Rumah PDRI Menunggu Ambruk, Pemprov tak Peduli

BUKITTINGGI – Rumah PDRI yaitu rumah dinas Gubernur Sumatera Tengah, Tengku Mohd Hasan, menunggu runtuh. Pemko Bukittinggi, sudah berdaun muncungnya memohon kepada pemprov Sumbar, agar diizinkan untuk, tapi diabaikan. Tak dianggap.

Dikelola tidak, diminta tak diberikan, bertahun-tahun demikian. Buktinya, tak dimanfaatkan sebagai museum atau destinasi wisata. Di rumah itulah, PDRI diputuskan pada 1948. Sejarah sehebat itu, diabaikan saja, dianggap aset biasa saja.

“Kita memohon agar diserahkan ke Pemko Bukittinggi saja untuk dikelola,” kata Sekda Bukittinggi, Yuen Karnova kepada Singgalang, Sabtu (7/11).

Rumah bersejarah itu berlokasi di Parak Kopi, di belakang eks Bisokop Sovia, Bukittinggi. Sebuah video dari channel Minang Kabar berdurasi 03.30 menit diberi judul, “Rumah Tua PDRI”.

Pemilik channel menarasikan sebagi berikut:
“Sanak Minang Kabar, hadir di rumah tua PDRI, Bukittinggi. Rumah ini saksi sejarah. Di sini ada sebuah episode penting. Rumah tua ini, rumah dinas gubernur Sumteng Tengku Mhd Hassan. Pada 19 Desember 1948 diadakanlah rapat dalam kondisi darurat untuk menanggapi kondisi Indonesia yang semakin genting. Saat itu roda pemerintahan diambialih oleh tim PDRI dengan rapat awal di Istana Bung Hatta sekarang, kemudian rapat lanjutannya diadakandi rumah dinas gubernur Sumteng. Lokasinya di Parak Kopi, belakang biskop Sovia atau dekat hotel Sumatera. Kondisinya sudah sangat menyedihkan. Atap banyak yang hilang, dinding sudah rapuh, bahkan sudah retak, terpengaruh mungkin oleh gempa dan termakan usia. Rapat di rumah inilah ditetapkan Mr Sjafruddin Prawiranegara sebagai ketua PDRI. Rapat 19 Desember 1948 itu dilanjutkan 22 Desember 1948. Gencarnya Belanda yang menyerang berbagai kota di Indonesia, menyebabkan rumah ini juga menjadi lokasi sender radio. Akankah rumah tua PDRI kita biarkans seperti ini?”

Di Bukittinggi aset bersejarah bukan hanya gedung Tri Arga yang berganti nama itu, tapi banyak sekali, yang seolah-olah dibiarkan terlantar. Menurut sejumlah warga, jika dikelola untuk destinasi wisata, akan memperkokok kota itu sebagai kota sejarah. (kj)