SAWAHLUNTO – Kondisi sejumlah pasar di Kota Sawahlunto yang sejak lama tidak mendapat perbaikan mulai dibenahi pemerintah daerah. Pada 2026, tiga pasar mendapat alokasi anggaran untuk perbaikan melalui Transfer Keuangan Daerah (TKD).
Kepala Dinas Perindagkop Kota Sawahlunto, Tatang Sumarna, SE, mengatakan Pasar Sawahlunto terakhir mendapat perbaikan pada 2009. Sejak itu, kondisi pasar semakin memprihatinkan dan membutuhkan pembenahan.
“Sejak tahun 2009 Pasar Sawahlunto tidak ada perbaikan, bahkan kondisinya sudah mengkhawatirkan,” ujar Tatang saat ditemui Topsatu.com di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2026).
Ia menjelaskan, pada 2026 terdapat tiga pasar yang mendapat perhatian untuk dilakukan perbaikan, yakni Pasar Sapan, Pasar Sawahlunto dan Pasar Talawi.
Untuk Pasar Sapan, pemerintah melakukan pembongkaran dan pembangunan kembali dengan anggaran sekitar Rp700 juta. Pekerjaan tersebut saat ini tengah dilaksanakan oleh CV Duta Mega Prospecta.
Tatang memastikan seluruh pedagang yang sebelumnya memiliki petak di Pasar Sapan tetap mendapatkan tempat setelah pembangunan selesai.
“Semua pedagang nantinya tetap mendapat tempat sesuai petak yang dimiliki sebelumnya,” katanya.
Selain bangunan utama, Pasar Sapan juga akan dilengkapi bangunan los dengan desain yang disesuaikan dengan bentuk los tempo dulu. Pemerintah juga melakukan pemasangan dam dan tangga dari bibir jalan untuk mendukung akses serta kenyamanan pasar.
Sementara itu, perbaikan di Pasar Sawahlunto difokuskan pada penggantian atap. Kondisi atap pasar yang sudah banyak mengalami kebocoran dinilai perlu segera ditangani agar aktivitas perdagangan tidak terganggu.
Sedangkan Pasar Talawi mendapat pekerjaan pengecatan kembali dengan anggaran sekitar Rp191 juta.
Tatang berharap perbaikan ketiga pasar tersebut dapat meningkatkan kenyamanan pedagang dan pembeli sekaligus memperindah wajah Kota Sawahlunto sebagai kota warisan budaya dunia UNESCO.
“Diharapkan perbaikan tiga pasar tersebut dapat membawa kenyamanan bagi pedagang maupun pembeli serta memperindah wajah Sawahlunto sebagai kota warisan budaya dunia UNESCO,” ujarnya.
Pedagang SILO Kembali Ditata
Selain pembenahan fisik pasar, Pemko Sawahlunto juga terus melakukan penataan terhadap pedagang yang sebelumnya dipindahkan dari kawasan Lapangan Segitiga, GPK dan depan KONI ke kawasan SILO PTBA UPO.
Pemindahan tersebut sebelumnya sempat mendapat protes dari pedagang karena kawasan SILO dinilai sepi pembeli.
Menurut Tatang, saat ini para pedagang tersebut diberikan kesempatan untuk berjualan di sejumlah lokasi, yakni di depan Bank Mandiri, seberang Gereja Santa Lucia dan kawasan Kampung Teleng.
Namun, kebijakan tersebut bersifat sementara. Pedagang akan kembali ke kawasan SILO setelah penataan kawasan tersebut selesai dilakukan.
“Apabila kawasan SILO telah ditata rapi, pedagang tersebut kembali lagi ke SILO,” katanya.
Tatang menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 118 pedagang yang berjualan di kawasan SILO. Keberadaan mereka, kata dia, turut menopang kehidupan sekitar 400 orang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan tersebut.
Sebagian besar pedagang di kawasan itu bergerak di sektor kuliner.
“Sebagian besar pedagang di SILO merupakan pedagang kuliner,” pungkas Tatang. (sbd)












