PAINAN – KONI Pesisir Selatan (Pessel), dengan terpaksa, akhirnya ikut Porprov XVI Sumbar 2026, yang diselenggarakan pada 2 – 12 Oktober.
Keputusan mengejutkan ini, diungkapkan secara bersama-sama, dengan para Cabor yang ikut hadir, di gelaran Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) II KONI Pessel bersama OPD, di Painan, Senin 28 September 2026.
Padahal, sebelumnya, KONI Pessel bersama para Cabor sudah sepakat, untuk tidak mengirimkan kontingen, kalau gelaran Porprov dipaksakan pada 2 – 12 Oktober.
KONI memilih opsi meminta pelaksanaan dimundurkan 1–12 Desember 2026 — Kesepakatan ini dituangkan bersama dalam Rakernis I KONI Pessel Kamis, 17 September 2026, lalu.
“Pessel adalah peserta yang ke 18 mendaftar untuk ikut Porprov, dari 19 Kabupaten/Kota di Sumbar. Dan, mendaftar pada Minggu 27 September 2026, pukul 15:30 WIB,” ucap Ketua KONI Pessel M Adli, dalam jumpa wartawan di Sekretariat PWI setempat, Senin malam.
Ada beberapa pertimbangan, terang M Adli, terutama adanya perubahan mencolok (bertolak belakang) dari dua Rakornis KONI yang dilakukan di bulan (September) ini.
“Alasan pertama kami, adalah atlet. Sebagaimana curhat mereka melalui official nya, karena Porprov merupakan jenjang karir mereka, ke tingkat lanjutan,” ujarnya.
Maka, lanjutnya, ada kekhawatiran kalau tidak ikut, nantinya akan mengganjal karir mereka ke iven lanjutan, seperti nasional dan lainnya —ada sekitar 695 atlet di Pessel.
“Selain itu, ini juga menyangkut nama daerah juga, konteksnya kita Pessel tidak mau juga ketinggalan sendiri (tidak ikut Porprov),” ucap M Adli, diamini Kadiparbudpora Ronald Bernando, dan jajaran KONI Pessel.
Berangkat dengan Dana Pribadi ?
Gondo, Wakil Sekretaris KONI Pessel menambahkan, selain alasan utama keberangkatan tadi atlet, beberapa pimpinan cabang olahraga, juga mengungkapkan keinginan bersedia berangkat dengan menggunakan dana sendiri-sendiri (pribadi).
“Permintaan tersebut, diungkapkan hampir dari 30 persen pimpinan Cabor ke kami, dalam beberapa pertemuan,” ucapnya.
Tapi pastinya, lanjut Gondo, akan riskan kalau dibiarkan seperti itu. Terutama para atlet
“Berdasarkan itu pula kami berkoordinasi lagi bersama pimpinan Cabor, OPD, dan lahirnya keputusan rakornis KONI Pessel II, ini,” ujar Gondo.
Dalam Rakornis KONI Pessel II tadi, terang dia lagi, pihak OPD melalui Badan PKPAD memberi penjelasan serta gambaran, pencairan dana, berkemungkinan dapat dilaksanakan ditanggal 5 Oktober 2026.
Kemudian, pihak Inspektorat Daerah, mengatakan, kalau pencairan anggaran dilaksanakan sepanjang pelaksanaan Porprov, antara tanggal 2 – 12 Oktober , dana masih boleh dibayarkan.
“Alhasil, sekitar 50 persen pimpinan Cabor yang hadir —hadir 38 dari 47 cabor— setuju dilakukan pembayaran, sesuai dengan arahan BPKPAD dan Inspektorat Daerah,” ujar Gondo.
Pola Pergantian Dana Cabor ?
Dalam Rakornis KONI II tadi, kami juga mengundang OPD terkait dan berkepentingan. Seperti Kabag Hukum, BPKPAD, Inspektorat, Pariwisata, dan lainnya.
Tentunya, juga ikut merumuskan beberapa point, terkait bagaimana cara pencairan dana hibah, untuk pergantian keberangkatan dengan biaya sendiri – sendiri tadi oleh para Cabor.
“Apakah itu tunda bayar, atau telat bayar. Itu telah disebutkan juga, dan akan diintensifkan di beberapa pertemuan lanjutan bersama para pimpinan Cabor. Salah satunya dengan menggelar acara Bimbingan Teknis (Bimtek), dalam waktu dekat ini,” ujar Ketua KONI Pessel, M Adli.
Tujuannya, bagaimana para cabor bisa lebih memahami bagaimana tata cara penggunaan dana hibah ini yang sesuai aturan.
“Dan pastinya, sesuai aturan dan tidak melanggar,” ucapnya.
Hanya 4 Item Bisa Dibayarkan ?
Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Parbudpora), Ronald Bernando, menegaskan, kendati para Cabor berangkat Porprov dengan dana sendiri-sendiri, tidak semuanya bisa dilakukan pembayarannya.
“Terkait Pengadaan Barang, tidak bisa dibayarkan dengan dana Hibah KONI, karena waktu pelaksanaannya sangat mepet sekali (2 – 14 Oktober 2026),” tegas Ronald Bernando. Tapi yang bisa dibayarkan alias dilakukan pergantian ke Cabor hanya 4 item saja yakni biaya makan minum, transportasi, akomodasi/penginapan, dan uang saku atlet.
“Termasuk seragam Defile, juga tidak bisa dilakukan pengadaannya,” Ronald Bernando. (*)












