Pentingnya Campur Tangan Pemerintah Hadirkan Area Bermain Anak

oleh
Menemani anak bermain air di kolam renang, merupakan bagian hak anak untuk dapat bermain di tempat layak anak dan makin menumbuhkan kasih sayang. hendri nova

Hendri Nova
Wartawan topsatu.com

“Pa, ke Taman Bermain Imam Bonjol yuk…!!!”
Zaid, anak saya bergelayut manja di lengan, dengan wajah penuh harap menatap mata saya, minta permohonannya dikabulkan. Di hari libur sekolah, ia sangat berharap bisa bergembira dengan kakaknya di taman bermain.

Taman Imam Bonjol memang menjanjikan arena bermain bagi anak-anak, dengan beberapa pilihan permainan. Area yang lapang, membuat mereka bebas berlari di wahana yang mendukung. Tentunya tanpa kuatir ditabrak kendaraan.

Kalau di komplek, arena bermain anak-anak terbatas. Paling mereka main di jalan gang yang hanya berukuran lima meter. Jika kendaraan lewat, mereka harus menyingkir dulu. Setelah kendaraan berlalu, barulah anak-anak melanjutkan permainannya.

Developer yang membangun komplek perumahan tak sedikitpun menyisakan tanah untuk arena bermain. Mereka hanya menyisakan tanah beberapa meter, untuk fasilitas ibadah dan sedikit ruang berolahraga.

Tanah untuk olahraga itu kadang dibangun menjadi lapangan bulu tangkis ataupun lainnya. Alhasil, anak-anak tanpa ruang bermain. Sekali-sekali jika tak ada yang berolahraga, anak-anak menjadikan lokasi itu bermain petak umpet.

Tentu tak hanya di komplek saya. Di banyak komplek yang lain, nasibnya juga sama. Anak-anak sama sekali tak memperoleh sarana bermain, sehingga mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam atau sekitaran rumah.

Tak mengherankan, anak-anak sekarang tak pandai bermain sepakbola, jika tak gabung dengan klub bola. Mereka tak bisa main galah, patuk lele, dan masih banyak lagi mainan tradisional lainnya.
Bisa dikatakan, mainan tradisional yang dulu saya mainkan sewaktu kecil, tak bisa saya wariskan pada anak-anak, meski keinginan untuk itu ada. Permainan tradisional di era 80-90-an itu memang ada yang butuh area bermain yang lapang.

Tanpa ada area lapang, permainan yang melibatkan 5-10 orang itu tak bisa dimainkan. Karena itulah, permainan anak-anak komplek akhirnya hanya bisa petak umpet, dan beberapa jenis mainan tradisional lainnya.

Paling banyak mereka bermain gadget yang mengakibatkan banyak anak-anak memakai kacamata meski masih belia. Jika dulu hanya orang yang sudah berumur yang memakai kacamata, sekarang anak-anak SD sudah banyak berkacamata.

Pentingnya Bermain Bagi Anak

Menurut buku ‘Games Therapy untuk Kecerdasan Bayi dan Balita’ yang ditulis oleh Psikolog Effiana Yuriastien dan kawan-kawan, seperti dikutip dari wolipop.detik.com, ada 9 (sembilan) manfaat bermain bagi anak.

Pertama, memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri. Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain.

Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri mereka dan membuatnya merasa mampu mengendalikan diri. Permainan memotong kertas, mengatur letak atau mewarnai misalnya dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Tidak ada batasan yang harus diikuti.

Identitas dan kepercayaan diri dapat berkembang tanpa rasa ketakutan akan kalah atau gagal. Pada saat anak menjadi semakin dewasa dan identitasnya telah terbentuk dengan lebih baik, mereka akan semakin mampu menghadapi tantangan permainan yang terstruktur, bertujuan dan lebih dibatasi oleh aturan-aturan.

Kedua, menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri. Permainan mendorong berkembangnya keterampilan, fisik, sosial dan intelektual. Misalnya perkembangan keterampilan sosial dapat terlihat dari cara anak mendekati dan bersama dengan orang lain, berkompromi serta bernegosiasi.

Apabila anak mengalami kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan membantu mereka menghadapi kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya pada saat mereka benar-benar harus bertanggungjawab.

Ketiga, melatih mental anak. Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus mendapatkan pengetahuan baru.

Orangtua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati saat bermain. Bahkan, lewat permainan (terutama bermain pura-pura) orangtua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orangtua serta keluarganya.

Keempat, meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stres. Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide yang orisinil akan keluar dari pikiran mereka, walaupun kadang terasa abstrak untuk orangtua.

Bermain juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan.

Kelima, mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak. Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok.

Ketika anak memainkan peran ‘baik’ dan ‘jahat’, hal ini membuat mereka kaya akan pengalaman emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi.

Keenam, melatih motorik dan mengasah daya analisa anak. Melalui permainan, anak dapat belajar banyak hal. Di antaranya melatih kemampuan menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat memengaruhi perkembangan psikologisnya.

Permainan akan memberi kesempatan anak untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah. Anak-anak akan berusaha menganalisa dan memahami persoalan yang terdapat dalam setiap permainan.

Ketujuh, penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak. Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperlohen pemenuhan keinginan itu dengan menjadi pemimpin tentara saat bermain.

Kedelapan, standar moral. Walaupun anak belajar di rumah dan sekolah tentang apa yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral selain dalam kelompok bermain.

Terakhir sembilan, mengembangkan otak kanan anak. Bermain memiliki aspek-aspek yang menyenangkan dan membuka kesempatan, untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya serta mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Dengan begitu, bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah baik di sekolah maupun di rumah.

Catatan, berikanlah pujian kepada anak dengan menggunakan kalimat yang positif dan mampu menjadi penyemangatnya dalam melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi. Contoh, saat anak diminta mengambil spidol warna merah, awali dengan kata ‘tolong’. Jika anak berhasil mengambilnya, berikan pujian dan ucapkan terimakasih.

Demikian juga ketika ia tidak berhasil menemukannya, ucapkanlah kalimat positif yang tidak mematahkan semangatnya. Tetap ucapkan terimakasih atas hasil jerih payahnya. Misalnya saja, “Makasih ya adik sudah mencarikan spidolnya. Spidolnya ada di dekat buku gambar adik.”

Pentingnya Campur Tangan Pemerintah

Mengingat pentingnya arena bermain bagi anak-anak, maka dibutuhkan campur tangan pemerintah setempat dan pemerintah pusat untuk mengadakannya. Terutama di komplek-komplek perumahan yang tidak ada area bermain.
Pemerintah harus mengupayakan hadirnya area bermain, meski harus membeli tanah milik warga yang rumahnya dijual. Tanah tersebut jadi milik pemerintah dan langsung disulap jadi arena bermain ramah anak.

Sementara bagi perumahan baru, pemerintah harus menambahkan syarat bagi developer untuk menyediakan area bermain anak. Arsitekturnya harus jelas memberikan arena bermain anak, barulah diberikan izin pembangunan. Jika tak ada, maka izin pembangunan tidak diberikan.

Dengan usaha ini, maka anak-anak yang akan mendiami perumahan baru, memiliki hak bermain di arena bermain. Jika letaknya di tengah komplek, tentu bisa membuat lebih nyaman para orangtua.

Pemerintah pusat tentu juga bisa membuat tekanan, dengan cara menambah syarat untuk ikut lomba kota layak anak. Kota tersebut harus memiliki arena bermain anak di semua komplek perumahan. Jika terpenuhi, barulah kota tersebut lulus secara syarat dan ketentuan.

Hingga saat ini, baru perumahan elit saja yang memberikan area bermain bagi anak dan keluarga. Mereka menjual komplek elit yang mereka bangun, dengan segala fasilitas wah yang bisa dinikmati warga komplek, termasuk anak-anak mereka.

Jika developer rumah mewah saja bisa, tentu perumahan yang disubsidi pemerintah lebih bisa lagi. Jika syarat mendapat subsidi salah satunya adanya area bermain, maka siapa developernya yang berani menantang.

Campur tangan pemerintah sangat dibutuhkan, agar anak-anak juga mendapatkan hak bermain. Dengan demikian, mereka tak lagi bermain dijalanan gang yang notabene membahayakan keselamatan mereka.

Mereka pada akhirnya bisa pula merasakan kebahagian anak-anak 80-90an, dengan dihidupkannya permainan-permainan lama oleh orang tua mereka. Anak-anak tentunya akan lebih sehat, tak lagi terpaku pada gadget, bersosialisasi mengembangkan diri dengan sebaya, menjalin kerjasama dan lainnya.

Semoga gagasan ini diaplikasikan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat, sehingga tercipta sinergi yang menguntungkan anak-anak. Jika tidak demikian, maka anak-anak akan tumbuh tanpa menikmati masa anak-anak yang bahagia.

Mari kita satu hati dan satu gerakan menghidupkan kembali area permainan anak tradisional. Mudah-mudahan saja di masa datang Indonesia tetap memiliki generasi muda yang bisa bekerjasama dengan baik, memiliki semangat gotong royong, sehingga semangat persatuan Indonesia tetap terjaga. (*)

Loading...