Baru 40 Kapal Nelayan di Meranti yang Beli Minyak Pakai Barcode

SELATPANJANG – Kini, seluruh nelayan yang ingin mendapatkan minyak bersubsidi harus membeli menggunakan barcode. Dimana Barcode tersebut didapatkan melalui penginputan di aplikasi XStar.

Aplikasi milik Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) ini bertujuan guna memastikan Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin tepat sasaran.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Perikanan diminta dapat mensosialisasikan pemanfaatan aplikasi ini oleh nelayan secepat mungkin.

Sehingga tahun depan (2026) seluruh nelayan sudah bisa mendapatkan BBM subsidi melalui sistem barcode.

“Hingga kini baru sekitar 40 nelayan di Meranti yang terdaftar di aplikasi XStar dan mendapatkan barcode untuk bisa mendapatkan BBM subsidi. Dengan total BBM subsidi jenis solar sebanyak 25.350 liter yang sudah dimanfaatkan,” ungkap Kepala Dinas Perikanan Kepulauan Meranti, Ahmad Yani, Rabu (10/9/2025).

Secara rinci, jumlah nelayan yang sudah memiliki barcode pada bulan Agustus 2025 sebanyak 20 kapal dengan jumlah pembelian Solar sebanyak 14.900 liter.

Sementara hingga 10 September 2025, sudah 20 kapal nelayan lagi tambahan yang sudah memiliki barcode dan sudah membeli sebanyak 10.450 liter.

Baca Juga  Tiga PJU Polres Meranti Sertijab, Ini Pesan Kapolres

Menurut Ahmad Yani, jumlah tersebut masih jauh dari jumlah nelayan yang terdaftar memiliki kapal. Dari data Diskan Meranti, dari sebanyak 3.092 jiwa nelayan yang terdaftar, setidaknya ada sebanyak 1.342 unit kapal.

Artinya, masih sangat sedikit yang menginput data di aplikasi XStar untuk mendapatkan barcode BBM subsidi.

“Ini yang menjadi tantangan kita. Kita terus mendorong nelayan untuk bisa memenuhi syarat sehingga bisa kita dafarkan dan input di aplikasi XStar. Sehingga seluruh nelayan kita bisa mendapatkan barcode BBM subsidi,” harapnya.

Diakui Ahmad Yani bahwa sejumlah kendala yang saat ini dihadapi nelayan di Meranti untuk mendapatkan barcode diantaranya, sulitnya memenuhi persyaratan. Khususnya untuk mendapatkan pass kecil dari KSOP.

“Selain itu, jarak tempat tinggal dan wilayah tangkap nelayan, jauh dari lokasi Agen Penyalur Minyak Subsidi (APMS). Sehingga untuk mendapatkan BBM subsidi harus menghabiskan minyak yang tidak sedikit. Makanya banyak nelayan lebih baik membeli BBM subsidi ini dari tangan kedua atau ketiga yang harganya relatif lebih mahal. Karena biaya untuk menjemput ke APMS juga menghabiskan biaya yang cukup besar. Belum lagi habis waktu di jalan. Jadi dianggap kurang efektif. Dan ini menjadi tantangan kita saat ini,” terangnya.

Baca Juga  DPRD Meranti Evaluasi Soal Kegiatan Tunda Bayar 2025 ke BPKAD

“Belum lagi, dengan ekonomi nelayan yang didominasi masyarakat susah, minyak yang akan dibeli tidak bisa banyak karena keterbatasan keuangan. Dengan berbagai macam kerepotan tersebut membuat nelayan tetap membeli BBM Subsidi dari tangan kedua dan ketiga. Walaupun lebih mahal tidak merepotkan dan membuat lebih merugikan,” tambahnya.

Meski begitu, Kadiskan Kepulauan Meranti tersebut akan terus melakukan sosialisasi dan mencari jalan keluar agar BBM Subsidi ini bisa dihadirkan lebih dekat dan mudah didapat. Yang peling penting bagaimana harga nya bisa didapatkan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Penulis: Ahmad Yuliar