Agam  

Ade Rezki Pratama: MBG adalah Investasi Nyata Menuju Indonesia Emas 2045

AGAM – Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar bantuan sosial biasa, melainkan langkah strategis pemerintah untuk memutus rantai stunting dan mempersiapkan “Modal Manusia” yang berkualitas demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

​Hal tersebut disampaikannya secara Daring dalam acara Sosialisasi Program Badan Gizi Nasional Bersama Mitra Komisi IX DPR RI yang berlangsung di Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Jumat (17/4). Sosialisasi itu menghadirkan Tenaga Ahli Direktorat Promosi dan Edukasi BKN Adib Al Fikri.

Sedangkan peserta sosialisasi diikuti oleh Camat Baso, walinagari dan perangkat se-Kecamatan Baso, TP PKK, kepala puskesmas, guru dan sejumlah tokoh masyarakat.

Ade menekankan bahwa kecukupan gizi adalah hak setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi orang tua mereka. Ia menyebutkan bahwa masalah ekonomi sering kali menjadi tembok penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan asupan mikro yang cukup.
​
​Selain kesehatan, MBG memiliki “Multiple Effect” yang luar biasa bagi perekonomian kerakyatan, khususnya di Agam. Program ini dirancang untuk menjadi katalisator bagi sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan di tingkat lokal.

Baca Juga  Sidak Dapur MBG Agam, Ade Rezki Pratama: Sudah Penuhi Standar Nasional

​Ade menyoroti fenomena klasik di mana petani sering kali merugi saat panen raya karena harga pasar yang anjlok.

Dengan adanya program MBG, bahan baku makanan seperti beras, sayur-mayur, telur, dan daging akan diserap langsung dari hasil bumi petani lokal di wilayah seperti Baso, Ampek Angkek, Banuhampu, hingga Sungai Pua.

​Bahan pangan dari petani akan diolah melalui dapur-dapur khusus (Satuan Pelayanan Badan Gizi Nasional) sebelum didistribusikan. Transaksi ekonomi akan meningkat berkali-kali lipat di pasar-pasar lokal dan nagari.
​
Sementara Camat Baso, Imran Pangaduan melaporkan MBG sudah mulai menyasar sekolah-sekolah di wilayahnya. Tak hanya itu, perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok prioritas yang disebutnya sebagai 3B, yaitu: Ibu Menyusui, Ibu Hamil, Balita

​”Meskipun saat ini progresnya belum maksimal karena masih ada dua titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dalam tahap pembangunan, kami terus bergerak,” ujar Imran optimis.

Baca Juga  Tokoh Pessel Ajak Masyarakat Kawal MBG dan Kopdes Merah Putih

Sedangkan Tenaga Ahli Direktorat Promosi dan Edukasi BGN Adib Al Fikri mengatakan MBG itu bukan sekadar pemenuhan kebutuhan perut, melainkan strategi besar yang menduduki peringkat pertama dalam delapan program hasil terbaik cepat (prioritas) pemerintah.

Ia menyoroti urgensi program ini di tengah masalah kesehatan nasional. MBG hadir sebagai intervensi langsung untuk mengatasi stunting pada balita.

Fokus utamanya adalah masa 1000 hari pertama kehidupan guna mencegah gagal tumbuh. Kemudian mengatasi Anemia pada Remaja. Khususnya bagi remaja perempuan yang sering mengalami kekurangan zat besi.

​Akses Pangan untuk mengatasi hambatan distribusi makanan bergizi di wilayah pelosok yang sulit mendapatkan sayuran dan protein.

​Meskipun pemerintah memberikan bantuan makanan, BGN menekankan bahwa peran orang tua tetap krusial. Makanan yang dibagikan dirancang untuk memenuhi 25% hingga 30% Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian. (gdo)