Terapi, Cara Ampuh Hentikan Merokok

oleh
Seorang Instruktur terapi Spritual Emotional Freedom Tehknique, Benii Warlis (empat ke kanan) mencontohkan pada peserta yang mengikuti terapi rokok berhenti massal di kantor gubernuran Sumatera Barat, Padang, Kamis (8/11/2018). Terapi ini dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Sumatera Barat, dalam memperingati hari kesehatan nasional ke 54 dan implementasi perda no.8 tahun 2012 tentang kawasan tanpa rokok. ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi

PADANG-Anda perokok berat? Dan ingin berhenti menghilangkan kebiasaan merokok yang sudah dijalani selama belasan bahkan puluhan tahun?

Benni Warlis, selaku terapis pada Kamis (8/11), melakukan terapi bagi ratusan peserta, yang sebagian besar adalah kaum Adam. Mereka ingin berhenti merokok namun tidak bisa lepas menghisap tembakau tersebut.

Dalam terapinya Benni Warlis yang juga asisten II Setdaprov itu mengajak peserta melakukan sejumlah gerakannya sambil membaca doa, agar bisa berhenti merokok. Gerakan yang dilakukan diawali dengan mengetuk titik di bagian atas kepala atau tepatnya di ubun-ubun dengan jemari. Kemudian titik permulaan alis mata, di atas tulang samping mata, di bawah kelopak mata, di bawah hidung, Kemudian di antara dagu dan bagian bawah bibir, di ujung tempat bertemunya tulang dada, collar bone dan tulang rusuk pertama. Gerakan berikutnya mengetuk bagian di bawah ketiak dan terakhir diperbatasan tulang dada dan bagian bawah payudara wanita.

“Lama ketukan untuk tiap bagian minimal 10 kali. Lakukan berulang sambil berdoa, meminta kepada Tuhan agar bisa berhenti merokok dan membayangkan rokok itu rasanya pahit,” kata Benni.

Gerakan yang dilakukan Benni, diikuti peserta terapi. Setelah terapi selesai beberapa peserta khususnya laki-laki diminta ke depan. Satu persatu mereka ditanya dan disuruh meyulut api rokok. Rata-rata peserta itu merasakan pahit ketika menghisap rokok, sambil mengeluarkan ludah.

“Gimana rasanya Pak?” tanya Benni.

“Pahit. Manis rokok jadi hilang,” jawab salah seorang peserta.

Jawaban serupa pun diutarakan peserta lainnya. Meski demikian, ada pula yang belum merasakan pahit luar biasa.

Peserta itu butuh terapi lanjutan, agar sukses berhenti merokok.

Benni Warlis, selalu terapis mengaku sejak remaja telah menjadi perokok hingga bertahun-tahun lamanya. Meskipun telah dicoba untuk berhenti merokok, tetapi kebiasaan merokok merokok secara total sangat sulit. Apalagi, bagi seorang yang telah mengalami kecanduan. Akibat kebiasaan merokok tersebut dirinya menderita batuk tidak ada hentinya.

“Saya itu telah merokok sejak usia remaja hingga bertahun-tahun tidak berhenti merokok. Hingga gara-gara rokok saya pernah menderita batuk sampai berbulan-bulan lamanya,” ujar Therapist Anti Rokok, Benni Warlis, usai terapi massal di aula kantor gubernur.

Disebutkannya, merokok itu merupakan suatu kebiasaan yang pada akhirnya akan menjadi suatu karakter, di mana hal itu tidak terlepas dari sumber utamanya yakni pikiran.

“Bayangkan saja sudah dilarang istri dan anak kebiasaan merokok saya belum juga hilang. Bahkan, tidak bisa dilarang untuk berhenti. Dan, sejak saya batuk berkepanjangan itulah saya berpikir untuk mencoba berhenti,” ungkapnya yang juga merupakan Asisten II dilingkup Setdaprov Sumbar.

Makanya, kata Benni kebiasaan merokok itu susah untuk menghilangkannya jika tidak dari niat sendiri. Meskipun sudah mencoba-coba ingin berhenti jika tidak dari niat sendiri sangat susah pula.

“Intinya paling utama niat. Saya niatkan lalu praktekan, insyaallah sejak 2002 sudah tidak merokok lagi. Dan, itu saya ingin terapkan kepada semua orang dekat saya bahkah masyarakat baik itu memberikan pengalaman bagaimana saya berhenti merokok. Dari situ saya belajar untuk memberikan terapi bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok,” katanya.

Dilanjutkan Benni, sejak 2010 dirinya sudah menjadi terapis bagi mereka yang ingin berheti merokok. Bahkan, dirinya di Payakumbuh biasanya dalam sehari pasien yang datang itu dalam sehari yang datang itu sekitar lima orang atau lebih.

“Sejak saya pindah kesini (Padang-red) kan tidak begitu banyak yang tahu. Tapi jika di Payakumbuh sudah banyak yang mengetahui. Biasanya ada saja yang datang ingin berhenti merokok. Sehari itu bisa lima orang atau lebih yang datang pasien,” katanya.

Untuk teknik terapi massal yang dilakukan saat ini baru yang pertama kalinya. Bahkan, dengan memberikan terapi massal ini sempat juga grogi jika tidak berhasil.

Menurutnya, terapi itu sederhana saja. Dengan terapi yang dilakukan secara massal maka, peserta nantinya juga dapat melakukan terapi kepada yang lainnya. Dan, pengetahuan terapi berhenti merokok ini dapat tersebar ke seluruh Sumbar.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday mengatakan, kebiasaan merokok ini dapat berdampak kepada kesehatan. Bahkan tidak hanya dari sektor kesehatan tetapi juga ekonomi.

“Bayangkan saja, jika merokok sudah bertahun-tahun sejak remaja dan sekarang berusia 30 tahun. Berapa banyak penyakit yang disimpan gara-gara rokok itu. Sedangkan dari segi ekonominya berapa uang yang telah dikeluarkan. Penyakit dapat, duit pun habis jika kebiasaan merokok ini tidak dihentikan,” ujar Merry.

Disebutkannya, dengan adanya terapis yang dilakukan secara massal ini guna menghentikan kebiasaan merokok di tengah masyarakat sangat positif. Apalagi, selama ini Dinkes Sumbar terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat bahaya merokok, bahayanya itu tidak sekarang. Namun kedepannya pasti dirasakan.

“Saat ini dalam terapi rokok kami mengundang semua kabupaten/kota. Maka, dengan terapi yang diadakan ini diharapkaan daerah juga melakukan iven yang sama. Dan, juga mensosialisasikan bahaya rokok ini tidak hanya bagi diri sendiri namun orang lain disekitarnya didaerah masing-masing,” katanya.

Selain itu, dirinya juga akan berkoordinasi dengan Satpol PP dalam menerapkan Perda No 5 Tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok agar maksimal.

Baik itu di sekolah, gedung pemerintahan, sarana kesehatan, tempat penitipan anak dan lokasi lainnya.

“Kita akan lakukan aksi dengan Satpol PP. Kita akan razia bersama secara diam-diam,” ulasnya.

Kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi Usama Putra, yang ikut serta dalam terapis tersebut mengungkapkan dirinya dahulu waktu masih kerja di swasta sempat menjadi perokok berat. Karena, suasana kerja yang berada di tengah hutan. Namun, sejak diangkat menjadi PNS dirinya sudah berangsur-angsur berhenti merokok.

“Sejak jadi PNS. Saya sudah berangsur-angsur berhenti merokok. Apalagi, saya berada di dinas kehutanan yang notabene perlu stamina. Karena keluar masuk hutan. Dan sejak tahun 1998 saya total berhenti merokok,” katanya.

Bahkan, sejak menjadi Kepala Dinas Kehutanan di Pasaman beberapa waktu lalu, dirinya melarang setiap yang berkunjung ke kantor untuk tidak merokok. Setiap ruangan hingga halaman kantor ditanami tumbuh-tumbuhan untuk mengimbangi rokok tersebut.

“Dan itu akan saya coba terapkan juga di provinsi. Ini agar membuat kawasan itu terbebas dari asap rokok. Saya harap dengan adanya terapi ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (107)

Loading...