Penggunaan Masker Dulu dan Sekarang

  • Whatsapp
Dr. Yassin Yanuar M Ilham Bintang,

Oleh : Dr. Yassin Yanuar M Ilham Bintang, SpOG(K), Msc

Di dalam dunia kedokteran, adalah sangat lazim ada penemuan hal baru, melalui pembuktian hasil penelitian baru yang membantah kebenaran sebelumnya.

Namun 1-2 bulan terakhir ini, sungguh cepat dan mendebarkan dada fakta-fakta yang ada terkait COVID-19. Dalam waktu singkat kita harus sigap menerima kebenaran baru, padahal baru saja menerima fakta sebelumnya yang bisa berbeda.

Sebagai contoh, mengenai masker saja. Baru 1-2 bulan yang lalu bahwa masyarakat dihimbau agar penggunaan masker adalah yang sakit saja, serta tenaga medis yang bertugas. Selain itu, ketika itu penggunaan masker dianggap bukanlah langkah konkret mencegah penularan COVID-19, karena penularannya melalui droplet, serta sentuhan tangan ke selaput lendir pada hidung, mulut dan mata, bukan melalui hirupan napas/udara (airborne). Ketika itu juga, ada himbauan bahwa masker berbahan kain tidak cukup baik karena pori-porinya dapat dilewati oleh virus COVID-19

Kini, sungguh berbeda adanya, semua yang hendak berpergian, dihimbau menggunakan masker, selain jaga jarak dan sering cuci tangan. Nah, Pakai masker yang sesuai yah!

Tenaga medis yang bekerja close contact dengan pasien apapun disarankan menggunakan masker N95. Penggunaan masker bedah juga dilakukan pada semua staf yang bekerja di layanan kesehatan.  Nah, karena semua dihimbau untuk pakai masker, tentunya masker medis yang ada tidaklah cukup untuk semua orang. Maka itu diharapkan, masker medis digunakan hanyalah pada layanan kesehatan.

Masyarakat dapat menggunakan masker kain, yang murah, lebih mudah diproduksi, dan dapat digunakan berulang kali. Masker kain dapat menahan droplet-droplet besar, yang mengandung virus. Maka itu, juga punya fungsi proteksi yang cukup baik, ditambah dengan waspada jaga jarak.

Jadi kita tambah rumusnya : 3J + 1C + 1M Jaga Jarak, Jangan Kumpul, Jangan Keluar Rumah, Cuci tangan dan Pakai Masker (yang sesuai). Mari kita tetap simak berbagai perkembangan keilmuan terbaru. Sesungguhnya kebenaran hanya turun dari Allah subhaanahu wata’ala, sebaik-baiknya pelindung kita.

Yuk, sebar kebaikan, bukan kepanikan.

Pos terkait