PADANG – Panjangnya daftar antrean porsi haji di Provinsi Sumatera Barat yang saat ini mencapai kisaran 26 tahun menuntut calon jemaah untuk berbenah sejak dini. Masa tunggu yang lama hendaknya tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan kesempatan emas untuk melakukan persiapan ibadah secara matang dan terstruktur.
Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sumatera Barat, Muhammad Rifki, dalam kegiatan Sosialisasi Literasi Keuangan Haji bersama PT Semen Padang Group. Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari 107 ribu pendaftar haji yang terdata di wilayah Sumatera Barat.
Rifki menjelaskan bahwa rentang masa tunggu puluhan tahun tersebut harus diisi dengan persiapan yang produktif. Persiapan tersebut mencakup aspek pemeliharaan kesehatan fisik, penyelesaian kelengkapan administrasi, hingga pendalaman ilmu manasik dan pemahaman tata cara ibadah secara komprehensif.
Ia juga berharap insan Semen Padang Group yang telah mendapatkan pembekalan literasi keuangan ini dapat menjadi agen informasi dan penggerak bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya. Edukasi mengenai pentingnya mendaftar haji sejak dini harus disebarluaskan secara masif di tengah masyarakat.
Penjelasan teknis mengenai tata cara pelayanan dan regulasi pendaftaran haji terkini turut dipaparkan oleh Kepala Bidang Pelayanan Haji dan Umrah Kemenhaj Sumbar, Yudi Hidayat. Ia merincikan alur pendaftaran formal agar masyarakat terhindar dari informasi yang salah mengenai porsi keberangkatan.
Manfaat nyata dari kegiatan edukasi ini dirasakan langsung oleh Roni Putra, salah seorang karyawan PT Semen Padang. Ia mengaku sosialisasi ini berhasil menghapus keraguan finansial dan teknis yang selama ini menunda niatnya untuk mulai mendaftar porsi haji.
Roni menuturkan bahwa ketersediaan fasilitas pembukaan rekening tabungan haji langsung di lokasi acara sangat membantu dirinya. Kehadiran layanan instan ini menjadi pemantik motivasi yang kuat baginya dan keluarga untuk segera mengambil langkah pasti menuju Baitullah.
Pengalaman Roni menjadi bukti nyata bahwa penyediaan informasi yang jelas serta aksesibilitas layanan yang mudah sanggup menggerakkan niat pekerja muda untuk berkomitmen pada ibadah haji secara finansial.
Sinergi antara Kementerian Haji dan Umrah, BPKH, lembaga perbankan, dan BUMN ini diharapkan dapat terus berlanjut. Pendekatan terpadu ini terbukti efektif mengubah masa tunggu yang panjang menjadi masa persiapan yang terencana dan berdaya guna.
Melalui kesiapan fisik, finansial, dan pemahaman manasik yang dimatangkan selama masa tunggu, para insan pekerja diharapkan dapat menjalankan rangkaian ibadah haji secara sempurna, mandiri, dan meraih predikat haji mabrur saat kesempatan menapakkan kaki di Tanah Suci tiba. (*)












