PADANG – Berangkat haji usia muda sangat dianjurkan, karena akan banyak manfaat yang diberikan. Yang jelas berangkat haji di usia muda akan menyempurnakan pelaksanaan ibadah haji.
Demikian disampaikan Harry Alexander Anggota Badan Pelaksana BPKH (Badan Pelaksana Keuangan Haji) RI dalam acara talkshow di Radio Sushi 99.1 FM bersama Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari Havid Dauli. SPt, Selasa pagi (3/3).
Menurut Harry, anak muda yang berangkat haji akan merasakan bagaimana ia menerima manfaat dari ibadahnya. Ia bisa bergaul dengan anak-anak muda muslim dari seluruh dunia.
Ia akan memahami karakter dan budaya berbagai bangsa di dunia. Bahkan kalau ia aktif, bukan tidak mungkin bisa berkomunikasi lebih lanjut untuk berbagai bidang kegiatan.
Pada sesi kedua BPKH RI kembali talkshow dengan judul, From Start up to Baitullah : Entrepreneur muda dukung transformasi digital haji.
Dalam diskusi ini Harry Alexander Anggota Badan Pelaksana BPKH mengatakan bahwa diangkat judul ini bertujuan melakukan antisipasi terhadap perkembangan dan kemajuan digital saat ini.
Sebagai badan pengelola keuang haji, Harry dan Ronald Rulindo Co- Founder dan Pembina Yayasan Inovasi Kebaikan Berkelanjutan mengatakan bahwa kemajuan teknologi dan digital sangat luar biasa. Kita harus melakukan antisipasi, apalagi tidak ingin tertinggal.
Anak muda jangan hanya menyediakan uang dan kesehatan untuk ikut haji, tetapi juga paham teknologi dan digital. Tanpa menguasai teknologi, anak muda Indonesia akan ketinggalan dalam berbagai hal. Contoh sekarang, sebagian orang tidak menggunakan uang kertas lagi, tetapi berubah ke uang elektronik.
BPKH sangat menyadari kemajuan seperti ini. Oleh sebab itu mereka mengajak generasi muda untuk menguasai segala bentuk kemajuan teknologi digital, sekaligus bisa menggunakan sebagai enterpreneur.
Tidak jauh-jauh, dalam talkshow itu Harry menyebut dua contoh Kodak dan Compact disc atau media penyimpanan data. Padahal kedua alat itu dipandang sebagai alat yang canggih. Sekarang apa yang kita lihat, ditelan zaman keduanya. Generasi Indonesia tidak boleh seperti itu. Mereka harus adaptif menghadapi disruptive innovation yang selalu datang lebih cepat dan menganggu, kata Harry dan Ronald.(Soe)












