PADANG– Upaya mitigasi risiko banjir susulan di Sumatera Barat kini memasuki fase krusial. PT Adhi Karya (Persero) melaporkan bahwa proyek raksasa penanganan darurat terhadap 21 unit sungai yang hancur akibat banjir bandang telah menyentuh angka 55 persen.
Proyek ini bukan sekadar rehabilitasi biasa, melainkan misi penyelamatan infrastruktur air sepanjang 35,8 kilometer. Langkah cepat ini diambil untuk memulihkan kapasitas alami sungai yang hilang akibat sumbatan material vulkanik dan sampah banjir, yang selama ini menghantui masyarakat dengan ancaman bencana baru saat hujan lebat tiba.
Distribusi Penanganan: Fokus di Tiga Wilayah Terdampak ParahBUMN konstruksi ini membagi kekuatannya di tiga kabupaten yang mengalami kerusakan paling masif Kabupaten Agam 10 titik sungai, Kabupaten Tanah Datar 6 titik sungai. Kabupaten Solok 5 titik sungai.
Manager Proyek Sumber Daya Air (SDA) PT Adhi Karya, Triyanto, menegaskan bahwa timnya sedang berpacu dengan waktu dalam timeline kerja yang sangat singkat, yakni tiga bulan saja.
“Kami bekerja dalam garis waktu yang ketat, mulai 11 Desember 2025 dengan target tuntas pada 10 Maret 2026. Fokus utama kami adalah ‘menemukan kembali’ alur sungai yang hilang karena tertimbun material,” ujar Triyanto di Padang.
Manfaatkan “Batu Bencana” untuk Bronjong
Pengerjaan teknis di lapangan mengombinasikan normalisasi alur dengan penguatan tebing menggunakan batu bronjong. Salah satu titik paling kritis berada di Batang Asam, Kabupaten Agam, di mana tanggul sepanjang 2.300 meter sempat jebol dan menghancurkan ratusan hektare sawah.Uniknya, tim lapangan menerapkan strategi efisiensi dengan memanfaatkan batu-batu lokal yang terbawa arus banjir sebagai material utama bronjong.
“Khusus di Tanah Datar, sekitar 60 persen titik penanganan menggunakan batu bronjong. Kami prioritaskan batu lokal hasil banjir agar pengerjaan lebih efisien, namun tetap kokoh,” tambah Triyanto.
Tantangan Alam dan “Armada Tempur”
Untuk mengejar target yang menyisakan waktu sekitar satu bulan lagi, Adhi Karya menerjunkan sedikitnya 150 pekerja ahli dan 22 unit alat berat (excavator dan crane) yang bekerja ekstra di lapangan.Meski progres berjalan positif, tantangan terbesar adalah anomali cuaca Sumatera Barat. Hujan deras seringkali meruntuhkan kembali alur yang baru dibentuk atau mengisi ulang sungai dengan material baru. Namun, dengan kesiagaan personel 24 jam, Adhi Karya optimis infrastruktur sungai ini akan berfungsi normal kembali tepat waktu demi keamanan warga di bantaran sungai.
Data Teknis Proyek :
Masa Kerja 11 Desember 2025 – 10 Maret 2026
Total Sasaran 21 Sungai (35,8 KM)Progres : Saat ini 55%
SDM 150 orang dan 22 A alat berat.












