Talempong Pacik Tanah Datar Pecahkan Rekor Muri

  • Whatsapp
Bupati H. Irdinansyah Tarmizi mengangkat sertifikat Muri yang baru saja diterima, untuk rekor baru memainkan talempong pacik yang diikuti 1.599 murid SD dan sanggar seni dalam rangkaian FPM 2019.(Musriadi Musanif)

BATUSANGKAR – Kabupaten Tanah Datar berhasil mengubah rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk talempong pacik. Sebagai pusat kebudayaan Minangkabau, daerah berjuluk Luhak Nan Tuo itu dituntut inovatif dalam melestarikan warisan nenek moyang.

Sebanyak 1.599 anak, berasal dari murid Sekolah Dasar (SD) dan sanggar seni, berhasil membuat bulu roma hadirin berdiri, ketika secara serentak mereka menabuh talempong pacik yang ada di tangan masing-masing. Suasananya menjadi semakin sakral, karena atraksi itu dihelat di Komplek Istano Basa Pagaruyuang.

Artraksi talempong pacik itu, merupakan bagian dari prosesi pembukaan Festival Pesona Minangkabau (FPM) Tahun 2019 yang dihelat Pemkab Tanah Datar hingga 9 Desember nanti. Rekor Muri pun pecah. Posisinya berubah dari angka 1.371 orang yang sebelumnya dicatatkan Padang.

“Kami menggunakan metode penghitungan manual. Rekor Muri untuk talempong pacik bergeser angkanya ke 1.599 orang yang baru saja kita saksikan. Kami catatkan peristiwa ini untuk rekor dunia,” ujar perwakilan MURI sebelum menyerahkan sertifikat MURI tersebut kepada Bupati H. Irdinansyah Tarmizi.

Pada peristiwa Rabu (4/12) itu, tercatat sebagai ketiga kalinya Tanah Datar berhasil memecahkan rekor Muri. Pada 2017 untuk atraksi arak-arakan dan bajamba, dan 2018 untuk 5.000-an orang minum kawa daun secara bersamaan. Ketiga rekor itu, dicatatkan dari kegiatan FPM yang seremonial pembukaannya selalu dihelat di Istano Basa Pagaruyuang.

Bupati Irdinansyah pada kesempatan itu mengatakan, pihaknya memberi apresiasi atas semua upaya yang dilakukan semua pihak, mulai dari instansi pemerintah daerah sampai kepada tokoh masyarakat dan warga.

Selain atraksi talempong pacik, prosesi pembukaan FPM kemarin juga disemarakkan dengan arak-arakan jamba yang berasal dari 75 nagari yang ada di daerah berjuluk Luhak Nan Tuo itu, berisi kuliner khas nagari-nagari yang bersangkutan. Jamba itu, dihidangkan untuk makan siang ribuan tamu yang menghadiri acara tersebut.

Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Esthy Eko Astuti dalam sambutannya ketika membuka acara, menyatakan, FPM merupakan kegiatan yang berskala nasional, karena sudah tercatat sebagai 100 Iven Nasional di Kementerian Pariwisata. (Musriadi Musanif)

 

Pos terkait