Padang  

Yulidarti, Cetak Puluhan Atlet Difabel Berprestasi Nasional hingga Internasional

Atlet renang difabel Nadila bersama sang pelatih Yulidarti di sela-sela latihan.

 

SIJUNJUNG-Melatih anak didik normal untuk berprestasi dalam dunia olahraga adalah hal biasa. Tetapi melatih anak didik yang kondisinya ‘tidak normal’ untuk berprestasi dalam dunia olahraga, tidaklah mudah. Sangat butuh keahlian khusus.

Itulah yang dilakoni Yulidarti, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Aisyiyah Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar). Di sekolah yang dia pimpin itu, dia juga memantau bakat anak didik di bidang olahraga, seni dan keterampilan sekaligus membimbing dan mengarahkan sesuai
bakatnya masing-masing.

Bahkan khusus renang, dia sendiri yang melatih anak didiknya. “Saya hobi renang dan pernah pula ikut pelatihan renang. Ini adalah bekal untuk melatih anak-anak. Alhamdulillah anak-anak mau dilatih,” kata Yulidarti kepada Topsatu.com di kolam renang Sungai Karang Tirta, Muaro Sijunjung, Sabtu (26/11/2022).

Saat itu Yulidarti sedang memberikan pengarahan kepada Nadila, atlet renang yang dipersiapkan untuk hadapi ajang SOWSG (Special Olympic World Summer Games di Jerman tahun 2023. Usai diberi pengarahan, Nadila pun, siap-siap terjun ke kolam renang. Yulidarti mengiringi Nadila dengan berjalan kaki di pinggir kolam renang.

Dialog di antara mereka pun terjadi. Yulidarti memberikan arahan dan petunjuk. Nadila mengiyakan dan menuruti. Mereka tampak akrab. Terbangun jalinan hati. Komunikasi mereka berdua nyambung meski kondisi berbeda. Yulidarti normal dan Nadila berkebutuhan khusus.

Nadila adalah atlet difabel cabang renang asal Payakumbuh, bukan berasal dari SLB Aisyiyah Sijunjung. Nadila (sebagai atlet renang) dan Yulidarti (sebagai pelatih renang) memang ditunjuk oleh Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia (SOIna) berdasarkan surat nomor Srt-086/PP-SOIna/IX-
2022 tertanggal 30 September 2022.

Dalam surat yang ditandatangani oleh Warsito Ellwein (Ketua Umum) dan Harison Sirait (Direktur Olahraga) dan ditujukan kepada Ketua Pengprov SOIna Sumbar, menyampaikan nominasi atlet dan pelatih dalam ajang SOWSG
di Berlin, Jerman pada 12-25 Juni 2023.

Pertengahan Oktober 2022, Neti mulai melatih Nadila dan Nadila sendiri tinggal bersama Neti selama latihan tersebut. “Latihannya tiga kali dalam seminggu. Senin, Kamis dan Sabtu, mulai pukul 05.30 sampai 07.30 Wib. Tiap Rabu sore selama sejam, latihan senam. Ini program yang diberikan ke kita sebagai pelatih untuk menyiapkan Nadila,” terang Yulidarti yang akrab disapa Neti.

Saat ini, sebutnya tinggal lagi menjalankan program itu sambil
memperbaiki gerakan Nadila yang masih ada yang diperbaiki. Tapi yang penting, harus berkesinambungan dan teratur. Itu yang diterapkan Neti kepada Nadila.

Dia berharap Nadila terus latihan renang dengan rajin dan serius, dapat mengukir prestasi di ajang SOWSG di Jerman.

Neti tak hanya melatih Nadila, tapi juga puluhan atlet renang lain di SLB Aisyiyah yang dia pimpin. Dan sudah banyak pula berprestasi sampai mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia. Dan yang teranyar adalah Meliana Ratih Pratama.

Meliana meraih medali emas dalam Asean Para Games XI, Agustus 2022 di Solo, Jawa Tengah.

Meliana turun di nomor 50 meter gaya punggung putri S14. Indonesia bangga. Sumbar juga bangga dengan raihan tersebut.

Meliana juga meraih medali perak dalam nomor gaya kupu-kupu S14. S14 adalah kelas lomba untuk atlet para tuna grahita.

Tuna grahita adalah kondisi di mana orang mengalami masalah kemampuan intelektual dan kognitif yang di antaranya dapat dikenali dari proses berpikir dan belajar yang lebih lamban. Penyebab umumnya adalah masalah selama kehamilan dan setelah anak dilahirkan.

Baca Juga  Gubernur Lantik 161 Kepala Sekolah SLTA Sederajat di Sumbar

Di sini, peran Neti ini terlihat sentral. Bukan hanya karena Neti yang mendorong Meliana menggeluti renang lebih dalam dengan cara mengikutkannya untuk kursus renang sejak kecil. Tetapi juga cara Neti mendorong Meliana untuk berprestasi dan percaya diri di bawah kondisi anak yang bagi kebanyakan orang tua merupakan hal yang sulit.

Neti memang sejak kecil mengasuh Meliana dan sudah menganggap Meliana sebagai anak sendiri. Dia tampaknya berhasil mengantarkan Meliana mengetahui dan merawat potensinya. Namun yang tak kalah penting adalah
menanamkan kepercayaan diri kepada anak yang jelas sangat instrumental dalam menapaki hidup dan kehidupan.

“Melatih atlet difabel sangat butuh pendekatan psikologis. Kesabaran kelas tinggi mesti dimiliki dan betul-betul dipapah. Bicara keras-keras, apalagi marah, atlet difabel itu akan ngambek. Tak mau lagi menuruti apa yang disuruh,” kata Neti.

Neti cukup memahami karakter anak disabilitas itu, karena memang didukung latar belakang pendidikan. Tamat S1 pada jurusan Pendidikan Luar Biasa di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP). Lalu dilanjutkan dengan S2 untuk program Manajemen Pendidikan.

BERSAMA-Yulidarti (berdiri sandang tas) bersama para atlet difabel yang semuanya berasal dari SLB Aisyiyah Sijunjung.

Cetak Atlet Usai Dirikan SLB

Setamat dari UNP, Neti mengabdi di SDLB 36 Muaro Sijunjung pada tahun 2005. Sewaktu mengajar di sini, dia melihat banyak siswa yang tidak sekolah. Karena di SDLB 36 Muaro hanya untuk tingkat SD saja sehingga siswa yang sudah lulus dari SD tidak dapat melanjutkan SMP dan SMA.

Selain itu juga banyaknya siswa yang memiliki keterbatasan tidak sekolah. Sekolah SLB di Kabupaten Sijunjung hanya ada di SLB N 1 Kamang Baru, SLB N 1 Muaro Sijunjung dan SLB Tunas Mulya Tanjung Ampalu.

Sementara banyak anak-anak yang tidak bisa bersekolah ke sana di karenakan jarak tempuh yang terlalu jauh dan keluarga yang kurang mampu. Mereka berasal dari daerah Tanjung Gadang, Aia Angek, Solok Ambah, Padang Sibusuk, Pematang Panjang, Kandang Baru, Lubuk Tarok, Batu Ajung dan banyak lagi.

Karena itulah dia berinisiatif membangun SLB Aisyiyah Sijunjung. Suami dan anak-anaknya mendukung. Didirikan pada 22 April 2013. SLB ini terdiri dari TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB Satu Atap. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan pendidikan, keterampilan, mendapatkan prestasi
dan bekal mereka untuk bekerja.

“Jadi, SLB ini melayani anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dan layanan khusus. Kami memberikan layanan pendidikan gratis kepada siswa dan tidak pernah dipungut biaya sedikitpun karena banyak dari orang tua siswa yang kurang mampu, ” katanya.

Setahun kemudian, pada 2014, siswa-siswi SLB Aisyiyah mewakili Sijunjung dalam Pekan Olahraga Disabilitas tingkat provinsi. Hasilnya dua emas didapat oleh Metri dalam cabang olahraga (cabor) tenis meja tunggal putri dan Teguh Imam Permana dalam cabor atletik nomor lari 100 meter putra.

Masih di tahun yang sama, Metri dan Teguh mewakili Sumbar dalam Pekan Olahraga Nasional (PORNAS) VII Special Olympics Indonesia (SOIna) di Makassar, Sulawesi Selatan. Metri raih medali emas. Teguh raih satu emas di nomor 100 meter estafet putra dan dan satu perak di nomor 100 meter
putra.

Tahun-tahun berikutnya, siswa-siswi SLB Aisyiyah terus mengukir prestasi. Setiap tahun, didapat. Tidak hanya Metri dan Teguh, juga para siswa-siswi lainnya, baik tingkat provinsi, nasional hingga internasional. Bahkan di antara mereka ada yang beberapa kali mendulang medali. Dari data sekolah, sejak 2015 sampai 2022, sudah 77 medali yang diraih puluhan siswa-siswi SLB Aisyiyah dalam berbagai event olahraga tingkat provinsi, nasional dan internasional. Di luar olahraga, seperti MTQ, menyanyi, hantaran, kecantikan, IT dan lainnya, sukses mendulang 17 medali dalam berbagai event tingkat provinsi dan nasional.

Baca Juga  Krisis Air Bersih Padang, Pemko dan Perumda AM Fokus Pulihkan IPA Rusak

Kepedulian Neti kepada anak disabilitas sekaligus antarkan puluhan siswa SLB Aisyiyah Sijunjung berprestasi, berbuah manis kepada dirinya. Dia diganjar penghargaan tokoh masyarakat peduli disabilitas tingkat Sumbar 2019. Penghargaan langsung diberikan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Dia bersyukur mendapatkan penghargaan itu dan berharap semua pihak lebih memperhatikan lagi penyandang disabilitas. Sebab hingga kini ketersediaan layanan dan sarana bagi difabel di Sumbar belum terpenuhi secara layak, terutama dalam bidang pendidikan.

Padahal, kata dia, anak-anak SLB sama dengan anak-anak lainnya. Akan tetapi, mereka seolah-olah dianggap sebelah mata. “Di sisi Allah kita sama. Saya ingin anak-anak disabilitas juga berhasil. Itu tekad saya,” ungkap perempuan gigih kelahiran Sijunjung, 7 Juli 1972 ini.

Kini, Neti tetap dan akan terus mengabdi di SLB Aisyiyah yang sudah memiliki 90 siswa-siswi dan berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sijunjung. Anak-anak tersebut berbeda tingkat disabilitasnya, ada yang autis, tuna runggu, tuna netra, hingga tuna grahita. Mengabdi sebagai kepala sekolah, guru sekaligus pelatih olahraga renang bersama 13 guru lainnya.

SLB ini pun juga sudah banyak meluluskan siswa-siswi dan mendapatkan banyak prestasi dari berbagai jenis cabang lomba, mulai tingkat kabupaten, provinsi, Nasional hingga internasional.

Siswa lulus yang memiliki prestasi pun juga diberikan pekerjaan dari sekolah. Misalnya menjadi penjaga sekolah dan menjadi instruktur di bidang olah raga atau guru pendamping. Sekolah juga turut mencarikan pekerjaan kepada siswa bagi siswa yang mampu. Seperti lima siswa telah bekerja di pabrik sepatu Yoesani Shoes Pariaman.

“Ini berkat kerja keras dan kerja sama antara yayasan, pimpinan, majelis guru serta instansi terkait Alhamdulillah sekolah bisa berkembang. Kami masih mengharapkan bantuan dari dermawan dan instansi terkait, ‘sebut Neti.

Saat pemberian bonus kepada atlet, ofisial dan pelatih atas raihan medali pada Paparnas XVI di Papua oleh Gubernur Sumbar di auditorium gubernuran, Rabu (16/11/2022), Neti ikut menerima sebagai pelatih renang.

“Semoga bermanfaat dan menambah motivasi untuk terus berlatih dan sukses di setiap pertandingan ke depannya, ” kata Gubernur diwakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar Dedy Diantolani dalam acara penyerahan bonus tersebut kepada atlet, pelatih dan ofisial yang berlaga di Jayapura itu.

Gubernur mengucapkan terimakasih kepada seluruh atlet, pelatih dan ofisial yang telah bekerja keras meraih prestasi terbaiknya pada Peparnas XVI di Papua 2021 serta berharap teruslah berlatih untuk meraih prestasi pada Peparnas berikutnya.

Ketua Special Olympics Indonesia (SOIna) Sumbar Harneli Mahyeldi juga bahagia atas raihan prestasi atlet difabel dan Kepala SLB Aisyiyah Sijunjung yang melahirkan cukup banyak atlet difabel berprestasi.

Makanya, Harneli mengajak semua pihak, memberikan ruang dan kesempatan terhadap penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Bahkan, sebut Harneli dengan ditunjuknya Yulidarti dan Nadila oleh SOIna pusat untuk disiapkan menghadapi ajang SOWSG di Jerman pada 2023 mendatang adalah kebanggaan bagi Sumbar. “Semoga sukses dan harumkan nama Sumbar di pentas dunia,” kata Harneli. (effendi)