Perjuangan Gigih Demi Shalat di Raudhah

oleh -246 views
Jamaah antri untuk bisa shalat di Raudhah. Hendri nova

PADANG-Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00 Waktu Arab Saudi (WAS), saat rombongan jamaah umrah PT Rindu Baitullah berhasil memasuki Raudhah di Komplek Masjid Nabawi Madinah. Untung saat itu sedang pertukaran jamaah yang sudah selesai shalat di tempat paling Mustajab untuk berdoa tersebut, sehingga bisa langsung masuk antrian.

Rasulullah SAW mengatakan , di antara mimbar dan rumah beliau ada taman-taman surga. Siapa yang berdoa di sana pasti terkabul, termasuk jika minta wafat di Madinah ataupun Makkah.

Jamaah haji atau umrah yang tidak berjuang untuk bisa shalat di Raudhah, maka ia dipastikan rugi. Oleh karena itu, bagi yang tidak mau terlalu berebut, datanglah ke Raudhah di atas jam 12.00 malam.

Jamaah perempuan bisa masuk lewat pintu 25, dengan dipandu seorang ustadzah, sedangkan jamaah laki-laki dipandu langsung Mutawwif Arifurrahman, melalui pintu Babussalam yang buka 24 jam. Sedangkan bagi kaum perempuan, sekitar jam 10.00 WAS tak diperkenankan lagi masuk.

Jika sudah sukses masuk, itu berarti harus menunggu dua gelombang lagi. Tim keamanan menutup portal begitu tak ada lagi terlihat peluang untuk bisa shalat sunnah.

Saat itu jamaah menempel dengan ketat, hampir tak ada ruang untuk berdiri. Begitu satu gelombang keluar, dengan gerak serentak jamaah merangsek ke depan.

“Sekitar 10-15 menit lagi, baru kita bisa masuk. Ikuti saya begitu portal dibuka, kita nanti ke sudut kiri bagian depan. Dahului shalat sunnah Tahiyyatul Masjid, lalu sunnah Hajat, sunnah Mutlak. Lalu berdoa sesuai yang diinginkan. Doakan diri, orang tua, istri, anak, kakak, adik, negara, dan saudara sesama Muslim lainnya,” kata Arif.

Jamaah semua mengangguk tanda mengerti dan bersiap untuk berjuang agar bisa shalat di tempat penuh berkah itu.

Begitu portal dibuka, bak lebah yang di tampar elang, semua jamaah menyebar mencari lokasi yang diinginkan. Semua jamaah langsung shalat dengan khusyuk dalam waktu 10-15 menit.

“Di situasi darurat, ulama memperbolehkan melangkahi orang yang sedang shalat. Tapi sedapat mungkin, kalau bisa hindari dihindari saja,” tambah Arif.

Memang saat shalat, jamaah umrah dari berbagai negara, kadang melangkahi leher orang yang sedang shalat. Mereka melakukan itu agar bisa shalat atau harus segera menyudahi waktu shalat sunnah karena disuruh tim pengamanan untuk segera  giliran keluar dari Raudhah.

Satu kenikmatan dan kesempatan langka untuk bisa shalat sunnah di Raudhah. Entah kapan lagi bisa dapat kesempatan shalat di tempat mulia tersebut.

Setelah shalat, jamaah ziarah ke makam Rasulullah SAW yang letaknya tak jauh di Raudhah. Saat itu hati merasa campur aduk, antara gembira telah berhasil menziarahi makam Rasulullah SAW dengan rasa kuatir jika ini kesempatan terakhir.

Di dekat Raudhah, Imam Masjid Nabawi memimpin jutaan jamaah shalat lima waktu, plus shalat jenazah tiap waktu. Kalau ingin shalat wajib di belakang Imam langsung, maka harus datang 2-3 jam sebelum azan. Jika satu jam sebelum azan, dijamin tak ada lagi tempat tersisa.

Jamaah shalat di Masjid Nabawi tak hanya dalam masjid tapi juga di pelataran. Cuaca Madinah yang masih sejuk di suhu 21 Derajat Celcius, memungkinkan jamaah santai shalat di luar.

Di depan atau di samping saf jamaah, disediakan air Zam-Zam yang boleh diminum di tempat ataupun dibawa pulangke hotel. Jamaah ada yang membawa botol minum kemasan dan ada juga yang berbekal galon kecil, agar bisa diminum lebih puas.

Tak hanya saat ingin shalat membutuhkan perjuangan untuk mendapatkan tempat, saat selesai shalat pun juga butuh perjuangan. Untuk sampai ke hotel, tingkat kerapatan jamaah kadang membuat jamaah harus jalan pelan-pelan, sampai mereka tiba di hotel masing-masing. (Hendri Nova)

Loading...