Tiket pulang Sudah di Pesan, Bulan Depan mau Tunangan

oleh
Ribuan pelayat menghantarkan jenazah Fauzan Azima ke peristirahatan terakhirnya di pandam pekuburan keluarga, di Balai Mansiro, Guguak VIII Koto, Limapuluh Kota. Muhammad Bayu Vesky
Muhammad Bayu Vesky
BALAI MANSIRO-Mariati (51) jatuh pingsan di pandam pekuburan. Ulu hatinya seakan kena tikam. Dadanya bergemuruh. Ada air mata nan tak putus putus di merah tanah itu.
Bagaimana tidak akan menangis, Minggu (4/11) kemarin, Mariati dan sang suami, Syakban (58) serta anak bungsunya Fadlan (19), menyaksikan anaknya Fauzan Azima (25) dikebumikan dalam keadaan tubuh tidak utuh.
“Nak, jangan pergi nak,” kata Mariati. Lalu ia pingsan dan dibopong. Ribuan pelayat yang ikut menghantarkan Fauzan ke peristirahatn terakhirnya, di Jorong Balai Mansiro, Danguang-Danguang, Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota, tak kuasa membendung air mata.
Fauzan, merupakan satu dari delapan warga Sumatera Barat yang ikut menjadi korban jatuhnya Lion Air JT 610. Khusus di Kabupaten Lima Puluh Kota, ada dua warga yang jadi korban.
“Ada dua (warga) dari kita. Identitas Fauzan dikenali pada Sabtu (4/11) malam, setelah tim DVI mencocokkan korban dengan DNA keluarga. Satu lagi masih belum ditemukan,” kata Bupati Irfendi Arbi.
Sejak tiga hari lalu, Irfendi ikut mendampingi orangtua Fauzan, menunggu hasil identifikasi jenazah di Jakarta. Rencana, bulan depan atau Desember, Fauzan akan bertunangan dengan kerabat Bupati, di Koto Tangah Simalanggang, Payakumbuh. Namanya Iya. “Januari rencana mau baralek,” ulas Irfendi.
Selain Bupati, hadir dalam pemakaman Fauzan, Wabup Ferizal Ridwan, Ketua DPRD Safarudin Dt Bandaro Rajo, Sekdakab, pimpinan OPD, Wakil Ketua DPRD Deni Asra serta anggota DPRD Putra Satria Veri dan Ridha Illahi.
Rencana Fauzan akan menggelar pesta pernikahan ini pada Januari 2019, tidak menjadi firasat oleh orangtuanya Mariati, begitu beberapa hari jelang tragedi Lion Air, dia bermimpi ada baralek. “Mimpi pesta ini, kalau di kampung, diyakini adalah petaka,” kata Mariati.
Cerita ini, disampaikan Fadlan, adik satu satunya almarhum Fauzan, kepada Singgalang, kemarin di pandam pekuburan. “
“Abang Fauzan, merantau ke Jakarta sejak 2015. Bekerja di Kantor Jasa Penilaian Publik Satria Iskandar Setiaaan dan Rekan (KJPP Sisko), di Slipi,” cerita Fadlan (19).
Semasa hidup, Fauzan dikenal oleh adiknya, sebagai saudara yang punya tanggung jawab besae bagi keluarga. “Bang Fauzan suka membantu mama dan papa. Uang gajinya, itu untuk kuliah dan belanja keluarga,” sebut Fadlan. Air matanya berserak.
Menurut Setiawan, Managing Partner KJJP Sisko yang datang menghantar jenazah Fauzan ke Limapuluh Kota, Fauzan semasa bekerja di kantornya sangat telaten. Anak Limapuluh Kota itu juga dikenal rajin dan jujur. Tak ada kerja yang tak selesai olehnya.
Ke Pangkal Pinang, merupakan pengalaman baru bagi Fauzan ditugaskan kantornya. Rencana, di hari malang itu, Fauzan hendak melakukan kerjasama dengan Pertamina setempat. “Tiketnya sudah kita siapkan pergi dan pulang,” jelas Setiawan.
Fauzan sendiri, sudah mengantongi boking tiket untuk pulang. “Kami sangat kehilangan karyawan yang baik seperti Fauzan,” sebut Setiawan. Biasanya kata dia, Fauzan juga sering diutus pergi oleh Kantor ke beberapa daerah di Tanah Air. Ke Papua, juga pernah.
Terakhir, Setiawan menyebut, ada yang janggal dari komunikasi Fauzan. Diam diam, Fauzan meminta, agar Setiawan memperbolehkannya memperbaiki motor aset kantor yang sudah lama rusak. “Saya jawab, mau diperbaiki? Yakin?,” tanya Setiawan kala itu. Fauzan menjawab yakin. Padahal, motornya sudah butut sekali. Berkarat.
MERANTAU
Fauzan adalah anak lelaki Minangkabau. Di dalam darahnya, mengalir semangat merantau. Ini dia buktikan, begitu mendapat gekar D IIII di Fakuktas Teknik, UNP pada 2015, sejak itu pula dia memilih merantau.
“Awalnya abang bekerja di percetakan, jadi karyawan di sana. Kemudian pindah di kantornya yang kemarin itu, KJPP Sisko,” tutur Fadlan. Sebelum ajal menjemput, Fauzan sudah menjadwalkan, selepas wisuda S1 di Jurusan Teknik Mesin Universitas Nasional Jakarta pada Januari, dia akan menikah.
Ayah Fauzan dan Fadlan, Amri Syakban mengaku, tidak menaruh firasat apapun. “Tidak ada firasat, tapi ibu anak anak bermimpi baralek. Itu saja,” kata pensiunan pegawai PDAM itu.
Kini, Fauzan telah tiada. Dia adalah pejuang bagi keluarganya, juga sanak famili. Selamat jalan Fauzan. (*)
Loading...