SAWAHLUNTO – Upaya meningkatkan pemahaman dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana dilakukan melalui kegiatan Pelatihan Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana yang digelar di Kantor Desa Salak, Kamis (13/8).
Kepala Bidang Kebencanaan BPBD Sawahlunto, Bet Mukhardi, S.Sos., mengatakan pencegahan dan kesiapsiagaan merupakan dua pilar penting dalam penanggulangan bencana pada tahap pra-bencana. Keduanya bertujuan menekan risiko, meminimalkan korban jiwa, serta mengurangi kerugian dan kerusakan akibat bencana.
“Meski sering disebut secara bersamaan, pencegahan dan kesiapsiagaan memiliki fokus tindakan yang berbeda dalam menghadapi ancaman bencana,” ujar Bet Mukhardi.
Ia menjelaskan, pencegahan (prevention) merupakan serangkaian upaya yang dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi potensi ancaman bencana. Langkah tersebut diarahkan pada sumber bahaya sehingga kemungkinan terjadinya bencana dapat ditekan atau dampaknya dapat diminimalkan.
Salah satu bentuknya adalah pemetaan risiko, yakni mengidentifikasi wilayah yang memiliki potensi bencana dan menyusun zonasi berdasarkan tingkat bahayanya. Pemetaan tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam pengaturan tata ruang, termasuk menghindari pembangunan permukiman di kawasan yang memiliki risiko tinggi seperti lereng curam maupun bantaran sungai.
“Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan melalui pengelolaan lingkungan, seperti penanaman pohon untuk mengurangi risiko abrasi maupun upaya konservasi tanah untuk mencegah longsor,” jelasnya.
Upaya pencegahan juga mencakup edukasi dan penerapan regulasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui sosialisasi aturan mengenai larangan membakar lahan secara sembarangan guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, kesiapsiagaan (preparedness) lebih menitikberatkan pada kemampuan masyarakat dan berbagai pihak dalam memberikan respons yang cepat, tepat, dan efektif ketika bencana terjadi.
Menurut Bet Mukhardi, kesiapsiagaan dapat diwujudkan melalui penyusunan rencana kontinjensi, yakni dokumen yang memuat skenario penanganan keadaan darurat serta pembagian tugas dan koordinasi antarinstansi. Masyarakat juga perlu mempersiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar untuk menghadapi kondisi darurat, seperti makanan, air minum, obat-obatan, dokumen penting, pakaian, dan perlengkapan lainnya.
Selain itu, keberadaan dan pemeliharaan sistem peringatan dini juga menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan. Sistem tersebut dapat berupa sirene tsunami maupun sensor yang mampu mendeteksi potensi pergerakan tanah.
“Simulasi dan latihan evakuasi juga perlu dilakukan secara rutin. Masyarakat harus mengetahui jalur evakuasi serta titik kumpul yang aman sehingga tidak kebingungan ketika bencana benar-benar terjadi,” pungkasnya. (sbd)












