BI-Rate Tetap 5,75%, Perkuat Stabilitas, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

 

FOTO BERSAMA – Para petinggi BI foto bersama setelah acara. (Ist)

Padang – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah, di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada tahun 2026 dan 2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

BI terus memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA). Sementara kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat, guna meningkatkan kredit/pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendukung kegiatan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, seperti dikutip dari website resmi BI, Kamis (24/9).

Ia mengatakan, arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, juga didukung dengan langkah-langkah kebijakan yakni memperkuat efektivitas implementasi kebijakan moneter untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah, menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1% dan menjaga kecukupan likuiditas Rupiah,

Baca Juga  Tim Klewang Polresta Padang Tangkap Pencuri Gawai

Memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar Rupiah, sekaligus mendukung upaya menjaga kecukupan likuiditas Rupiah. Memperkuat efektivitas implementasi Kebijakan Makroprudensial akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Memperkuat akselerasi akseptasi digital melalui kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, BI, Otoritas Jasa Keuangan, dan asosiasi industri dalam penyelenggaraan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit and Expo (FEKDI dan IFSE) 2026 pada 24 s.d. 26 September 2026. Kegiatan ini merupakan wujud sinergi berbagai inisiatif untuk memperkuat dan memperluas kerja sama internasional di area kebanksentralan termasuk konektivitas sistem pembayaran dan transaksi menggunakan mata uang lokal, termasuk penambahan Singapura sebagai mitra baru LCT pada Agustus 2026.

“BI terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya menjaga stabilitas perekonomian dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tambahnya.

Prospek perekonomian global belum kuat disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Tensi perang di Timur Tengah yang kembali meningkat, semakin mendorong tingginya harga minyak yang sempat menyentuh USD132 per barel sebelum kemudian kembali turun ke level di bawah USD100 per barel pada 22 September 2026.

Harga berbagai komoditas dunia turut mengalami kenaikan. Pertumbuhan ekonomi global 2026 diprakirakan masih lemah sekitar 3,0% dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4,6%. Kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, termasuk kenaikan suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), Fed Funds Rate (FFR), menjadi 3,75-4,00% pada September 2026 dengan kemungkinan peningkatan kembali yang masih tinggi.

Baca Juga  Peringatan Sebelas Tahun Gempa Padang, Plt Walikota Tabur Bunga

Imbal hasil (yield) US Treasury juga meningkat seiring ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran Pemerintah AS yang besar. Preferensi investor global terhadap investasi portofolio ke negara Emerging Markets tertahan dan berdampak pada tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju dan negara berkembang.

Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu terus didorong dengan mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi. Perkembangan terkini menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap terjaga, ditopang besarnya berbagai stimulus fiskal Pemerintah serta mulai menguatnya keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen. Investasi juga tetap tumbuh baik terutama ditopang oleh investasi Pemerintah di tengah peran investasi swasta yang perlu terus ditingkatkan.

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat, untuk mendukung ketahanan eksternal di periode meningkatnya ketidakpastian global. Neraca perdagangan periode Juli 2026 mencatat surplus sebesar 0,12 miliar dolar AS, setelah pada bulan sebelumnya mencatat defisit 0,45 miliar dolar AS. (Hendri)