Raih 145 Ribu Suara, Mulyadi Cetak Sejarah

oleh -1.403 views

PADANG-Fantastis dan fenomenal. Itulah yang pas dialamatkan kepada Mulyadi, Caleg Partai Demokrat untuk DPR dari Dapil Sumbar 2 ini. Dari 81 caleg yang bertarung (dari 14 parpol, minus Hanura dan PKPI), Mulyadi sukses meraup 145.010.

Raihan ini sekaligus mengukir sejarah pencalegan di daerah ini. Jika dikalkulasikan dengan total suara sah di Dapil Sumbar 11 untuk DPR RI yang mencapai 1.176.300 suara, maka politisi prorakyat ini mendapat dukungan 12,4 persen.

“Ini adalah persentase elektabilitas tertinggi sepanjang sejarah pileg di Sumbar. Untuk mencapai angka 10 persen saja di tengah kompetisi alot, agak susah,” ujar pengamat politik dari Unand , Edi Indrizal.

Dia menyebut, pencapaian persentase elektabilitas itu, tak terlepas dari kiprah yang diperbuat Mulyadi selama mengabdi di Senayan. Amanah yang diberikan rakyat kepada Mulyadi, benar-benar dilakoni dengan baik.

Meskipun Pemilu 17 April lalu di Sumbar bisa dikatakan milik Prabowo-Sandi yang memperoleh 87 persen suara. Momentum Pilpres dan Pileg bersamaan ini membuat Partai Gerindra sangat beruntung karena mendapat efek ekor jas yang luar biasa.

Tetapi karena personal Mulyadi sangat kuat dalam ingatan masyarakat Sumbar yang telah berbuat selama ini, walau Gerindra juara di Dapil Sumbar 2, tetapi secara personal, suara Mulyadi tetap tak terkalahkan oleh caleg lain.

“Saat kami survei elektabilitas calon anggota DPR dari Sumbar, khusus Mulyadi tak hanya dikenal, tapi juga paling disukai. Faktor pendorongnya, antara lain adalah sukses menggiring dana APBN ke Sumbar yang boleh dikatakan melebihi porsinya. Hasilnya membekas sehingga rakyat Sumbar, sulit melupakan jasa Mulyadi,” terangnya.

Edi Indrizal benar. Para kader Demokrat mengakuinya. Masyarakat pun menikmatinya. Misalnya, Fly over kelok sembilan yang ‘berkelas’ dan mendunia itu, sulit masyarakat memisahkannya dengan Mulyadi. Karena dialah aktor percepatan pembangunan kelok sembilan hingga tuntas dan dimanfaatkan hingga sekarang.

Lalu, kelanjutan pembangunan irigasi Batang Anai di Padang Pariaman, pembangunan rusunawa untuk puluhan pondok pesantren (ponpes) dan sejumlah infrakstruktur lainnya, termasuk hand tracktor,becak motor, lampu penerangan jalan.

Bahkan karena juga menggiring program bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) untuk Agam, Padang Pariaman, Limapuluh Kota, Pasaman, Pasaman Barat, Payakumbuh, Bukittinggi dan Pariaman, ribuan KK miskin di daerah ini, sulit melupakan jasa Mulyadi.

Dilihat dari total keseluruhan suara yang diraih parpol pada Pileg 17 April lalu, Demokrat hanya menempati kursi ketiga, setelah Partau Gerindra yang mendapat sekitar 223.891 suara dan PKS sekitar 199.737 suara. Demokrat sendirinya hanya 197.834 suara dan sekitar 144.954 di antaranya disumbangkan oleh Mulyadi.

Kursi keempat direbut PAN dengan raihan suara total sekitar 151.476 suara, kursi kelima Partai Golkar dengan raihan suara total 79.023 dan kursi keenam, PPP dengan total raihan 78.378 suara.

Tak heran ada yang bicara nyeleneh. Katanya, Mulyadi saja seorang yang bertanding, sudah mengantarkan Demokrat melenggang ke Senayan, mengalahkan ‘sepasukan’ (baca enam caleg) Partai Golkar dan ‘sepasukan’ PPP.

Raihan suara Mulyadi tersebut, juga meningkat siginifikan dibanding Pileg 2014. Ketika itu, Mulyadi hanya meraup suara dukungan pribadi tak sampai 100 ribu suara, tepatnya 84.563 suara. Artinya, selisih peningkatan suara Mulyadi antara Pemilu tahun 2014 dengan Pemilu 2019 silam mencapai 60.447 suara.

Bahkan dalam cacatan Singgalang, pada Pileg 2014, dengan raihan 84.563 suara, Mulyadi peraih suara tertinggi dari 14 caleg yang lolos ke Senayan. Padahal raihan secara partai, Demokrat berada di bawah Partai Golkar dan Partai Gerindra. Sama dengan Pileg 2019, Mulyadi juga terbanyak meraup suara dari 14 caleg yang lolos ke Senayan, sedangkan secara partai, Demokrat berada di bawah Partai Gerindra dan PAN.

Boleh dikata, dua kali berturut-turut, menjadi peraih suara tertinggi dari seluruh caleg yang bertanding menuju ke Senayan, adalah rekor bagi perpolitikan di Sumbar. Mulyadi menggoreskannya. Rasanya rekor ini baru bisa dilakukan paling cepat 15 tahun dari sekarang.

Dari hasil rekapitulasi hasil penghitungan suara yang telah dituntaskan KPU Sumbar, Sabtu malam (11/5), Mulyadi hampir merajai perolehan suara di 8 kota dan kabupaten pada Dapil Sumbar II. Ia hanya kalah di Kota Pariaman dan Pasaman.  Di Pariaman, Ade Rizki Pratama (Gerindra) peraih suara terbanyak dengan capaian 3.566 suara pribadi. Mulyadi meraih 2.298 suara. Di Pasaman, Ade Rizki meraih 16.173 suara dan Mulyadi 13.136 suara.

Mulyadi tak terbendung di enam kota/kabupaten lainnya di Dapil Sumbar II dengan capaian yang begitu tinggi. Di Bukittinggi, Mulyadi mengumpulkan dukungan pribadi hingga 20.035 suara. Di Payakumbuh, Mulyadi berhasil mengumpulkan dukungan 6.056 suara.

Agam, menjadi kantong terbesar menyumbang suaranya, yakni mencapai 41.916 suara. Begitu juga di Limapuluh Kota, Mulyadi mengumpulkan suara hingga 27.699 suara. Di Padang Pariaman, Mulyadi jadi terdepan, meraup 15.623 suara dan dibayangi ketat politisi Golkar, John Kennedy Azis dengan capaian  15.028 suara. Di Pasaman Barat, Mulyadi juga terdepan dengan raihan 18.191 suara.

Dengan suara yang meningkat dari Pemilu sebelumnya, Mulyadi berterima kasih kepada pemilih di Sumbar 2. Menurutnya, hal itu didapat dari begitu kuatnya tekad masyarakat di 8 Kabupaten/Kota itu agar dirinya kembali melaju ke DPR RI. ”Begitu juga dengan tim kami yang bekerja siang malam, serta kader Partai Demokrat yang begitu serius membantu kami,” kata Mulyadi. (015)

Loading...