Pengurus  Bundo Kanduang Pariaman Tengah Dikukuhkan

PARIAMAN – Ketua Bundo Kanduang  Arrahmi  mengukuhkan pengurus  Bundo Kanduang Kecamatan Pariaman Tengah periode 2023 – 2027, di Sabtu siang (11/3).
Hadir dikesempatan itu, Walikota Genius Umar dan Wakil Walikota Mardison Mahyuddin.

Genius Umar mengatakan kemajuan zaman dan arus globalisasi membuat tugas dan beban Bundo Kanduang ditengah masyarakat Minang makin berat. Bundo Kanduang harus berada didepan dalam membentengi anak sekaligus memelihara adat dan budaya Minangkabau.

Lebih lanjut dikatakannya  Bundo Kanduang merupakan sosok yang mampu membedakan yang baik dan yang buruk, oleh karena itu, Bundo Kanduang haruslah berilmu dan mempunyai sifat-sifat yang dapat ditauladani dari perbuatan-perbuatan lahiriah lainnya.

“Bundo Kanduang sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang, sesuai dengan tema kali ini, merupakan seorang ibu yang selalu mendidik anak-anaknya secara baik dan harus menjadikan rumah tangga dan keluarganya sebagai suatu lembaga pendidikan pertama, karena pendidikan oleh anak pertama kalinya diberikan oleh ibu,” tukasnya.

Baca Juga  130 Peserta Ikuti Rakor Persiapan Registrasi Sosial Ekonomi

Selanjutnya,  Bundo Kanduang adalah ibu yang mengandung, ibu yang menyusui dan ibu yang mendidik. Dapat dikatakan Bundo Kanduanglah  madrasah yang pertama bagi Anak kita. Untuk itu Bundo Kanduang harus memperluas ilmu, menjadi contoh teladan yang baik sekaligus memberi ruang yang luas terhadap kreatifitas anak.  Bundo Kanduang dalam hal ini sangat menentukan corak dan warna generasi yang akan dilahirkan di dalam rumah tangga dan keluarga.

Sementara itu Bundo Kanduang Kota Pariaman, Arrahmi menjelaskan bahwa pentingnya Peranan Bundo Kanduang apalagi karena diminangkabau memakai siatem matrilineal. Peranan Bundo Kanduang bukan hanya soal adat dan budaya saja, tetapi juga membentuk kepribadian anak-anak kita, termasuk menjadi contoh teladan dan role model  bagi mereka, generasi saat ini.

Baca Juga  Walikota Pariaman Usulkan Pembangunan Shelter ke BNPB

“Apalagi saat ini krisis budaya telah mulai mengikis kelestarian adat budaya yang merusak generasi muda Minangkabau. Dunia telah dirasuki budaya merusak yang menjangkiti Anak muda kita. Pergaulan negatif sangat menyolok mata. Kita tidak mungkin menentang zaman. Namun perubahan zaman itu seharusnya tidak menghilangkan jati diri adat dan budaya minangkabau ditengah masyarakat,” tuturnya. (agus)