PADANG-Hak Atas Kekayakaan Intelektual (HAKI) menurut Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Harry Alexander, bisa digunakan sebagai agunan pembiayaan untuk mendapatkan modal.
Hal itu ia ungkapkan dalam seminar dengan tema ‘Smart Entrepreneur dan Spirit Haji Muda” di Universitas Andalas (Unand), Kamis (2/11).
Kegiatan seminar ini, merupakan sinergi BPKH dengan mitra dari lembaga pendidikan tinggi yaitu Unand. Menurutnya, BPKH terus menumbuhkan semangat wirausaha dengan basis underlying yaitu HAKI.
“Seminar ini mengajak peserta untuk memahami pentingnya HAKI, sebagai intangible asset yang dapat digunakan sebagai agunan pembiayaan. Pada akhirnya mereka dapat menjadikan HAKI sebagai tools dalam leverage usahanya,” katanya.
Menurutnya, mahasiswa jangan melulu berfikir menjadi pegawai, tetapi harus juga berfikir bagaimana menjadi pengusaha yang kreatif dengan basis agunan HAKI.
“Jadi tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini yaitu menumbuhkan spirit kewirausahaan di kalangan mahasiswa, untuk menjadi pelaku usaha/enterpreneur di masa depan,” tambahnya.
BPKH ingin memberikan informasi dan saran dari para ahli kepada peserta, mengenai peluang usaha di industri kreatif, dengan mengoptimalkan pengelolaan HAKI, mempersiapkan pengusaha muda yang memahami prinsip syariah dalam pengelolaan usaha dan pengelolaan keuangan dan perbankan, serta memberikan spirit dan edukasi bagi mahasiswa untuk merencanakan haji di usia muda.
“Ultimate goals dari pelaksanaan seminar ini, generasi muda dapat berdikari secara ekonomi yang mampu merencanakan ibadah haji di usia muda,” ujarnya.
Sementara Bank Muamalat Indonesia sebagai entitas anak usaha BPKH, menjadi digital business BPKH
dalam melayani berbagai macam kebutuhan layanan keuangan, termasuk layanan dalam aplikasi mobile banking MDIN untuk transaksi dalam satu genggaman saja.
Hadir sebagai pembicara pada acara tersebut yaitu Ahmad Syafrudin Indrapriyatna selaku Dekan Fakultas Teknologi Informasi UNAND, Ari Juliano Gema selaku partner at Assegaf Hamzah & Partners, Ronald Rulindo selaku Isamic Business and Finance Advisor, Tika Arundina selaku Director of Islamic Economics Program Universitas Indonesia, dan Dedi
Suryadi selaku SEVP Retail Banking Bank Muamalat.
“Alhamdulillah, Bank Muamalat mencatatkan total aset sebesar Rp63,9 triliun, atau tumbuh 6,7% secara year on year (yoy) pada semester I 2023. Pencapaian ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah bank pertama murni syariah ini berdiri,” kata Dedi Suryadi.
Total modal Bank Muamalat tercatat sebesar Rp7,0 triliun per 30 Juni 2023. Adapun rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 31,28% per akhir Juni 2023, berada jauh di atas ambang batas ketentuan regulator.
Bank Muamalat juga berencana mencatatkan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) di 2023 ini. Bank Muamalat sendiri telah menjadi perusahaan terbuka sejak tahun 1993, tetapi sahamnya belum tercatat di BEI. (Hendri)












