Padang  

Belajar Tatap Muka, Dilema di Tengah Pandemi

TANPA SERAGAM - Suasana siswa saat belajar tatap muka di sekolah tanpa menggunakan seragam sebagaimana kebijakan Pemko Padang. (bambang)
TANPA SERAGAM - Suasana siswa saat belajar tatap muka di sekolah tanpa menggunakan seragam sebagaimana kebijakan Pemko Padang. (bambang)

PADANG – Kota Padang menjadi salah satu daerah dari enam kota dan kabupaten di Indonesia yang harus menjalani Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 dari periode 5-18 Oktober 2021 yang akan datang.

Namun, meski berstatus PPKM level 4, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tetap dilakukan Pemko Padang, walau tanpa seragam sekolah.

Keputusan tetap melaksanakan PTM itu, dikeluarkan Pemko Padang, Selasa (5/10) malam. Surat edarannya bahkan tiga kali mengalami perubahan dalam sehari. Awalnya belajar tatap muka tanpa seragam, berubah ke daring, kembali lagi tatap muka tanpa seragam.

Pj Sekda Kota Padang Arfian mengungkapkan proses PTM di Kota Padang akan terus dilanjutkan walau PPKM Level 4 di berlakukan di Kota Padang.

“Ini menjadi dilema bagi kita. Sudah 1,5 tahun anak belajar secara daring. Oleh karena itu, sudah banyak desakan agar pembelajaran tatap muka kembali dilakukan,” katanya.

Dalam melaksanakan PTM, pihaknya meminta meminta Dinas Pendidikan agar mengawasi protokol kesehatan (prokes) dengan ketat di sekolah.

PTM itu sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak Senin (4/10) kemarin. Selama dua hari, siswa sempat menggunakan seragam sekolah. Namun, pasca keluarnya keputusan pemerintah pusat bahwa Padang masih PPKM level IV, maka Pemko mengambil kebijakan PTM tanpa seragam mulai Rabu.

Wali Kota Padang Hendri Septa melalui Juru Bicaranya, Amrizal Rengganis mengatakan, pembelajaran tatap muka tetap berlanjut, dengan tetap menjaga prokes.

Pembelajaran tatap muka dilaksanakan juga karena saat ini vaksinasi di Kota Padang sudah melebihi syarat minimal 37 persen, yakni mencapai 39 persen saat ini.

Keputusan pelaksanaan PTM itu mendapat dukungan sejumlah pihak. Seperti Kepala SD Negeri Percobaan Indra Gustadi yang tetap berharap PTM tetap berlanjut.

Dia mengatakan, pihak sekolah sudah sangat siap menjalankan PTM dengan sarana dan prasarana protokol kesehatan yang memadai.

“Kalau boleh saya mewakili pihak sekolah, orangtua, dan masyarakat secara umum, kita tetap berharap PTM terus berlanjut. Kita sudah siap dari segi sarana prasana protokol kesehatan,” katanya.

Baca Juga  Usai Lebaran, Satpol PP Padang Kembali Tertibkan PKL

Dia menjelaskan, dari segi efektivitas, metode pembelajaran tatap muka jauh lebih efektif dibanding belajar daring.

“Belajar dengan bertemunya siswa dan guru secara langsung jauh lebih efektif dan siswa lebih mudah memahami pelajaran dibanding belajar dari rumah,” katanya.

Menurutnya, jika dilihat saat ini, yang menyebabkan Padang masih berada di PPKM level IV karena rendahnya capaian vakinasi. Sementara tingkat penyebaran covid-19 sudah jauh menurun.

“Untuk sekolah pun kita memberlakukan Prokes dengan ketat. Begitu siswa atau siapapun yang akan masuk ke lingkungan sekolah, kita akan cek suhu tubuh dengan thermogun. Lalu diwajibkan cuci tangan dan menjaga jarak,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Komisi IV DPRD Padang Azwar Siry menyambut baik pelaksanaan PTM itu meskipun masih terbatas meski tanpa seragam.

“Kita tentunya bersyukur belajar tatap mulai kembali dilaksanakan, karena belajar secara tatap muka jauh lebih efektif dari belajar dengan metode apapun. Kita perlu berterima kasih kepada Pemerintah Kota Padang terutama Dinas Pendidikan yang tatap melanjutkan PTM,” ujarnya.

Dia katakan, keberlangsungan belajar tatap muka itu sangat tergantung oleh kepedulian semua pihak, mulai dari anak didik, para pendidik, orang tua murid, dan semua masyarakat.

“Untuk itu, diharapkan dukungan dari semua pihak agar belajar tatap muka itu tidak terputus di tengah jalan, akan tetapi bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Fitri Arsih menekankan, saat ini siswa sangat membutuhkan pembelajaran secara luring, apalagi orang tua pada saat ini tidak bisa menuntun anak dalam proses pembelajaran di rumah.

“Sebenarnya pembelajaran tatap muka di level 4 ini menjadi dilema. Tetapi siswa sangat butuh kehadiran guru, karena orang tua tidak mampu membimbing dan mengajar anak di rumah. Oleh karena itu, pemberlakukan pengawasan prokes yang ketat selama tatap muka sangat dibutuhkan. Sekolah harus menjadi sekolah sehat, dalam menjalankannya,” ucapnya.

Menanggapi proses pembelajaran secara luring tiga hari di sekolah dan tiga hari secara daring, Fitri Arsih menjelasakan sistim pembelajaran campuran (blended learning) sangat dibutuhkan pada saat pandemi seperti saat ini.

Baca Juga  Dosen PGSD UBH Berikan Pelatihan dan Pembimbingan UMKM Susu Sapi Murni

“Kehadiran guru sangat dibutuhkan untuk memberikan pengarahan secara luring untuk mata pelajaran IPA, Bahasa Inggris, dan Matematika. Tidak semua orang tua menguasai tiga mata pelajaran tersebut,” tutupnya.

Pun demikian dengan kalangan orang tua siswa. Seperti dikatakan Eriandi (44 tahun). Dia menilai selama lebih dari setahun belajar di rumah, sangat tidak efektif.

“Anak-anak sulit menangkap dan memahami pelajaran. Anak hanya diberi tugas melalui WA grup tanpa dijelaskan oleh guru. Jadilah anak belajar dari google atau malah orangtuanya yang mengerjakan tugas itu,” katanya.

Sementara itu, bagi Evy (43 tahun) yang mengaku senang meskipun terselip perasaan was-was. Evy meragukan prokes yang dijalankan di sekolah benar-benar dijalankan dengan sempurna.

“Jujur, ada suka dan dan ada kekhawatiran ketika PTM kembali dilaksanakan. Sukanya, sebagai orang tua, guru bisa memberikan bahan ajar langsung kepada siswa, dan kami tidak kerepotan lagi di rumah. Yang ditakutkan, apakah sekolah benar-benar melakukan pengawasan prokes dengan ketat. Sebagai informasi saja, anak saya asma,” ucapnya.

Pakar kesehatan dari Pusat Kajian Lingkungan Hidup (PKLH) UNP dr. Elsa Yuniarti M.Biomed, AIFO-K mewanti-wanti jika PTM terus dilanjutkan sekolah harus komitmen dalam menjalankan protokol kesehatan.

“Ingat, Sumbar pernah masuk dalam 6 provinsi pencipta cluster sekolah berdasarkan data dari Kemendikbudristek 23 September 2021 yang lalu. Kuncinya PTM adalah prokes yang ketat. Pada saat ini banyak kita lihat pelajar saling berinteraksi tidak memakai masker. Parahnya, prokes yang tidak ketat juga dilakukan oleh para staf pengajar,” ucapnya.

Selain itu, Elsa Yuniarti meminta dinas kesehatan dan dinas pendidikan untuk mengevaluasi kesiapan sekolah dalam menjalankan PTM.

“Pemerintah harus melakukan sidak mendadak ke sekolah. Jika sekolah belum bisa menjalankan proses dengan ketat, sekolah tersebut sebaiknya belum bisa melakukan PTM,” tegasnya. (benk)