Ragam  

Saatnya Kembali ke Ayam Kampung

PENYUKA daging ayam kini semakin galau. Keberadaan daging ayam potong di pasaran kian langka. Jika pun ada, harganya ‘menggila’.

Ayam potong kini memang sedang ‘naik daun’. Selain konsumennya yang terus bertambah, harganya pun relatif mahal. Sekitar sebulan lalu, harga ayam potong sempat menembus angka Rp60 ribu perkilogramnya. ‘Induak-induak’ jadi terpekik. Pedagang ayam pun menghilang.

Imbas naiknya harga daging ayam membuat pedagang ayam goreng kaki lima terpaksa harus menaikkan harga. Sepotong ayam goreng yang biasanya dijual Rp8 ribu perpotong, naik menjadi Rp11 ribu sepotongnya. Lucunya, ayam goreng di rumah makan atau restoran tidak mengalami hal serupa. Harga perpotong tetap stabil. Daging ayam juga tak pernah langka di tiap rumah makan maupun restoran.

Lalu kenapa harga daging ayam bisa naik drastis di pasaran? Cukup banyak isu yang berkembang di tengah masyarakat. Ada yang menyebut semua dikarenakan banyaknya permintaan daging ayam di luar Sumbar. Akhirnya peternak menjual ayamnya ke luar daerah. Sehingga stok ayam untuk Sumbar menipis.

Isu itupun langsung dibantah Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Padang, Syahrial. Menurutnya, ayam di Sumbar bukan dijual ke luar daerah. Justru terjadi subsidi silang antar daerah di Sumbar.

Saat melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Raya Padang, beberapa waktu lalu, Dinas Ketahanan Pangan Kota Padang mendapati kios ayam yang sepi pedagang. Setelah dicek, cukup banyak pedagang yang enggan berjualan. Ini dikarenakan sangat minimnya pasokan ayam kepada mereka. Sebab, petani atau peternak ayam mengalami kerugian karena kebijakan pemerintah agar peternak tidak menggunakan vaksin Antibiotic Growth Promotor (AGP) kepada ayam. Sementara perusahaan yang membeli ayam kepada petani / peternak masih dengan harga lama.

Larangan penggunaan vaksin AGP untuk membantu percepatan pertumbuhan ayan membuat umur panen ayam semakin lama. Biasanya hanya 23 hari saja ayam sudah bisa dilempar ke pasaran, kini petani / peternak harus menunggu lama hingga sebulan. Imbasnya, biaya meningkat. Pakan ayam bertambah. Apalagi, dengan tanpa vaksin, daya tahan tubuh ayam menurun sehingga banyak yang gagal panen.

Sebenarnya, kebijakan pemerintah untuk melarang penggunaan vaksin AGP dirasa tepat. Ayam yang ‘dipaksa’ untuk cepat tentunya tidak baik bagi kesehatan konsumen. Meski belum dirasakan efeknya saat sekarang, namun akan dirasakan pada waktu mendatang.

Karena itu Pemerintah Kota Padang mengimbau dan mengajak warganya untuk kembali mengonsumsi ayam kampung. Meninggalkan ayam broiler. Sebab, selain karena menyehatkan, ayam kampung juga enak dikonsumsi.

“Tidak mahal untuk kesehatan yang lebih baik,” tutur Syahrial.

Menggalakkan kembali konsumsi ayam kampung, Pemko Padang berencana bekerjasama dengan kampus. Universitas Andalas akan digandeng untuk membuat mesin penetas. Petani akan dilatih dulu oleh pihak Unand bagaimana cara membibitkan ayam kampung.

“Semua ini memang rencana jangka menengah. Langkah awal kita coba dengan memberikan anak ayam gratis kepada masyarakat,” ujar Kadis Ketahanan Pangan ini.(Charlie Ch. Legi)