Sapta Nirwandar: TdS Tanpa Singkarak, Lupa Sejarah

oleh -6.206 views
Start pebalap TdS di Lapangan Segitiga Sawahlunto. (official)

PADANG-Pelaksanaan Tour de Singkarak 2019 yang direncanakan meniadakan rute ke Danau Singkarak merupakan langkah mundur. Sebagai brand destination, mestinya pelaksanaan event sport and tourism ini tetap melintasi danau yang indah di Kabupaten Solok tersebut.

Hal itu ditegaskan Penggagas lahirnya Tour de Singkarak, Sapta Nirwandar. Kepada Singgalang dia memaparkan, menjadikan suatu event sebagai brand destination tidaklah mudah dan murah.

Tour de Singkarak yang sudah dilaksanakan sejak 2009 telah susah payah dirancang dan dikembangkan menjadi event internasional. Bahkan, telah meraih peringkat kelima dari sisi penonton yang tidak hanya ramai, tapi juga antusias dan tertib.

Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di masa dia masih berdinas di sana dituturkan Sapta telah melakukan banyak hal, diantaranya melakukan studi banding ke Tour de Franch yang amat terkenal di dunia dan sudah melaksanakan event tersebut lebih dari 100 tahun.

Juga melaksanakan banyak kerjasama dengan pihak terkait yang berkompeten di bidang balap sepeda, seperti UCI, Ikatan Sepeda Sport Indonesia, dan lainnya. Semua itu lanjutnya tentu tidak mudah dan tak murah, namun demi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri ke Sumatra Barat yang kaya potensi wisata.

“Sumatra Barat kaya potensi wisata, memiliki danau yang indah-indak, seperti Singkarak, Maninjau, Danau Ateh dan Bawah. Semua itu bagus jadi brand destination, seperti halnya danau-danau lain di dunia yang banyak menjadi ikon wisata suatu negara,” ujar Sapta yang tak pernah absen dalam pelaksanaan TdS pertama hingga gelaran ketujuh.

Tour de Singkarak menurutnya juga sukses melahirkan event yang sama, seperti Tour de Flores, Tour de Banyuwangi, Tour de Ijen, dan lainnya. Namun itu masih berbeda kelas, karena TdS sudah lebih dulu mendunia dengan brand Singkaraknya.

“Sebagai brand, dia harus tetap dilintasi, karena pasti orang penasaran seperti apa danau itu. Tour de Franch selalu melibatkan negara yang menjadi brand-nya, begitu juga Tour de Jakarta. Tidak pernah ditinggalkan,” tegasnya.

Bila benar, TdS tahun ini tidak melintasi Singkarak, maka menurutnya itu kesalahan pemerintah pusat dan daerah. TdS telah menyelamatkan marwah wisata Sumbar yang terpuruk pascagempa dasyat 30 September 2009.

“Mestinya seperti kata Bung Karno, Jas Merah, Jangan Melupakan Sejarah,” tegasnya lagi.

Menggagas bersama Gusmal

Sapta me-review kenangan ke beberapa tahun silam, saat H.Gusmal datang kepadanya membicarakan tentang upayanya memajukan Kabupaten Solok yang dipimpinnya. “Beliau waktu itu datang ke saya dengan niat memajukan daerah dari sisi wisata. Kemudian saya tanya, apa yang ada di sana? Beliau jawab salah satunya Danau Singkarak yang katanya indah.

Ternyata setelah saya lihat benar view-nya begitu luar biasa,” kisahnya.

Setelah melihat dari dekat, mereka kemudian merancang lebih jauh apa yang dapat dilakukan guna memajukan daerah tersebut khususnya dan Sumatra Barat umumnya.

“Mulanya mau buat culture destination, namun dalam perkembangannya setelah kita bicarakan lebih jauh dan melihat keberhasilan negara lain, yang salah satunya memajukan negara dengan event sport and tourism atau olahraga dan wisata, sehingga kita kemaslah Tour de Singkarak ini,” ceritanya lagi.

Perjalanan waktu menurutnya menjadikan TdS makin matang. Mulanya di tahun pertama dan kedua, event ini diakuinya memang belum terlalu diperhitungkan. Tapi seiring waktu, event tersebut mampu menunjukkan kelasnya dan diminati para pebalap asing.

Prestasi posisi lima besar dunia event balap sepeda pun mampu diraih. TdS pun berhasil mengangkat keterpurukan Sumbar pasca bencana.

“Sumbar tak hanya kaya potensi alam “nan rancak bana”, budaya yang luar biasa, tapi juga kuliner nan lamak bana. Tapi, tanpa promosi tentu orang tak akan tahu. Nah, TdS inilah yang kita gagas sebagai branding-nya, branding destination,” pungkasnya. (yuni)

Loading...