Ragam  

Sekeping Kisah tentang Pangek Simawang

Ketua GOW Tanah Datar Retri Zuldafri bercerita tentang nikmatnya pangek simawang.(Musriadi Musanif)

BATUSANGKAR — Pangek. Satu dari ratusan ragam kuliner di Ranah Minang. Biasanya, pengek yang paling nikmat itu terbuat dari menu utama ikan air tawar.

Di Kabupaten Tanah Datar, primadona pangek itu ada di Nagari Simawang dan Nagari Sumpu di ujung selatan. Di ujung utara, persisnya di Nagari Barulak dan Tanjuang Alam, ada pula pangek lapuak.

Pangek Simawang. (*)

Penyebutan nama pangek sebenarnya tidaklah baku. Terkadang disebut pangek ombilin, pada lain kesempatan dinamakan pangek simawang. Ada pula pangek sumpu.

Semuanya tak lepas dari nama daerah yang memproduksinya yang pada umumnya berada selingkaran Danau Singkarak, khususnya dalam wilayah Kecamatan Rambatan dan Kecamatan Batipuah Selatan.

Di Nagari Simawang, Ombilin adalah nama sebuah kejorongan yang ada di nagari tersebut, pangek yang amat populer adalah pangek ikan sasau yang dikombinasi dengan ikan bilih yang gurih.

“Cita rasanya khas. Setiap mampir di Danau Singkarak, saya selalu menjadikan pangek sebagai menu utama,” ujar Robin (57), seorang warga yang sedang menikmati kuliner siangnya di sebuah rumah makan pinggiran Danau Singkarak.

Baca Juga  Menang Ditingkat Provinsi, Aira Shafira Wakili Sumbar Lomba Bertutur Tingkat Nasional

Tokoh-tokoh wanita dan bundo kanduang di kabupaten berjuluk Luhak Nan Tuo itu amat menyadari, pangek simawang merupakan andalan yang patut untuk dilestarikan dan terus dipromosikan. Selain karena cita rasanya yang aduhai, pangek juga menjadi mata pencaharian banyak warga di Simawang dan Sumpu.

Sebagai salah satu upaya mempromosikan pangek simawang, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Tanah Datar Retri Zuldafri, memboyong anggotanya ke Simawang untuk mencicipi pangek. Ada puluhan tokoh dari 22 organisasi wanita yang tergabung ke dalam wadah lembaga tersebut.

Dalam rombongan itu ada Ketua Persit Kodim 0307/TD, Bhayangkari Polres Tanah Datar, Adhiyaksi Dharma Karini Kejari Tanah Datar, ibu-ibu dari Pengadilan Negeri Batusangkar, dan lain-lain. Mereka datang ke Simawang, selain untuk menikmati pangek, juga belajar memasaknya.

“Makanan tradisional yang terbuat dari ikan itu, kaya akan bumbu dan rempah. Ada cabai merah, bawang merah, bawang putih, ketumbar, asam kandis, dan berbagai bumbu lokal lain,” terang Retri.

Ibu-ibu yang umumnya adalah istri para pejabat di daerah berjuluk Luhak nan Tuo itu mengaku, penganan tradisional sudah mulai jarang ditemukan di meja makan keluarga. Keberadaannya tergerus zaman dan makanan cepat saji. Padahal, aku mereka, selain nikmat, makanan tradisional semisal pangek simawang iu, juga sehat.

Baca Juga  Peran Keluarga Jadikan Kasus Covid Melandai di Payakumbuh

Masyarakat dan Walinagari Simawang Eriatman tentu saja bangga. Sebab, kuliner khas dari nagari mereka jadi idola. Mereka berharap, pelatihan memasak pangek dapat terus dikembangkan, sehingga lahir usaha-usaha kuliner nikmat yang menjadi ciri khas nagari itu.

“Sejarahnya mungkin sejalan dengan lagu berjudul Pangek Sumpu. Tapi yang menjualnya kebanyakan adalah orang Simawang, terutama di Jorong Ombilin. Pemasarannya sampai ke Dumai, Pekanbaru, Jambi, dan Jakarta. Untuk dikirim jauh, pangek tidak diberi pengawet kimia, tetapi cukup dengan melebihkan garamnya saja,” kata sang walinagari.

Untuk memperkaya rasa, terangnya, bumbu dilengkapi dengan asam camin-camin atau ceremai, tidak memakai jeruk nipis.

Penasaran? Ayo berburu ke pinggiran Danau Singkarak di sepanjang Nagari Ombilin. Pangek simawang juga bisa ditemukan di pasar Kota Padang Panjang setiap Senin dan Jumat. Ada juga di Pasar Batusangkar setiap Kamis.(Musriadi Musanif)