PADANG-Musibah kebakaran hebat yang menimpa usaha Nurhayati Subakat beberapa tahun diawal berdiri perusahaannya, tak membuat semangat pemilik PT Pusaka Tradisi Ibu yang kini telah berubah menjadi PT Paragon Technology and Innovation, itu padam.
Buah cinta pasangan Nurjanah dan Abdul Muin Saidi itu bangkit dan tak larut dalam kesedihan. Penyemangat adalah para karyawannya yang kehilangan pekerjaan untuk mencari nafkah keluarga.
“Ujian yang saya jalani ketika itu lebih berat dari masa pandemi Covid-19. Tempat usaha dan rumah saya habis terbakar,” kenang Nurhayati, yang menjadi pembicara pada program Fellowship Jurnalis Pendidikan Angkatan IV, yang diselenggarakan oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan berkolaborasi dengan PT Paragon Technology and Innovation, Rabu (9/3/2022), via zoom metting.
Pasca musibah besar itu keuangan Nurhayati sangat minus, sebab punya banyak hutang dengan suplier. Faktur-faktur banyak terbakar. Meski demikian lulusan Pondok Pesantren Diniyah Putri Padang Panjang (1963-1967) itu bangkit dan memulai usahanya kembali.
“Kenapa saya bisa bangkit kembali? Ini karena faktor kepedulian saya terhadap karyawan yang kehilangan pekerjaan. Jumlah karyawan saya ketika itu 25 orang. Dan musibah itu datang ketika bulan Ramadan. Jika saya tutup dan tidak memulai usaha kembali, tentu karyawan tidak dapat THR. Mereka tak ada pekerjaan. Dan jika saya tutup tentu tidak akan bisa membayar hutang,” bebernya, menjemput masa lalu.
Dalam pikiran penerima penghargaan Minangkabau Award 2015 itu, jika dia berpikir untuk diri sendiri, usaha yang dijalaninya bisa saja ditutup. Sebab suaminya punya penghasilan yang cukup untuk keluarganya. Namun karena memikirkan kondisi puluhan karyawannya, dia bangkit dan memulai usaha kembali.
Tak sampai satu tahun, perempuan kelahiran Padang Pang 27 Juli 1950
kembali membangun rumah dan sebuah pabrik kecil. Usahanya terus berkembang hingga tantangan dan rintang kembali menghadang. Pada 1998 Indonesia dilanda krisis moneter. Namun, lagi-lagi Tuhan memberi jalan keberuntungan bagi usaha yang dijalani Nurhayati. Saat krisis moneter banyak pengangguran. Perusahaannya membuka peluang untuk para pengangguran itu. Tentunya dengan menerapkan prinsip yang ada diperusahaanya. Dengan kerjasama dan keyakinan, Nurhayati bisa melewati krisis ekonomi bahkan mendapat untung lebih.
Tahun berganti, usaha kosmetik yang dijalani Nurhayati terus berkembang dan mendapat tempat dihati masyarakat Indonesia bahkan sejumlah negara.
“Saya beberapa kali menemukan momentum yang pas, tatkala kondisi ekonomi di negara kita serba sulit. Dan saya percaya momentum itu adalah pertolongan Allah yang kesekian kalinya untuk usaha yang saya jalani,” sebut Nurhayati.
“Kuncinya kita tidak pernah berhenti, selalu ikhtiar,” sambung perempuan yang ke masuk dalam 100 tokoh wanita paling berpengaruh dalam sepanjang sejarah Indonesia itu.
Gagal jadi Dosen
Semasa mengecap pendidikan di perguruan tinggi Nurhayati Subakat adalah lulusan terbaik, Apoteker ITB 1976 dengan mendapat KALBE FARMA AWARD) dan Sarjana Farmasi ITB 1975. Berbekal ijazah itu dia pun melamar menjadi dosen.
Namun dua ijazah dengan lulusan terbaik itu tak membawanya ke profesi sebagai seorang dosen.
“Saya juga heran, lulusan terbaik kok ga bisa diterima jadi dosen ya ?” kenang, istri dari Subakat Hadi itu.
Tak berhasil menjadi dosen, Nurhayati memutuskan pulang kampung ke Padang Panjang. Dia bekerja di RSUP M. Djamil Padang dan menjadi pegawai honorer dengan gaji Rp20 ribu selama 1,5 tahun. Hingga akhirnya dia bertemu pasangan hidup dan memboyongnya kembali ke Tanah Jawa.
“Saya juga sempat jadi calon PNS tapi karena susah mengurusnya akhirnya saya tinggalkan,” sebutnya.
Lalu ibu tiga anak itu kembali mencoba peruntungan di Jakarta dengan memasukkan lamaran ke sebuah apoteker. Lagi-lagi, lamarannya tak diterima.
Nurhayati tak putus semangat, dia pun mendapat info soal lowongan kerja di perusahaan Jerman yang bergerak kosmetik.
Di perusahaan itu dia banyak mendapat pengalaman tentang kosmetik. Nurhayati pun tenggelam sebagai pekerja. Sebab CEO tempat dia bekerja memberi kemudahan dalam hal mengurus anak. Namun, saat CEO perusahaan berganti, kenyamanannya dalam bekerja mulai terusik. Sampai akhirnya dia memilih mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.
“CEO yang baru itu sangat galak. Untung ada dia, kalau enggak mungkin saya masih jadi pekerja dan tidak punya perusahaan sendiri. Untuk menjadi sukses seseorang harus diuji dulu baru dapat lebih dari yang diinginkan,” ujarnya.
Menurut Nurhayati, kesuksesannya sebagai seorang pengusaha dengan sembilan brand saat ini bukan by disain tapi by accident.
Dalam hidup, Nurhayati mengusung prinsip bagaimana menularkan tujuan bermakna.
“Saya ingat saat pergi kerja dulu. Salman protes. Dia bilang kenapa ibu harus kerja, emangnya uang dari bapak ga cukup? Lalu saya menjelaskan kepada Salman, jika kita punya uang lebih kita bisa memberi ke orang lain,” sebutnya.
Seiring berjalannya waktu tiga anak-anak Nurhayati pun memahami prinsip hidup yang dipegang sang ibu. Hingga usaha mereka berkembang dan anak-anak Nurhayati menyaksikan kebermanfaatan yang diberikan untuk orang lain.
Sebagai pengusaha besar, yang paling berpengaruh di Indonesia dan sejumlah negara, Nurhayati berkeinginan bagaimana menjadi raja di negeri sendiri.
Saat ini bisnis Nurhayati telah menjadi pemimpin pasar dengan pabrik seluas 20 hektar dengan lebih dari 12 ribu karyawan yang ia sebut paragonian. Pusat distribusinya kini telah mencapai 41 unit.
Pendidikan Nomor Satu
Saat duduk di bangku SMP, Abdul Muin, ayahanda Nurhayati berpulang ke Rahmatullah. Sang ayah ketika itu adalah tokoh Muhammadiyah Padang Panjang, Sumbar, yang dikenal sebagai orang berpendidikan.
Sepeninggal sang ayah, ibunya terus bertekad menyekolahkan delapan anaknya hingga perguruan tinggi. Bagi sang ibu pendidikan adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar.
Nurhayati sendiri merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia mengambil jurusan farmasi tahun 1975 dan menyabet gelar sebagai lulusan terbaik. Setahun berikutnya ia melanjutkan pendidikan profesi apoteker dan dia pun menjadi lulusan terbaik.
“Setelah ayah saya meninggal, kawan-kawan ayah bilang ga usah sekolah tinggi. Bagusnya berdagang saja, sini saya ajarkan cara berdagang. Namun ibu saya tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Kami, anak-anaknya harus sekolah dan lulus perguruan tinggi, meski dengan kondisi susah payah,” ujarnya.
Menurut Nurhayati,dalam mendidik anak-anaknya ayah dan ibunya selalu menerapkan iman dan takwa serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Prinsip itu pun ditularkannya pada anak-anak, menantu hingga cucu.
“Satu kata yang sering dikatakan ibu, jangan kuatir, setiap kesulitan ada kemudahan. Insipirasi orangtua sampai sekarang kami pakai. Peduli lingkungan dan masyarakat,” tambahnya.
Saat ini, PT. Paragon Technology and Innovation, merupakan generasi ketiga, yang tetap mengedepankan pentingnya pendidikan. Anggota Majelis Wali Amanat ITB ini dengan yakin mengatakan bahwa pendidikan adalah kunci untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Hal itu kemudian menjadi salah satu pilar Corporate Social Responsibility. Melalui pendidikan, nasib seseorang akan berubah, rantai kemiskinan pun dapat diputus, tentu ini akan mengubah nasib seluruh bangsa.
Paragon sendiri telah memberi beasiswa kepada lebih dari 600 putra-putri bangsa. Program magang, riset bersama kampus, wadah pengembangan mahasiswa, program Master Class, Generasi Relawan, hingga Jaringan Penggerak Pendidikan Semua Murid Semua Guru telah dilakukan oleh perusahaan.
Saat ini PT. Paragon memiliki sembilan brand kosmetik. Seperti Putri, Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Laboré, Biodef, Instaperfect, dan Crystallure.
“Visi kami bukan hanya sekedar mencari uang tapi juga bagaimana perusahaan ini bermanfaat untuk orang lain,” ucap penerima ESQ Award tahun 2018 itu. (*)












