitnya sawo matang. Hitam manis kata orang. Setiap pagi, dia melangkah tegap menuju sekolahnya yang berjarak sekitar 4 Km dari rumahnya di Situjuah Gadang, Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Sebuah SMP Negeri di kampunngnya.

Kondisi  sekarang jauh berbeda dibanding dua tahun lalu. Tepatnya pada Juli 2023. Badannya kurus dan tinggi badannya pendek dibanding anak seusia dengannya. Kala itu Ilma Khairani, nama lengkapnya terbaring lemah. Punggungnya melengkung. Seperti nenek bungkuk. Tubuhnya terbalut infus karena penyakit skoliosis ekstrem hingga 123 derajat. Dia kehilangan rasa percaya diri karena penyakit tersebut. Saya mendapat informasi tentang kondisi Ilma Khairani dari Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi, dan dr. Farhan Abdullah. Sejak saat itu saya terus memantau Rani lewat statusnya di WhatsApp.

Khairani saat dirawat di RSUP M. Djamil Padang. Ist

Skoliosis adalah kondisi medis di mana tulang belakang melengkung ke samping, menyerupai huruf “S” atau “C”.

Tulang belakang melengkung yang diderita anak pertama pasangan Mesi dan Santiago Dewi itu bermula dari benjolan kecil sejak ia duduk di kelas lima SD. Awalnya ia dan istri tak begitu dihiraukan karena masih kecil, namun benjolan itu terus membesar dan mulai membuat Mesi khawatir.

Berbagai upaya dilakukan, termasuk tukang urut tapi kondisi Rani bukannya membaik justru memperparah keadaan. Akhirnya, berobat ke fasilitas kesehatan. Mulai dari bidan, puskesmas, rumah sakit di Limapuluh Kota, hingga berujung di RSUP M. Djamil Padang pada Minggu, 30 Juli 2023.

“Ketika ada benjolan, Rani tidak merasakan sakit. Hanya saja dia sering mengeluh letih. Disuruh mencuci piring dibilangnya capek dan pinggangnya terasa sakit,” tutur Mesi, buruh tani.

Mereka sempat pesimis dalam menjalani hari-hari hingga akhirnya mendapat solusi atas penyakit yang diderita Rani. Rani harus menjalani operasi dimana operasi tersebut terbilang rumit. Alih-alih bisa kembali normal namun bisa berakibat fatal bagi kesehatan Rani.

Di tengah kegalauan hari kedua orangtuanya, nasib baik berpihak pada Rani, dimana operasi yang terbilang rumit bisa dilakukan tim dokter di RSUP M. Djamil. Operasi berjalan lancar sesuai harapan. Semua karena doa Rani yang tak perna putus pada Tuhan serta doa dari kedua orangtuanya untuk sang anak sulung.

 

Kondisi Khairani saat menderita Skoliosis 2023. Ist

JKN KIS Beri Harapan Besar

Operasi yang dijalani Rani tidak akan terlaksana jika Rani tidak terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)-Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dibiayai pemerintah.

“Kalau tidak ada kartu JKN KIS, entah dari mana kami bisa mendapatkan uang. Suami saya hanya buruh tani. Sedangkan biaya operasi dengan status umum mencapai puluhan juta hingga ratusan juta,” terang Santiago Dewi, ibunda Rani, kepada Topsatu.com, Selasa (10/06/2025) di Padang.

Dia bercerita saat Rani dirawat di RSUP M. Jamil Padang berjarak 100 Km dari Padang, dia kesulitan biaya harian. Hingga akhirnya dibantu oleh Dompet Dhuafa Singgalang.

Baca Juga  BPJS Padang Pastikan Kualitas Fasilitas Kesehatan

Sedangkan biaya pengobatan semua ditanggung oleh JKN KIS, hingga akhirnya Rani bisa menjalani operasi.

Terpisah, Direktur Utama RSUP M. Djamil Padang, Dovy Djanas, mengungkapkan bahwa untuk menangani skoliosis ekstrem hingga 123 derajat, rumah sakit ketika itu membentuk tim kerja multidisiplin yang diketuai oleh Dr. dr. Roni Eka Sahputra, SpOT (K) Spine. “Kerja keras tim untuk memberikan yang terbaik kepada Ilma Khairani akhirnya terbayar lunas,” kata Dovy Djanas.

Dikatakan Dovy, hasil operasi yang dijalani Rani sungguh menakjubkan. Kemiringan tulang belakang Rani turun drastis dari 123 derajat menjadi 50,24 derajat. Lebih luar biasa lagi, operasi ini juga berdampak pada penambahan tinggi badan Rani dari 148 sentimeter menjadi 159 sentimeter.

“RSUP M. Djamil Padang akan selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada masyarakat, operasi ini menegaskan bahwa M. Djamil bisa memberikan layanan untuk tindakan ortopedi,” jelas Dovy Djanas.

Ketua Tim Dokter, Roni Eka Sahputra, menjelaskan bahwa operasi Rani ketika itu berlangsung sekitar lima hingga enam jam. Kasus skoliosis berat seperti yang dialami Rani memang banyak ditemukan pada anak perempuan, terutama pada fase pertumbuhan cepat.

“Rani tidak pernah mengeluhkan sakit atau nyeri, hanya saja berdampak pada kondisi sosial karena pasien merasa minder dan tidak percaya diri dalam pergaulan,” ungkap Dr. Roni.

Hal ini dibenarkan oleh ibu Rani, Santiago Dewi, yang sangat bersyukur atas keberhasilan operasi yang dijalani anaknya.

“Saat punggung Rani melengkung anak saya jadi tidak mau bergaul ke luar atau bermain seperti anak-anak yang lain. Sekarang kondisinya sangat jauh berbeda. Dia kini menjadi gadis cantik dengan percaya diri seperti anak gadis lainnya. Terima kasih untuk pemerintah yang telah mendaftarkan kami sebagai peserta JKN KIS yang tidak berbayar. Program ini sangat bagus dan membantu orang kecil seperti kami. Terima kasih juga untuk semua pihak yang membantu kami, memberi semangat agar kami bisa melewati ujian yang begitu berat dirasakan,” ujar ibu empat anak tersebut.

Rani pun bersyukur dengan kondisinya sekarang. Dia tumbuh menjadi gadis remaja dengan penuh harapan.

“Saya mau jadi guru kalau sudah besar. Guru itu pekerjaaan mulia,” katanya.

Andai kata sebut Rani, operasi yang dijalani dua tahun lalu tidak lancar dan sempurna, mungkin dia akan kehilang masa depan yang kini ditatapnya dengan semangat dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

“Terima kasih Tuhan. Terima kasih JKN KIS. Saya kini bisa melangkah dengan semangat menyambut masa depan yang terbentang luas di depan mata,” tutur gadis yang hobi memasak dan berenang tersebut.

Cakupan JKN di Sumbar

Pemerintah terus mendorong perluasan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) demi menjamin layanan kesehatan menyeluruh bagi seluruh warga negara.

Di Sumatera Barat, capaian signifikan berhasil ditorehkan. Hingga 1 April 2025, sebanyak 95,81 persen penduduk telah terdaftar sebagai peserta JKN, mendekati ambang batas Universal Health Coverage (UHC) yang ditetapkan pemerintah.

Dari total 5.820.359 jiwa penduduk Sumbar, sebanyak 5.576.696 orang telah terdaftar sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Baca Juga  BPJS Kesehatan Goes to Campus Digelar

Meski begitu, masih ada tiga kabupaten yang belum mencapai target UHC, yaitu:

Kabupaten Pesisir Selatan: 92,35%
Kabupaten Padangpariaman: 85,75%
Kabupaten Solok: 84,99%

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Padang, Dr. Fauzi Lukman, N. MM, Rabu (11/06/2025) di Padang mengatakan meskipun cakupan kepesertaan tinggi, tantangan utama justru datang dari sisi keaktifan peserta.

“Dari total peserta, hanya 74,27 persen atau 4.322.739 orang yang tercatat aktif dalam sistem. Ini menjadi perhatian serius karena tingkat keaktifan sangat mempengaruhi keberlangsungan sistem JKN,” jelasnya.

Gotong Royong dalam Sistem JKN

Dr. Fauzi menggarisbawahi bahwa JKN adalah sistem gotong royong, tempat solidaritas menjadi tulang punggung. Biaya pengobatan satu peserta yang sakit ditopang oleh iuran peserta lain yang sehat.

“Misalnya, operasi jantung senilai Rp130 juta bisa tertutupi hanya dengan iuran Rp42 ribu per bulan dari sekitar 3.095 peserta lainnya. Ini contoh konkret bagaimana solidaritas bekerja,” jelasnya.

Ia pun menegaskan pentingnya meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga keaktifan kepesertaan demi memastikan sistem JKN tetap berjalan optimal dan berkelanjutan.

Segmentasi Kepesertaan JKN di Sumbar

Komposisi kepesertaan JKN di Sumbar berdasarkan data BPJS Kesehatan dibagi sebagai berikut:

Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN: 2.169.257 orang
PBI APBD: 1.225.078 orang
Pekerja Penerima Upah (PPU): 1.197.586 orang
Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU): 854.187 orang
Bukan Pekerja (BP): 130.588 orang

Kepesertaan JKN ini pada dasarnya juga bisa dikelompokan menjadi Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), yang didaftarkan oleh Kementerian Kesehatan berdasarkan pendataan Kementerian Sosial. Kemudian Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non-PBI) yakni mendaftar mandiri atau melalui dukungan pemerintah daerah.

Mekanisme pendaftaran pun disesuaikan berdasarkan kategori seperti; PPU didaftarkan kolektif oleh perusahaan atau instansi pemberi kerja, PBPU dan BP mendaftar mandiri bersama seluruh anggota keluarga, PBPU Pemda didaftarkan oleh dinas terkait di pemerintah daerah.

Sementara data total Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN di Sumbar mencapai 2.169.257 orang dan PBI APBD: 1.225.078 orang.

Di Indonesia, seperti dikutip dari laman anggaran.kemenkeu.go.id/in/, adapun cakupan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) per 31 Maret 2025 adalah 279,5 juta jiwa atau sekitar 98,3% dari total seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 284,4 juta jiwa penduduk Indonesia. Dari total peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tersebut, sejumlah 222,7 juta penduduk Indonesia atau 79,7% penduduk Indonesia merupakan peserta aktif Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang masih rutin melakukan pembayaran tagihan di setiap bulannya.

Dari total 222,7 juta penduduk yang masih menjadi peserta aktif terbagi menjadi 2 (dua) kelompok yang terdiri dari:

Penerima Bantuan Iuran JKN sejumlah 96,7 juta orang penduduk yang ditujukan untuk fakir miskin dan orang tidak mampu yang mendapatkan jaminan kesehatan dengan iuran dibayarkan oleh pemerintah
Non Penerima Bantuan Iuran JKN sejumlah 125,9 juta penduduk yang membayar iuran JKN secara mandiri. Peserta ini terdiri dari pekerja yang menerima upah (PPU), pekerja bukan penerima upah (PBPU), dan bukan pekerja, termasuk PNS, karyawan swasta, wiraswasta, dan masyarakat umum yang mampu membayar iuran.

Ilma Khairani satu dari jutaan penduduk Indonesia yang telah merasakan manfaat program JKN-KIS. Yunisma