Semangat Berkesenian Ardim Dt Saripado tak Pernah Mati

oleh
Suasana di Galeri Taman Budaya Padang yang saat ini tengah menggelar Pameran Sumatera Biennale 2018. Rabu (7/11). (rahmat zikri)

PADANG-Proses berkesenian tak akan berhenti dan mati, kendatipun apresiasi untuk mereka terkadang, dipandang sebelah mata. Begitu juga untuk kolektor seni di Sumbar, pun terbilang minim. Ya, begitulah!

Hal itu diungkapkan seniman yang juga seorang pendidik SMK 4 Padang, Ardim Dt. Saripado saat ditemui di sela-sela pameran Sumatera Biennale 2018 di Galery Taman Budaya Padang, Jalan Diponegoro Padang, Rabu (7/11).

“Melukis adalah hobi saya, mulai berkarya sejak 1976 dan setiap hari selalu berusaha menyempat diri untuk berkarya, yakni sepulang mengajar. Seni adalah bagian dari hidup saya,” katanya.

Ardim Dt Saripado merupakan satu dari 50 seniman ikut berpartisipasi dalam pameran bertajuk ‘Peradaban Kampung’ yang diselenggaran Taman Budaya sejak 1 hingga 9 November 2018.

“Sejak awal dilaksanakan saya selalu ikut, pameran kali ini adalah yang ke empat. Dari segi kualitas karya perupa saya menilai yang di pamerkan tahun ini jauh lebih baik dan menarik karna proses kuratotor dilakukan lebih ketat dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Bicara dari sisi ekonomi yaitu pada sosok kolektor, Ardim mengakui bahwa saat ini Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang tertinggal jauh jika dibandingkan dengan apresiasi yang diberikan kepada perupa, seperti Jawa dan Yogyakarta.

“Saat karya kita dikoleksi seorang kolektor hal itu adalah penghargaan besar bagi kita sebagai seniman. Di Sumbar hal itu sangat minim, namun hal itu tak sepenuhnya pengharapan karena dalam puisinya Muzni Ramanto pernah berkata bahwa sebagai seniman kita bukan hidup dari seni, melainkan kitalah yang menghidupkan seni itu. Sementara bicara soal pameran bagi saya memiliki arti sebagai wadah memperlihatkan karya kepada masyarakat luas,” ungkapnya.

Ditemui terpisah, Osmulyadi Qudri selaku koordinator galeri yang juga panitia pameran Binnale 2018 mengungkapkan bahwa pameran tersebut dilaksanakan satu kali dalam dua tahun.

“Galeri Taman Budaya Padang sudah tiga kali menjadi tuan rumah, tahun lalu iven yang sama di gelar di Taman Budaya Jambi dan setelah dirembukkan Lampung dipercaya sebagai tuan rumah pameran selanjutnya,” ungkapnya.

Dikatakannya, pameran Binnale 2018 diikuti 50 karya yang didominasi 46 karya lukis, 3 seni dan satu vidio performan.

“Dalam rangka memeriahkan kegitan dan menumbuhkan kecintaan terhadap seni lukis dan membatik puluhan pelajar dari SMK 4 dan SMK 8 Kota Padang diberi kesempatan untuk unjuk kebolehan melukis di area Taman Budaya,” katanya.

Tak jauh berbeda, panitia publikasi Jalinus Khairi mengutarakan, karya yang dipamerkan merupakan hasil seleksi Anton Rais Makoginta selaku kurator.

“Peserta pameran adalah seluruh seniman di Sumatera. Ratusan karya sejatinya ikut berpartisipasi, namun hanya 50 yang lolos proses seleksi,” katanya.

Ditambahkan mahasiswa jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang (UNP) itu mengungkapkan bahwa serangkai kegiatan telah dilakukan yaitu Diskusi Seni se- Sumatera, Workshop seni lukis, sketsa lukis di Puncak Mandeh.

“Kedepan kita berharap, kegiatan serupa akan terus digelar karena ini merupakan kesempatan bagi seniman untuk terus bersemangat dalam berkarya,” paparnya.(rahmat)

Loading...