BATUSANGKAR – Pemkab Tanah Datar menyatakan terimakasih pada semua pihak yang telah prihatin dan berupaya melestarikan kembali ikan bilih yang merupakan ikan endemik danau Singkarak dari kepunahan.
“Pemerintah sangat konsen bagaimana ke depannya ikan bilih kembali lestari dan terhindar dari kepunahan sehingga ikan endemik danau Singkarak yang bergizi ini kembali menjadi primadona dan salah satu pangan pilihan di masa depan,” kata Wabup Ahmad Fadly saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) kemarin di aula kantor gubernur yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan sumbar bersama PKSPL-IPB.
Katanya, Pemkab bersama OPD terkait dan wali nagari sangat mendukung langkah ini dan akan selalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk selalu menjaga ekosistem ikan bilih.
Wabup berharap setelah pelaksanaan FGD dilakukan aksi nyata untuk menjaga perkembangan endemik ikan bilih di Danau Singkarak, karena sangat berdampak besar terhadap kelangsungan perekonomin dan ketahanan pangan masyarakat kedepannya.
Turut hadir mendampingi Wabup Kepala Dinas Perikanan Alfian Fikri, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nofi Hendri, Camat Rambatan M. Iqbal, Camat Batipuh Selatan Abdi Hardifala dan juga Wali Nagari seputaran danau Singkarak.
Staf ahli Bidang Hukum Politik dan Pemerintahan Jasman Rizal menyampaikan ikan bilih satu satunya di dunia yang mempunyai nilai endemik tersendiri dan alami karena itu harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya.
“Melalui FGD ini diharapkan pihak terkait dapat melakukan gerak cepat untuk menyelamatkan penanganan terkait populasi ikan bilih. Karena memiliki nilai ekonomi tinggi, ikan ini menjadi target tangkapan utama oleh masyarakat sekitar danau,” ujarnya.
Selain itu, tambah Jasman, karena nilai jual yang beragam, pengelolaan dari ikan bilih tentunya harus memperhatikan kelestarian dan keberlanjutannya.
“Untuk itu perlu dilakukan pengawasan, pengendalian sampah, melakukan sosialisasi dan kesadaran masyarakat, sehingga ikan bilih ini bisa berkembang biak dengan baik. Dan Saya atas nama Gubernur Sumbar menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung pelestarian ikan ini,” tegasnya.
Menurut Kepala PKSPL-IPB University Prof. Dr. Yonvitner, FG yang bertemakan peningkatan efektivitas Restocking Ikan Endemik Bilih Sumatera Barat salah satu program kerjasama pihak.
“FGD ini merupakan kerjasama Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan bersama Lembaga Riset Internasional Kemaritiman, Kelautan dan Perikanan Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB) bersama Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) didukung Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar yang akan membahas Peningkatan Produksi Ikan Kecil di Indonesia,” ujarnya.
Katanya, kegiatan penangkapan ikan bilih yang telah berlangsung lama, tentu juga berpengaruh terhadap produksi.
“Semenjak tahun 2006 penurunan sekitar 4,74% per tahun. Menurut, data yang tercatat, produksi ikan bilih tertinggi berada pada tahun 2013 yaitu sebanyak 970,072 ton per tahun dan kemudian mengalami penurunan total produksi sejak tahun 2015 yaitu 680,58 ton per tahun,” paparnya.
Yonvitner mengatakan, penurunan hasil produksi ikan bilih ini membuktikan populasi di Danau Singkarak yang mulai terancam dan menuju kepunahan dengan status penangkapan berlebih (overfishing).
FDG ini menghadirkan narasumber, yaitu Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar Dr. Ir. Reti Wafda, M.Tp, Direktur CSR PT Semen Padang Deni Zein, Peneliti Ikan Bilih Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta Prof. Dr. Hajrial Syandri, MS, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Solok Ir. Syoufitri. (ydi)












