Totalitas Move On PT Pertamina Suri Tauladan Indonesia

oleh -447 views
Pedagang putu ini akhirnya move on dari BBM minyak tanah ke gas Pertamina karena ramah lingkungan dan aman saat digunakan. (hendri nova)

Hendri Nova

Wartawan topsatu.com

“Sekarang sedang ada gerakan menghancurkan industri sawit Indonesia, dengan berbagai isu. Salah satunya isu lingkungan yang terus digoreng di dunia internasional hingga saat ini,” kata Ketua Bidang Koordinasi  Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Pusat, Tofan Mahdi, dalam seminar Peningkatan Kompetensi Wartawan dan Humas Pemerintah tentang industri kelapa sawit Indonesia, di Padang, Rabu (14/8) lalu.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini sudah ada produk makanan ataupun kosmetik yang menyertakan label bebas dari unsur sawit. Menurutnya, label seperti itu seolah-olah mengindikasikan jika sawit adalah produk jahat yang harus jadi musuh bersama.

“Jika ada rekan-rekan wartawan menemukan produk seperti itu, harap laporkan, agar kita laporkan ke Departemen Perdagangan dan instansi terkait lainnya, untuk menyetop peredaran produk tersebut,” tambahnya.

Keterangan dari Tofan Mahdi sangat menyentak, mengingat Indonesia adalah produsen sawit nomor satu di dunia.

Narasumber lainnya, M Ihsan, Pemred Warta Ekonomi mengatakan, Index Mundi portal pengumpul fakta dan statistik dari berbagai sumber mencatat beberapa negara yang pada 2019 menjadi 10 negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia.

Indonesia menghasilkan volume minyak sawit 43.000.000 ton, Malaysia dengan volume minyak sawit 20.700.000 ton, Thailand dengan volume minyak sawit 3.000.000 ton, Kolombia dengan volume minyak sawit 1.680.000 ton, Nigeria dengan volume minyak sawit 1.015.000 ton, Guatemala dengan volume minyak sawit 852.000 ton, Ekuador dengan volume minyak sawit 630.000 ton, Papua Nugini dengan volume minyak sawit 630.000 ton, Honduras dengan volume minyak sawit 580.000 ton, dan Brazil dengan volume minyak sawit 540.000 ton.

“Uni Eropa menyatakan sikapnya dengan melarang sawit asal Indonesia masuk ke negara-negara anggotanya. Keputusan ini diambil setelah Parlemen Eropa (European Parliament) melakukan voting,” katanya.

Hasil voting tersebut mengatakan bahwa sawit Indonesia tidak boleh lagi digunakan sebagai bahan campuran biodiesel di negara-negara Uni Eropa. Indonesia tak menerima keputusan tersebut, sebab volume ekspor sawit ke negara-negara Eropa terbilang besar.

Pertamina Selamatkan Sawit Indonesia

Mengingat besarnya produksi sawit Indonesia dan ancaman yang terus berkelanjutan dari negara Eropa, maka Indonesia harus move on dari mengekspor mentah minyak sawit, menjadi pengekspor produk setengah jadi ataupun produk jadi dari bahan sawit.

Alhamdulillah harapan itu bersinar di tangan Pertamina dengan adanya produksi B20. Dikutip dari Energia Pertamina, diversifikasi energi yang dicanangkan pemerintah dan menjadi mandatory bagi Pertamina untuk pengimplementasian Biodiesel 20 atau B20.

Program mandatori B20 merupakan salah satu upaya mengurangi impor migas dan memperbaiki defisit neraca perdagangan, karena mengurangi penggunaan devisa. Mandatori B20 sudah dimulai sejak 1 September 2018, dan mandatori tersebut hingga kini terus mengalami peningkatan.


GAS RUMAH TANGGA – Gas produk Pertamina telah membuat banyak ibu rumah tangga move dari kayu bakar yang notabene bisa mengunduli hutan Indonesia. Kini hutan aman, karena tak lagi diambil kayu bakarnya berkat gas produksi Pertamina. (hendri nova)

Agar mudah dipahami, B20 merupakan proses campuran BBM jenis Solar dengan Biodiesel atau campuran minyak sawit sebanyak 20 persen. B20 ini juga didistribusikan kepada masyarakat Indonesia, melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU), sama halnya dengan BBM dengan jenis lainnya.

Kebijakan ini telah diterapkan pada sektor bersubsidi atau penugasan publik (Public Service Obligation/PSO). Saat ini program mandatori B20 tidak hanya menyasar untuk segmen bersubsidi saja, tapi juga BBM Non subsidi atau Non PSO.

Hingga November 2018, mandatori B20 telah mencapai lebih dari 85 persen. Angka ini naik 10 persen dari realisasi pada bulan sebelumnya. Target tahun 2018 penyaluran B20 sebesar 3,92 juta kiloliter. Sementara sampai pada bulan Oktober sudah mencapai 2,53 juta kiloliter. Angka ini masih akan terus naik dan akan segera terealisasikan 100% pada tahun 2019.

Upaya-upaya terus dilakukan Pertamina untuk merealisasikan B20 sampai 100%, di antaranya dengan terus mengawasi pengimplementasian Mandatori B20. Bahkan Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati langsung turun ke lapangan untuk memantau beberapa SPBU yang telah melaksanakan B20.

Di beberapa kesempatan, Nicke menyambangi sekaligus menyidak beberapa SPBU di Jakarta seperti di SPBU Kuningan, Jakarta Selatan dengan nomor SPBU 31 129 02 dan SPBU Matraman, Jakarta Timur dengan nomor 3413102.

Hal ini dilakukan untuk melihat apakah SPBU-SPBU tersebut sudah menerapkan B20 atau belum. Jika belum, maka Nicke sendiri yang langsung memberikan sanksi.

“Semua SPBU harus menerapkan B20. Jika memang ada SPBU yang belum menggunakan B20 bisa dilaporkan ke Contact Pertamina di 1 500 000. Hingga November 2018, mandatori B20 telah mencapai lebih dari 85 persen,” katanya.

Angka ini naik 10 persen dari realisasi pada bulan sebelumnya. Target tahun 2018 penyaluran B20 sebesar 3,92 juta kiloliter, sementara sampai pada bulan Oktober sudah mencapai 2,53 juta kiloliter.

“Kami akan mengecek untuk memastikan semua SPBU sudah pakai B20. Ada sanksi yang ditanggung bagi SPBU maupun perorangan yang tidak menggunakan B20. Sanksinya Rp6.000 per liter,” ujar Nicke, saat mengunjungi SPBUKuningan di Hari Pelanggan, September lalu.

Selain mengawasi setiap SPBU yang ada di Indonesia, upaya lain yang dilakukan Pertamina dalam mendukung program B20 adalah dengan ikut menyosialisasikan kepada instansi maupun masyarakat. Ini merupakan bentuk dari keseriusan Pertamina.

Sosialisasi ini digelar untuk mengimplementasikan perluasan insentif biodiesel untuk sektor non PSO yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di IPB International Convention Center, Bogor, pada Kamis 6 September 2018 lalu.

Sosialisasi juga dilakukan ke industri yang menjadi pelanggan Pertamina, PT Indocement Tunggal Prakasa. Industri yang berlokasi di Citeureup pada 6 September 2018. Pertamina menjelaskan dengan detil tentang B20, sehingga pelanggan industri tidak ragu menggunakannya.

Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina juga melakukan penandatanganan addendum kontrak perluasan implementasi B20 semua sektor dengan 19 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN). Ke-19 BU BBN tersebut diantaranya PT Wilmar Bioenergi Indonesia, PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Multi Nabati Sulawesi, PT Musim Mas, PT Intibenua Pertkasatama, PT Sukajadi Sawit Mekar, PT Darmex Biofuels, PT Bayas Biofuels, PT Dabi Biofuels, PT Sinar Mas Agro Resources And Technology Tbk, PT Sinarmas Bio Energi, PT Pertama Hijau Palem Oleo, PT Pelita Agung Agrindustri, PT LDC Indonesia, PTCiliandra Perkasa, PT Tunas Baru Lampung Tbk, PT Kutai Refinery Nusantara, PT Cemerlang Energi Perkasa, dan PT Batara Elok Semesta Terpadu.

Menurut Bimo Sagus Ariyanto, Asisten Manager KAM Support Pertamina, saat ini titik pencampuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau bahan bakupembuatan B20 ada di 67 TBBM dan 2 STS. Namun, rencananya mulai awal 2019, pemerintah akan mengerucutkan menjadi 25 titik demi efektivitas danefisiensi penyaluran FAME dari BU BBN.

“Dari 112 Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) yang dimiliki Pertamina, sampai sekarang sudah 105 TBBM menyalurkan B20,” jelasnya.

Sebagai penyalur Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bahan campuran untuk Solar sehingga menghasilkan B20 memiliki peran penting keberhasilan program mandatori B20 ini.

“Kesuksesan B20 ada dalam komitmen dari semua pihak, terutama BU BBN yang menyuplai FAME, kedua Pertamina yang berkomitmen untuk mencampur dan mendistribusikan B20 atau Biosolar,” tuturnya.

Kurang dari tiga bulan program mandatori B20 berjalan, namun sudah menghasilkan peningkatan. Dikutip dari situs viva.co.id rata-rata volume impor bahan bakar Solar mengalami penurunan sebesar 7,54 persen yaitu 2,05 ribu kiloliter.

Hal ini disampaikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi.

“Pada periode tersebut, rata-rata harian volume impor bahan bakar Solar pada 1 September 2018 hingga 13 November 2018 mencapai 25,12 ribu kiloliter atau lebih rendah dibanding realisasi 1 Januari 2018 hingga 31 Agustus 2018 yang sebesar 27,17 ribu kiloliter. Sampai 13 November menunjukkan perkembangan yang positif yaitu indikatornya dari volume impor yang turunharian,” ujar Heru Pambudi.

Dengan melaksanakan mandatori B20 ini, Pertamina yakin akan terus menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik. Sehingga program pemerintah untuk mengurangi impor solar dan memperbaiki defisit neraca perdagangan akan terlaksana dengan baik.

Move On Total Pertamina

Tak hanya mengajak masyarakat dan industri move on ke B20, menurut Media Communication Manager, Arya Dwi Paramita, Pertamina telah melakukan langkah besar di 2019, menuju pengelolaan energi  yang memenuhi ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility), daya beli (affordibility), ramah lingkungan (acceptability), dan keberlanjutan (sustainability).

“Pertamina sebagai BUMN migas, telah move on dalam menjalankan bisnisnya baik di sektor hulu, pengolahan maupun hilir,”  ujar Arya.

Di sektor Hulu, Pertamina telah ‘move on’ dengan metode dan teknologi pengeboran yang tidak biasa, hingga pendekatan teknologi pengurasan minyak tahap lanjut. Penerapan teknologi laut dalam dan penerapan teknologi terkini di dunia migas yakni Enhanced Oil Recovery (EOR) yang telah dijalankan Pertamina, terbukti mampu meningkatkan produksi migas, meskipun lapangan migas sudah mature.

“Pada 2018 produksi minyak dan gas Pertamina dalam negeri tercatat mencapai 768 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD) atau 42 persen lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi migas pada 2017 sebesar 542 MBOEPD,” tegas Arya.

Di sektor Pengolahan, Pertamina juga telah move on dengan memulai sejarah baru dalam pengolahan energi dari energi fosil menuju green energy. Pertamina menjadi perusahaan migas pertama di Indonesia yang telah berhasil mengembangkan green refinery.

“Di kilang Plaju, Sumatera Selatan Pertamina telah berhasil melakukan co processing RBDPO (minyak sawit) dengan Crude Oil, yang menghasilkan green fuel  lebih ramah lingkungan sebanyak 405 ribu barel per bulan setara 64.500 kilo liter per bulan, serta menghasilkan produksi elpiji ramah lingkungan sebanyak 11.000 ton per bulan,” imbuh Arya.

Sebagai lanjutannya, Pertamina telah menjalin kesepakatan dengan ENI, perusahaan migas asal Italia yang merupakan pelopor transformasi green refinery  di dunia,  untuk mengembangkan Green Refinery dalam skala nasional pada kilang-kilang Pertamina sehingga akan menghasilkan biofuel, bio LPG dan bio avtur.

Pertamina saat ini juga sedang memperkuat kemampuan produksi kilang yang ada, melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GRR). Diharapkan pada tahun 2026 Pertamina bisa memiliki kilang dengan total kapasitas 2 juta barel per hari atau dua kali lipat dari kapasaitas saat ini.

Dengan demikian dapat mengurangi impor produk BBM. Kilang tersebut akan menghasilkan bahan bakar standar EURO V dan terintegrasi dengan kilang Petrokimia.

Tak ketinggalan di sektor hilir, lanjut Arya, Pertamina juga terus melakukan sejumlah program besar seperti  BBM Satu Harga dengan sasaran daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) di wilayah Indonesia. Hingga awal tahun 2019, Pertamina telah membangun 124 titik BBM Satu Harga dan ditargetkan tahun ini bisa mencapai 150 titik BBM Satu Harga.

“Pertamina akan terus mengalirkan energi ke seluruh pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Inilah perjuangan Pertamina untuk keadilan energi ,” ujar Arya.

Tahun 2019 juga menjadi momen penting bagi Pertamina karena untuk pertama kalinya seluruh SPBU akan dilakukan digitalisasi. Sesuai RKAP 2019, program digital akan dilakuan secara masif dengan nama Pertamina GO Digital.

Targetnya akan dilakukan instalasi sistem instrumentasi pengukuran stok di tanki timbun dan sales di setiap nozzle/SPBU sebanyak 5.518 SPBU mencakup 77.000 nozzle.

“Digitalisasi SPBU telah dilakukan ujicoba pada tahun 2018 di 10 SPBU yang berlokasi di Jakarta dan Jalur Tol Pantura serta Tol Cipali. Pada saat yang sama, Pertamina juga telah melakukan digital payment pada 200 lebih SPBU melalui kerjasama Telkomsel Tcash,”  pungkas Arya.

Suri Tauladan Indonesia

Apa yang dilakukan Pertamina dengan telah move on di berbagai bidang, harus didukung dan dijadikan suri tauladan di Indonesia. Move on ke arah yang lebih baik harus menjadi gaya hidup, sehingga dapat meminimalisir kerugian.

Inovasi harus terus dilakukan dengan mengajak anak bangsa untuk terus move on. Pertamina harus memperkuat sumber daya manusia di bidang riset, untuk bisa mengolah produk nabati seperti minyak kelapa sawit yang melimpah menjadi BBM berkualitas yang bisa dipasarkan di dunia internasional.

Jika berhasil menciptakan produk tersebut, maka pengusaha sawit Indonesia tak perlu memikirkan embargo Uni Eropa, karena semua produksi sawit sudah diserap oleh Pertamina. Bahkan tak tertutup kemungkinan Pertamina membeli minyak sawit mentah dari sembilan negara penghasil sawit lainnya.

Setelah diolah jadi BBM berkualitas tinggi, kembali di ekspor ke negara tersebut, sehingga hasilnya menjadi lebih menguntungkan. Hal ini tentu akan sangat membanggakan, karena Pertamina telah menjadi sumber devisa.

Insyaa Allah tindakan Pertamina ini akan mengenjot sektor lain, untuk berbuat besar seperti Pertamina. Misalkan saja, pengekspor produk rempah-rempah dalam bentuk mentah, kini mau mengolahnya menjadi bahan setengah jadi maupun bahan jadi.

Sampai sekarang, produk rempah-rempah Indonesia seperti pinang, gambir, minyak nilam, dan lainnya, masih diimpor dalam keadaan mentah. Padahal dunia sudah sangat maju, namun perusahaan pengolahannya belum maju-maju juga di Indonesia.

Hasilnya, produk rempah-rempah itu cenderung dihargai dengan murah dan tak jarang jadi permainan negara tujuan ekspor, dengan menekan harga. Jika mereka nanti terinspirasi oleh Pertamina, tentunya akan menjadikan produk rempah-rempah Indonesia menjadi bahan setengah jadi maupun barang jadi dengan nilai ekonomi tinggi.

Rakyat Indonesia sangat mengharapkan Pertamina jadi suri tauladan bentuk cinta produk Indonesia. Semangat ini tentu akan menular pada pengusaha dan perusahaan lainnya, untuk bisa menjadi pengusaha dan perusahaan yang bisa mengolah hasil alamnya sendiri menjadi lebih berkualitas dan produknya dibeli negara-negara di dunia. *

Loading...