Warisan Suami Dititipkan di BPJS Ketenagakerjaan

  • Bagikan
Foto bersama jajaran BPJamsostek dengan anak ahli waris peserta BPJamsostek yang menerima beasiswa. yuke

Oleh YUNISMA

WARTAWATI TOPSATU.COM

PADANG-Muslitawati, berkaca-kaca. Jika saja sekarang, ada suami di sisinya, akan ia peluk seerat yang ia bisa. Tak ada pria itu sekarang, ia sudah dipanggil Yang Kuasa. Lalu matanya menatap dua buah hatinya. Anak itu, menatap pula pada ibunya. Anak beranak ini lalu berpelukkan dan air mata pun mengucur deras.

Peristiwa dramatis itu terjadi di rumah mereka setelah selesai mengikuti serah terima
pemberian beasiswa pendidikan anak peserta program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) secara serentak di 33 provinsi di Indonesia, pada Rabu 21 April 2021 lalu, bertempat di ruang rapat Istana Gubernur.

Tahun 2019, menjadi sejarah baru bagi keluarga Muslitawati (48). Dia harus kehilangan suaminya, sebagai kepala keluarga. Tak terbayang olehnya bagaimana harus menghidupi empat anaknya yang masih usia sekolah pasca kepergian sang suami.

Ibu empat anak itu pun hilang harapan. Di tengah gelisah yang melanda jiwa raganya seseorang dari balik telepon genggam memberi kabar. Dia mengaku karyawan BPJS Ketenagakerajaan yang mengabarkan tentang santunan yang akan dia terima atas meninggal dunianya sang suami akibat kecelakaan kerja. Santunan itu adalah Jaminan Kematian (JHT), karena suaminya tercatat sebagai peserta BPJamsostek.

“Antara sedih dan bahagia bercampur ketika itu. Saya benar-benar tak bisa berkata apa-apa, selain mengiyakan apa yang disampaikan petugas BPJS Ketenagakerjaan ketika itu,” kenang Muslitawati, yang kembali menjemput kenangan atas kepergian sang suami untuk selama-lamanya.

Di ruang rapat orang nomorsatu di Sumbar itu Muslitawati bercerita, santunan yang ia terima sangat besar baginya. Nilainya sebesar Rp400 juta rupiah. Sungguh sebuah angka yang tak akan didapatnya dari sesiapa pun. Dia pun tak menyangka akan mendapat santunan itu, sebab dia memang tak tahu menahu tentang santunan dari BPJamsostek.

Setelah dijelaskan oleh petugas yang menelponnya dia pun sadar, kalau suaminya terdaftar sebagai peserta BPJamsostek. Tak butuh waktu lama untuk pencairan santunan tersebut, setelah dia melengkapi semua administrasi kematian suaminya.

“Santunan yang sama terima saya jadikan modal berjualan. Alhamdulillah usaha itu berkembang sampai sekarang. Ini nikmat Allah dan akan saya jaga dengan baik. Andai kata suami saya tidak terdaftar sebagai peserta BPJSTK, mungkin saya hanya bisa jualan sayur di pasar dan entah dari mana modalnya,” terang perempuan paruh baya itu berkaca-kaca.

Ditatapnya dua jantung hatinya yang juga ikut dengannya ketika menerima beasiswa secara simbolis ketika itu. Lewat beasiswa dan santunan yang dia terima akan disambungkannya pendidikan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Heru Firmansyah anak pertamanya saat ini sedang duduk di bangku kelas 3 SMK 5 Padang. Dia akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan beasiswa yang diterima dari BPJamsostek.

“Saya akan lanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Setelah tamat saya akan menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan pekerjaan. Jika punya usaha sendiri saya akan daftarkan semua karyawan sebagai peserta BPJamsostek. Sebab saya sudah merasakan manfaat dari program hebat ini,” kata Heru.

Menurutnya, program BPJamsostek sangat besar manfaatnya bagi diri pribadi dan keluarga. Sebab tanpa santunan dan beasiswa dari BPJamsostek dia dan adik-adiknya tak akan bisa melanjutkan pendidikan tinggi.

“Terima kasih BPJamsostek. Insyaallah Mimpi kami bisa terwujud berkat program hebat ini,” terangnya.

Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy yang berkesempatan hadir pada penyerahan beasiswa itu mengatakan program BPJamsostek sangat besar manfaatnya.

“Dengan menjadi peserta BPJamsostek, anak-anak yang kehilangan orangtua akan terus bisa melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Beda dengan mereka yang tidak terdaftar sebagai peserta BPJamsostek, karena itu seluruh pekerja harus didaftarkan dan terdaftar sebagai peserta program hebat ini,” terang Wagub Audy.

Dia pun berpesan kepada anak-anak penerima beasiswa progam BPJamsostek agar rajin belajar dan terus mewujudkan mimpi masing-masing.

“Jangan lupa belajar yang rajin, agar mimpi kalian bisa terwujud. Karena ada program beasiswa dari BPJamsostek,” sebutnya.

Penyerahan Beasiswa

Sementara, penyerahan manfaat beasiswa pendidikan anak peserta program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) dari BPJS Ketenagakerjaan atau BPJamsostek dilakukan daring secara serentak di 33 provinsi.

Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah mengungkapkan, pendidikan merupakan masa depan dari setiap anak. Negara hadir secara langsung melalui BPJamasostek untuk memastikan bahwa setiap anak yang orangtuanya meninggal atau mendapat kecelakaan kerja, akan mengganggu biaya pendidikan dapat tetap melanjutkan pendidikannya dengan layak untuk mewujudkan cita-citanya.

“Pemerintah sungguh sangat serius memperhatikan kesejahteraan para pekerja, termasuk kesejahteraan pada keluarga dari pekerja,” kata Ida Fauziyah melalui siaran tayangan siaran langsung penyerahkan manfaat beasiswa pendidikan anak peserta program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) di Jakarta.

Dijelaskannya, manfaat Program JKK dan JKM tersebut diatur dalam PP 82 tahun 2019 dan penyaluran bantuan beasiswa tersebut diatur secara lebih teknis dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) oleh Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) yang tertuang dalam Permenaker nomor 5 tahun 2021 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Program JKK, JKM dan JHT.

Sementara itu, Direktur BPJamsostek Anggoro Eko Cahyo menyampaikan, pendidikan anak lebih terjamin dengan adanya pemberian beasiswa yang diberikan sesuai jenjang pendidikan dengan besaran nominal yang lebih tinggi. Beasiswa akan diberikan sejak taman kanak-kanak (TK) hingga anak pekerja lulus dari bangku kuliah.

Tingkatan pemberian beasiswa kepada anak pekerja adalah pertama, pendidikan TK sampai dengan SD atau sederajat sebesar Rp 1,5 juta per tahun untuk setiap orang, dengan menyelesaikan pendidikan maksimal 8 tahun. Kedua, pendidikan SLTP atau sederajat sebesar Rp 2 juta per orang setiap tahun dengan menyelesaikan pendidikan maksimal 3 tahun. Ketiga, pendidikan SLTA atau sederajat sebesar Rp 3 juta per tahun, dengan menyelesaikan pendidikan maksimal 3 tahun. Keempat, pendidikan tinggi maksimal Strata 1 atau pelatihan sebesar Rp 12 juta per tahun dengan menyelesaikan pendidikan maksimal 5 tahun.

Pengajuan klaim beasiswa dilakukan setiap tahun, dan bagi anak dari peserta yang belum memasuki usia sekolah sampai dengan sekolah di tingkat dasar, saat peserta meninggal dunia atau cacat total, beasiswa akan diberikan pada saat anak memasuki usia sekolah.

“Melalui program BPJamsostek, tidak ada lagi anak-anak putus sekolah, akibat orang tuanya meninggal atau cacat total akibat kecelakaan kerja,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, BPJamsostek Cabang Padang juga melakukan penyerahan manfaat beasiswa pendidikan anak peserta program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) kepada anak-anak dari peserta yang diselenggarakan di Istana Gubernuran Rabu sore itu.

Kabid Hubungan Industrial dan Pengawasan Disnakertrans Sumbar Prita Wadhani menyampaikan rasa senang atas implementasi dari manfaat program JKK dan JKM peserta BPJamsostek kepada anak-anak dari penerima manfaat tersebut. Menurutnya, beasiswa tersebut tentunya akan sangat bermanfaat bagi keluarga terkait pendidikannya.

“Disnakertrans Sumbar saat ini memiliki target untuk menambah jumlah kepesertaan BPJamsostek sebanyak 1 juta orang pekerja pada non PNS, buruh harian lepas dan pekerja dari sektor lain yang pekerjanya belum menjadi peserta. Tujuannya agar para pekerja di seluruh Sumbar dapat menerima manfaat dari program BPJamsostek baik bagi dirinya sendiri maupun untuk keluarganya,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Cabang Padang, Dwi Emanto Rahman Hajianto mengatakan, penyerahan beasiswa Aapril lalu seharusnya diserahkan sejak Desember 2019 lalu, namun baru dapat terealisasi seiring keluarnya petunjuk teknis penyalurannya melalui Permenaker nomor 5 tahun 2021 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Program JKK, JKM dan JHT.

Dwi mengungkapkan, di Sumbar sejak tahun 2019 ada sekitar 202 pekerja yang meninggal termasuk yang disebabkan meninggal akibat kecelakaan kerja. Dari pekerja yang merupakan peserta BPJamsostek tersebut, ada 326 orang anak yang menerima manfaat dari program JKK dan JKM orangtuanya, jumlah anak tersebut sesuai dengan ketentuan dari program tesebut yakni 2 orang anak dari tiap peserta yang akan menerima beasiswa pendidikan sampai kuliah.

“Untuk estimasi dari keseluruhan beasiswa kepada seluruh anak yang terdaftar menerima manfaat program tersebut berjumlah sekitar Rp 1,08 Miliar. Jika diakumulasikan, jumlah beasiswa yang didapatkan untuk dua orang anak yakni sebesar Rp 174 juta,” katanya.

Beasiswa tersebut, lanjutnya, akan segera direalisasikan kepada seluruh anak dari penerima manfaat sesegera mungkin karena seluruh data yang diperlukan telah tersedia. Ia berharap agar tidak ada lagi terjadinya kecelakaan kerja yang menyebabkan meninggalnya pekerja di Sumbar.

“Kalau pun ada peserta yang meninggal, maka anak-anak dari penerima manfaat dapat tetap bisa melanjutkan pendidikannya hingga selesai. Dengan catatan beasiswa itu benar-benar dimanfatkan untuk keperluan pendidikan,” terangnya.

Pengajuan klaim beasiswa dilakukan setiap tahun, dan bagi anak dari peserta yang belum memasuki usia sekolah sampai dengan sekolah di tingkat dasar, saat peserta meninggal dunia atau cacat total, beasiswa akan diberikan pada saat anak memasuki usia sekolah.

“Anak-anak yang menjadi penerima beasiswa itu adalah sebagian kecil dari anak-anak yang kehilangan orangtua akibat kecelakaan kerja. Tapi belum semua orangtua yang bekerja terdaftar sebagai peserta BPJamsostek. Bagi mereka yang tak terdaftar sebagai peserta BPJamsostek dan mengalami kecelakaan kerja lalu meninggal dunia, maka bisa menikmati manfaat dari BPJamsostek,” sebutnya

“Karena itu segeralah mendaftarkan diri sebagai peserta BPJamsostek. Perusahaan atau pemberi kerja bertanggung jawab mendaftarkan pekerjanya. Bagi pekerja mandiri juga bisa mendaftar sendiri. Syaratnya mudah dan iurannya sangat terjangkau,” sambung Dwi.

Ada pun syarat untuk mendaftar sebagai peserta BPJamsostek mandiri adalah KTP, nomor handphone, email dan jumlah iuran. Iuran terendah hanya 16.800 per bulan dengan dua program yakni Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.

Hidup tanpa suami yang dijalani Muslitawati (48), satu dari sekian kisah perempuan yang kehilangan pasangan. Beruntungnya suami Muslitawati tercatat sebagai peserta BPJamsostek. Bila tidak, akan memperpanjang angka kemiskinan di tengah masyarakat.
Sebaliknya, bila kepala keluarga atau pekerja tercatat sebagai peserta program hebat dari pemerintah tersebut maka ahli waris, baik istri dan anak-anaknya akan terselematkan dari kemiskinan dan mampu meraih cita-cita yang diinginkan. Tentunya lewat program JKK, JHT dan JKM serta beasiswa pendidikan hingga perguruan tinggi, bagi peserta BPJamsostek yang sudah terdaftar selama 3 tahun. Total beasiswa Rp178 juga, mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.

Iuran Sangat Rendah

BPJamsostek mempunyai empat program dengan iuran terendah Rp16.800 per bulan untuk dua program, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Angka ini tentunya lebih kecil dari sebungkus rokok atau paket pulsa bulanan bagi pemilik telepon android yang kini bukan lagi dianggap sebagai barang mewah.

Iuran Rp16.800 per bulan itu berlaku untuk pekerja informal, seperti tukang becak, buruh angkat, buruh bangunan, petani, pemulung. Kemudian pedagang kaki lima, nelayan, sopir angkutan umum dan pekerjaan lainnya di luar tanggungan perusahaan.

Sedangkan iuran untuk perusahaan atau instansi swasta, iurannya disesuaikan dengan Upah Minumum Provinsi (UMP) di masing-masing provinsi. (*)

  • Bagikan