Pembangunan Pedestrian di Khatib Sulaiman bisa Picu Banjir

oleh -1.490 views
Pekerjaan pelebaran Jalan Khatib Sulaiman mulai dikerjakan. (givo)

PADANG-Pembangunan pedestarian di sepanjang jalur Khatib Sulaiman Kota Padang, berdampak mengurangi jalur hijau di kawasan tersebut.

Kondisi ini membuat Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V, Maryadi Utama, cukup prihatin.

“Saya sungguh prihatin dengan perkembangan kota di Padang ini. Hampir di depan kantor saya, di Jalan Khatib Sulaiman sudah dibeton semuanya. Apa yang dilakukan Pemko Padang ini sudah mengurangi jalur hijau. Maka kita harus siap siaga menampung banjir yang besar,” ungkap Maryadi, saat melaksanakan kegiatan Gerakan Indonesia Bersih dan Aksi Bersih Danau Cimpago, Jumat pagi (12/7) di kawasan Danau Cimpago.

Dengan pembetonan pedestarian di Jalan Khatib Sulaiman ini seluruhnya, maka membuat jalur hijau di kawasan ini tinggal sedikit. Jika ini terjadi, maka jika hari hujan lebat, Jalan Khatib Sulaiman menjadi tampungan banjir.

“Air tidak bisa meresap lagi dan keluar menuju drainase saluran utama menuju sungai-sungai. Air akan lama tergenang di kawasan ini,” ujar Maryadi.

Maryadi menyarankan kepada Wali Kota Padang, agar dapat memaksakan warganya membuat biopori di setiap rumah dan jalan-jalan utama di Kota Padang. Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah

Maryadi mengungkapkan, melalui pembuatan biopori ini, di daerah lain seperti Kota Malang, yang dulunya banjir sekarang tidak lagi. Bahkan, Kota Malang sudah berhasil menghasilkan tanaman bioponik.

Selain berkurangnya jalur hijau, permasalahan lain yang dihadapi Kota Padang adalah masih ada sungai yang dipenuhi sampah. Seperti Batang Arau yang masih kotor. “Batang Arau ini akan menjadi pilot project BWSS V, untuk dapat dibersihkan. Karena di beberapa sungai, banjir kanal dan Batang Air Dingin di Kecamatan Koto Tangah, sudah bersih,” ujar Maryadi.

Melalui momen peringatan Hari Adhyaksa ke-59 dan Hari Dharmakarini, BWSS V berkolaborasi dengan Kejaksaan Tinggi (Kejati Sumbar) Sumbar, membersihkan sampah di Danau Cimpago melalui  Gerakan Indonesia Bersih dan Aksi Bersih Danau Cimpago, Jumat pagi (12/7). Gerakan ini melibatkan Dinas PSDA Provinsi Sumbar, Bappeda Provinsi Sumbar, seluruh Balai di lingkungan Kementerian PUPR.

Juga ikut terlibat PT Semen Padang, BNI, PT Kunango Jantan  Dandim 0312 Padang, Polresta, Pemko Padang, camat, lurah dan penggiat lingkungan komunitas peduli sungai se-Kota Padang.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumbar, Priyanto mengatakan, melalui kegiatan Gerakan Indonesia Bersih dan Aksi Bersih Danau Cimpago ini, Kejati Sumbar bersama BWSS V dan seluruh stakeholder yang terlibat ingin memberikan contoh, motivasi dan edukasi kepada masyarakat, bahwa sampah membahayakan bagi kehidupan.104

Loading...