PARIAMAN — Pembangunan contoh rumah Hunian Tetap (Huntap) Mandiri bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi resmi dimulai di Kota Pariaman. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian, yang didampingi Wali Kota Pariaman, Yota Balad, dan Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, di Desa Sintuak, Kecamatan Pariaman Utara, Jumat (1/5).
Dalam kesempatan tersebut, Sestama BNPB Rustian menekankan pentingnya penerapan konsep Multi-Helix dalam penanganan bencana. Strategi ini melibatkan lima pilar utama, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas/masyarakat, dan media.
“Pemerintah tidak bekerja sendiri. Penanganan bencana adalah urusan bersama. Kami memastikan pendampingan akan terus dilakukan hingga seluruh siklus pemulihan selesai,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan, salah satu keunggulan pembangunan Huntap di Kota Pariaman adalah penggunaan teknologi sapa block. Material ini diklaim memiliki kualitas tinggi, lebih aman, serta nyaman untuk dihuni. Kota Pariaman menjadi daerah pertama yang menerapkan model hunian dengan teknologi tersebut, yang diharapkan dapat menjadi percontohan bagi daerah lain di Sumatera Barat maupun nasional.
Pemerintah memiliki peran sentral sebagai penanggung jawab utama penanggulangan bencana, baik di tingkat pusat maupun daerah. Tanggung jawab tersebut diwujudkan melalui penyusunan regulasi, kebijakan, serta penyediaan infrastruktur sejak tahap tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. BNPB juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan penyaluran bantuan dan pembangunan kembali wilayah terdampak berjalan optimal.
Sementara itu, Walikota Pariaman Yota Balad menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan yang diberikan.
“Hari ini adalah momen bersejarah dan penuh harapan. Peletakan batu pertama Huntap mandiri tipe 36 ini menjadi simbol berakhirnya masa darurat dan pengungsian, serta dimulainya fase pemulihan kehidupan yang lebih baik, aman, dan tangguh,” ungkapnya.
Ia mengakui bencana yang terjadi sebelumnya meninggalkan duka mendalam. Namun demikian, pemerintah berkomitmen mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pembangunan Huntap mandiri ini juga didukung oleh penggunaan sapa block dari Semen Padang. Untuk Kota Pariaman, data penerima bersifat fleksibel. Masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Batang Mangor dan merasa terancam dapat mengajukan diri sebagai penerima program Huntap Mandiri melalui BNPB.
Program ini merupakan tindak lanjut cepat dari pertemuan antara Pemerintah Kota Pariaman dengan Sestama BNPB pada 27 April lalu.
“Untuk tahap awal, baru satu unit Huntap mandiri yang dibangun. Namun masyarakat yang merasa rumahnya tidak lagi aman pascabencana dapat melapor ke BPBD Kota Pariaman untuk diusulkan pembangunan Huntap, dengan syarat menyediakan lahan,” jelasnya.
Ia berharap pembangunan Huntap ini dapat membantu masyarakat menata kembali kehidupan dengan hunian yang lebih layak dan aman.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut para pakar bencana dari Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Andalas, di antaranya Ketua PSB Unand Prof. Dr. Eng. Ir. Fauzan, ST, MSc (Eng), Prof. Ir. Abdul Hakam, MT, PhD, dan Prof. Dr. Bambang Istijono, ME. Hadir pula Direktur Pemulihan dan Peningkatan Fisik BNPB Afrial Rosya, Direktur Dukungan Infrastruktur Darurat BNPB Andria Yuferryzal, Staf Direksi PT Semen Padang Donny Aswin Idham, serta unsur Forkopimda Kota Pariaman. (r)












