Pertamina Lakukan Sinergi Energi Tanpa Henti

oleh
Pertamina bersinergi dengan UMKM, hadirkan minimarket di SPBU. hendri nova
PADANG-PT Pertamina terus melakukan sinergi energi tanpa henti, sebagai bukti kontribusi dan dedikasi bagi Indonesia tercinta. Sinergi ini berdampak baik bagi Indonesia dan tentunya perusahaan dengan datangnya beragam keuntungan dan penghematan.
Menurut Direktur Pengolahan Pertamina, Budi Santoso Syarif, yang beberapa waktu lalu menandatangani kesepakatan kerjasama dengan Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman, sinergi dengan PLN ini membuat Pertamina hemat Rp2,79 Triliun per tahun.
“Proyeksi kebutuhan total daya listrik yang akan digunakan kilang-kilang minyak itu sebesar 217 (Mega Volt Ampere) MVA dan selanjutnya dapat bertambah 104 MVA,” katanya seperti dirilis pertamina.com.
Rencananya, layanan kelistrikan PLN untuk kilang berlangsung dalam dua tahap dan akan menghasilkan penghematan biaya listrik untuk operasional pembangkit sekitar Rp2,79 triliun per tahun.
“Kilang minyak ini membutuhkan pasokan listrik yang besar dan stabil. Jika total beban listrik di seluruh kilang dipasok oleh PLN, maka berpotensi menghasilkan penghematan di lingkungan kilang. Jumlahnya sangat signifikan setiap tahun. Kami mengharapkan PLN mampu memberikan pasokan listrik yang cukup,” ungkap Budi Santoso Syarif.
Budi menegaskan, selain dari menghasilkan penghematan biaya penyediaan listrik, kerja sama ini akan memberikan manfaat tambahan bagi kilang Pertamina yakni kebutuhan fuel oil akan menurun, karena fuel oil yang tadinya digunakan untuk menghasilkan listrik bisa diubah menjadi produk yang lebih valuable seperti solar. Pertamina juga akan  fokus pada operasional dan pemeliharaan Kilang, fleksibilitas pengaturan O/H steam boiler, dan dapat menurunkan Energy Intensitas Index (EII).
Sementara Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman menyatakan PLN siap memenuhi listrik kilang-kilang minyak dengan layanan khusus.  “PLN siap memasok listrik untuk kilang minyak Pertamina, baik dari sisi pembangkit maupun jaringan transmisinya, dengan kualitas dan keandalan yang tinggi tentunya,” ujar Syofvi.
Saat ini, Pertamina telah memanfaatkan listrik PLN walaupun sebatas untuk perumahan/apartement dan perkantoran dengan tegangan menengah 20 kV, untuk 3 kilang yaitu RU IV, RU V dan RU VI totalnya mencapai sebesar 15,7 MVA. Selain itu,  khusus RU V saat ini memasuki tahap konstruksi penyambungan dari PLN dengan kapasitas penyambungan 31,5 MVA dengan Tegangan Tinggi  150 kV untuk memasok beban kilang yang non kritikal seperti  Lube Oil Complex (LOC).
“Kami berharap PLN bisa terus mengembangkan jaringan listrik  dan kualitas listriknya sehingga  pasokan listrik ke kilang benar-benar handal dan operasi kilang menjadi lebih handal dan efisien,” pungkas Budi.
Selain itu, Pertamina juga bersinergi dengan PPATK sebagai ikhtiar untuk memastikan kerja bersih. Bagi Pertamina, tindak pidana merupakan hal yang sangat merugikan perusahaan. Salah satu bentuk tindak pidana tersebut adalah pencucian ulang (money laundry), di mana dapat dilakukan oleh perseorangan dan/atau secara berkelompok dan terencana, sehingga cukup sulit dalam membuktikannya.
Untuk itukah Chief Audit Executive (CAE) beserta jajaran Vice President (VP) berkesempatan menyambangi Kantor PPATK pada 22 Januari 2018. Mereka bertemu dengan Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin beserta tim PPATK lainnya, Irjen (Pol) Firman, Salman, Aris, Diana, Kombes (Pol) Rahmawati dan Agung.
Pertemuan tersebut meng­hasilkan empat milestone. Pertama, pemutakhiran Me­morandum Of Understanding antara Pertamina dengan PPATK. Kedua, pertukaran data/informasi yang dapat diinisiasi oleh kedua belah pihak. Ketiga, data keuangan tersebut akan digunakan sebagai salah satu pemenuhan syarat untuk fit & proper test jabatan tertentu di Pertamina. Keempat, pemberian informasi transaksi keuangan milik pekerja Pertamina yang diduga kuat melakukan tindak pidana pencucian uang dan/atau fraud.
Dengan disepakatinya ke­empat hal tersebut di atas, dapat mendorong proses penegakan hukum tindak pidana pencucian uang (money laundry) dan kerja bersih di PT Pertamina (Persero).
Dalam waktu dekat, Pertamina dengan PPATK juga akan melakukan dua agenda bersama, yaitu kesepakatan MOU antara Pertamina (Persero) dan PPATK yang ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina (Persero) dengan Ketua PPATK serta  pelaksanaan awareness oleh PPATK di Pertamina, yang dihadiri Dirut dan Direksi, CAE dan Kejaksaan.
Pertamina Internal Audit (PIA) akan menjadi garda terdepan, dalam memerangi dan melawan tindak pidana pencucian uang (money laundry). Sehingga apa yang telah menjadi goal Pertamina dalam penguatan Human Capital Development menuju kerja bersih dapat tercapai.
Pertamina juga bersinergi dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) demi mewujudkan digitalisasi layanan di sektor energi nasional. Sinergi kedua BUMN ini seperti dikutip dari indotelko.com, dilakukan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Telkom dengan Pertamina tentang Digitalisasi Pertamina.
Ruang lingkup Nota Kesepahaman ini adalah dalam rangka mendukung Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia yang berbasis digital, untuk selanjutnya disebut Digitalisasi Pertamina. Kerjasama meliputi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), rencana kerjasama pemanfaatan (joint utility) asset Telkom dan asset Pertamina, rencana kerjasama dalam rangka Digitalisasi Pertamina yang meliputi proses improvement, digital culture transformation, dan customer experience; rencana kerjasama lainnya yang akan disepakati oleh para pihak.
Kesepakatan ini dihadiri Menteri BUMN Rini M. Soemarno, Direktur Utama Pertamina  Elia Massa Manik dan Direktur Utama Telkom Alex Janangkih Sinaga.
Pertamina juga bersinergi dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Barat, PT Migas Hilir Jabar, untuk memperluas pasar produk gas di Jawa Barat. Sinergi ini menurut Vice President  Domestik Gas Pertamina, Kusnendar, untuk mendorong kemajuan BUMD sekaligus meningkatkan volume penjualan produk gas Pertamina.
Sinergi tersebut dituangkan dalam penandatangan kerja sama yang dilakukan oleh Vice President  Domestik Gas Pertamina Kusnendar dan Direktur Utama PT Migas Hilir Jabar Adianto, di Kantor Pusat Pertamina, pada Selasa (16/1/2018).
Dalam perjanjian tersebut, PT Migas Hilir Jabar akan memasarkan produk  Musicool, Vi-Gas, Elpiji dan Bright Gas. Selain itu, BUMD tersebut disepakati melakukan kegiatan promosi, penyediaan sampel produk dan penjualannya. Termasuk memberikan pelatihan untuk para teknisi yang menjadi konsumen produk Musicool.
Vice President Gas Domestik Pertamina Kusnendar berharap dengan kerja sama tersebut masyarakat Jawa Barat akan semakin mudah mendapatkan produk Pertamina, terutama Vi-Gas. “Sinergi ini tidak hanya akan meningkatkan awareness masyarakat terhadap produk Pertamina, tapi juga meningkatkan volume penjualan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Migas Hilir Migas Adianto berterima kasih dapat memasarkan produk gas Pertamina yang terkenal karena ramah lingkungan, seperti Musicool dan Vi-Gas. Ia berjanji, pihaknya akan mendorong masyarakat untuk menggunakan produk Vi-Gas. “Sebagai BUMD, tentunya kami akan mendorong instansi pemerintahan untuk menggunakan produk tersebut,” ujarnya.
Pertamina juga bersinergi dengan BRI untuk pembayaran non tunai. Hal ini dilakukan PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) l bekerja sama dengan BRI Kanwil Kota Padang, dengan meluncurkan Program Jalur Non Tunai (JNT), yaitu jalur khusus yang diberikan untuk mempermudah masyarakat melakukan pembelian bahan bakar di SPBU Pertamina.
Bertempat di SPBU 14.251.518 Pisang, Kick Off Program Jalur Non Tunai dihadiri oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Endy Dwi Tjahyono, Kepala Otoritas Jasa Keuangan Perwakilan Sumbar, Darwisman, Marketing Branch Manager Pertamina MOR I Sumbar Riau, Aribawa, dan Kepala Pimpinan Wilayah BRI Sumbar, Joni Alwadris. Total terdapat 115 SPBU Pertamina yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Sumatra Barat yang akan berpartisipasi secara bertahap untuk mengikuti program ini.
“Ditargetkan pada Oktober 2018 seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Padang sudah merealisasikan program JNT,” ujar Ari, Marketing Branch Manager Pertamina MOR I saat acara Kick Off Implementasi Transaksi Non Tunai Pembelian BBM di SPBU seluruh Sumatera Barat.
Dalam menyukseskan program JNT, Pertamina MOR I bekerjasama dengan BRI akan terus melakukan sosialisasi agar program tersebut dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Sumatra Barat. “Sebagai BUMN kita bersinergi mendukung program pemerintah dalam ‘Gerakan Nasional Non Tunai’. Kami akan sosialisasikan program ini untuk mengubah budaya masyarakat dalam bertransaksi,” tutur Ari.
Program JNT berlaku bagi semua jenis kartu debit maupun kartu kredit dari bank manapun, yang melakukan transaksi di SPBU Pertamina, termasuk kartu elektronik Brizzi dari BRI. Diharapkan melaui program ini dapat membuat transaksi di SPBU Pertamina menjadi lebih aman serta secara pencatatan transaksi akan lebih akuntabel.
Kepala Kanwil BRI Padang, Joni Alwadris menargetkan 50% transaksi di SPBU Pertamina akan beralih menjadi nontunai dengan menggunakan kartu perbankan. “Akan menjadi sarana favorit pilihan masyarakat karena akan memberikan kemudahan dan solusi praktis dalam pembelian BBM”, ujarnya.
Program ini merupakan wujud realisasi dari sinergi antara Pemprov Sumatra Barat dan Bank Indonesia (BI) untuk bersinergi dengan Pertamina melalui nota kesepahaman yang di tandatangani pada 6 Desember 2017.
“Program ini sebagai dukungan penuh pemerintah daerah serta BI dalam program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT),” tutup Joni.
Pertamina juga bersinergi dengan Honeywell, untuk menghasilkan bahan bakar yang aman bagi lingkungan. Dikutip dari swa.co.id, Pertamina  akan menggunakan teknologi Honeywell UOP untuk menghasilkan bahan bakar yang aman bagi lingkungan.
Harapannya, mereka bisa menghasilkan sejumlah komponen campuran (blending) untuk bensin dengan oktan bernilai tinggi (high-octane gasoline) dan bahan bakar penerbangan (jet fuel) di kilang pengolahan Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia.
Kerjasama ini mencakup penggunaan lisensi dan rekayasa untuk unit CCR Platforming berkapasitas 33.000 barel per hari. Fasilitas tersebut akan memproduksi bahan bakar untuk mesin dengan oktan bernilai tinggi dan unit hydrotreating Unionfining berkapasitas 47.000 barel per hari untuk membuat kerosene jet fuel.
“CCR Platforming unit di Balikpapan akan menjadi unit ke-8 dari Honeywell UOP yang akan digunakan Pertamina, dan merupakan tulang punggung pasokan Pertamina untuk bensin dengan oktan bernilai tinggi,” kata Mike Millard, Vice President & General Manager, Process Technology and Equipment, Honeywell UOP.
Berbagai teknologi dari Honeywell UOP akan membantu Indonesia untuk memenuhi lonjakan permintaan domestik sambil memperbarui spesifikasi bahan bakar yang aman bagi lingkungan (clean fuel) ke taraf Euro IV dan menghapuskan produksi bensin berjenis RONC 88.
Menurut dia, teknologi ini akan menyediakan tingkat produksi tertinggi yang dimungkinkan untuk beberapa jenis bahan bakar tersebut, serta memproduksi 1,2 juta ton per tahun untuk produk petrokimia, paraxylene dan benzene.
Pertamina juga telah memberikan kontrak pada Honeywell UOP untuk memperbesar kapasitas sejumlah unit Unicracking yang dimiliki saat ini di Balikpapan menjadi 60.000 barel per hari. Unit-unit tersebut memasok bahan bakar diesel bermutu tinggi untuk kawasan Timur Indonesia.
Masih banyak lagi sinergi energi dan lainnya untuk keuntungan, kemajuan, dan penghematan yang dilakukan Pertamina dengan berbagai BUMN, BUMD, maupun swasta. Semua itu dalam satu tekad untuk kontribusi dan dedikasi Pertamina bagi Indonesia yang berdaulat dan mandiri dalam energi. (hendri nova)
Loading...