Sawahlunto — Upaya pengembangan peternakan itik di kawasan bekas tambang batubara Simpang Napar mulai membuahkan hasil menggembirakan. Hal tersebut disampaikan peternak itik Jaswandi yang juga Wakil Ketua DPRD Sawahlunto.
Menurut Jaswandi, pada tahap awal, pihaknya menebar 2.500 ekor itik. Hasilnya, dalam waktu enam bulan itik-itik tersebut sudah mulai bertelur secara rutin.
“Rata-rata setiap pagi dihasilkan sekitar 1.000 butir telur. Ke depan, produksinya akan terus meningkat, bahkan pada puncaknya tingkat keberhasilan bisa mencapai 85 hingga 95 persen, atau setara 2.100 butir telur dari 2.500 ekor itik,” jelasnya saat diwawancarai topsatu.com, Kamis (8/1).
Telur itik tersebut dijual dengan harga Rp65 ribu per 30 butir. Jaswandi menargetkan, ke depan jumlah itik yang dipelihara di kawasan tersebut dapat mencapai 50 ribu ekor.
Selain menghasilkan telur dalam jumlah besar, kotoran itik dimanfaatkan sebagai pupuk kandang untuk mendukung pertanian terpadu. Tanaman yang dikembangkan antara lain jagung, alpukat, tebu, rumput raja, mangga, serta berbagai jenis sayuran kebutuhan dapur, terutama cabai yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran.
“Kawasan bekas tambang seluas kurang lebih 10 hektare ini akan kita jadikan kawasan terpadu. Nantinya masyarakat Sawahlunto bisa belajar sekaligus berwisata ke sini, bahwa lahan bekas tambang yang semula tandus, jika dikelola dengan baik, dapat memberikan manfaat dan nilai ekonomi,” ujar Jaswandi.
Sementara itu, karyawan kandang itik, Anto dan Jun, saat ditemui ketika membersihkan telur hasil panen, menjelaskan bahwa telur-telur tersebut terlebih dahulu dibersihkan sebelum diletakkan ke dalam lapik dan siap dipasarkan.
“Telur dibersihkan dulu sebelum dikemas agar kualitasnya tetap terjaga,” kata Anto.
Saat ini, pasar telur itik dinilai masih terbuka lebar. Bahkan ke depan diupayakan mampu memenuhi permintaan dari daerah Batam dan Pekanbaru. (sbd)












