Opini  

Orang Minangkabau Itu Kritis, Kini Minus Tokoh

M. Khudri

Berpikir kritis itu berpikir beda dengan berpikir orang lain, atau segala sesuatu tak langsung diiyakan begitu saja. Berpikir kritis itu karena akalnya sehat sebagai anugerah Tuhan, afalaa tatafakkarun.

Pikiran kritis itu adalah karakter, sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata, tak bisa diraba dan didengar telinga. Karakter kritis yang kemudian bisa menjadi budaya sehingga menjadi ciri pembeda bahkan menjadi enerji untuk memajukan masyarakat.

Kadangkala sikap kritis suatu masyarakat muncul dalam tindakan penantangan bahkan perlawanan. Etnis Minangkabau telah memperlihatkan sikap kritisnya dalam perjalanan hidup sejarahnya sejak dulu kala.

Tak ada yang membantah, akibat kritis itu etnis Minangkabau menjadi salah satu etnis yang terkemuka di Republik Indonesia Raya tercinta ini. Sejarah tak bisa dihapus, ketika Belanda mau menjajah Minangkabau, mula mulanya diterima dengan terbuka, orang Minang bersikap, musuh tak dicari, bertemu tak di elakkan. Ternyata Belanda dengan VOC nya memakai sifat ladiang, tajam sebelah , mau untung sendiri, akhirnya orang Minang yakin Belanda tidak mencari dunsanak, mereka tidak berdagang dengan adab, mencari ilik-ilik mereka rupanya, karena merasa bagak dan berkuasa.

Orang Minangkabau mana mau di injak begitu saja, walaupun awalnya berusaha juga mengelakkan kekerasan dengan memutuskan hubungan dagang, tapi Belanda meneruskan ilik ilik mereka. Maka orang Minangkabau menyatakan perang terhadap Belanda.

Tercatat ada 8 perlawanan rakyat Minangkabau dalam kurun waktu 1668-1926 yang akan diingat Belanda dalam kerugiannya. 1.Perang Minangkabau (1667), 2. Perang Pariaman (1818), 3. Gerakan Harimau nan Salapan (1820), 4. Perang Padri (1821-1837), 5. Perang Kerinci (1901-1906), 6. Perang Manggopoh (1906), 7. Perang Kamang (1908), 8. Perang Silungkang (1926).

Dalam perkembangan sosiologis masyarakat Minangkabau, adat yang menempatkan laki laki Minang tidak mempunyai “kekuasaan” harta bahkan ditambah pula, pepatah karatau madang dihulu babuah babango balun, merantau lah bujang dahulu, di kampuang paguno balun, maka laki-laki Minang banyaklah yang merantau keluar wilayah Minangkabau ada yang di Jawa, Malaka bahkan banyak yang bersekolah ke Belanda. Banyak diantaranya kemudian menjadi orang “hebat” bahkan menjadi pendiri negara-negara ini.

Ada sembilan orang pendiri negara ini yang dikenal dengan sebutan Panitia Sembilan sehingga Indonesia Merdeka tanggal 17 Agustus 1945, yaitu Ir. Sukarno (ketua) Drs. Mohammad Hatta (wakil ketua) Mr. Alexander Andries Maramis (anggota) Abikoesno Tjokrosoejoso (anggota) Abdoel Kahar Moezakir (anggota) H. Agus Salim (anggota) Mr. Achmad Soebardjo (anggota) Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim (anggota) Mr. Mohammad Yamin (anggota). Diantara sembilan orang itu tiga orang asli Minangkabau yaitu Drs.Mohammad Hatta, H.Agus Salim dan Mohammad Yamin. Selain yang tiga itu ada St. Syahrir, Tan Malaka , M. Natsir, M.Riva’i dan Chairil Saleh. Satu lagi dan tak tertirukan Hj. Rangkayo Rasuna Said.

Tokoh-tokoh itu kemudian menjadi bahagian kepemimpinan politik di negara Indonesia Merdeka. Sebagai bagian dari rejim apakah mereka menjadi pengekor saja kepada penguasa? Tidaklah. Hatta memilih mundur menjadi wakil presiden dari pada menyetujui Nasakom Soekarno. Begitu juga Syahrir, karena kritis kepada Soekarno, Syahrir yang pernah beberapa kali menjadi Perdana Menteri itu ditangkap senior seperjuangannya dan dia meninggal dalam status tahanan politik.
Begitu juga Tan Malaka, pejuang garis keras yang anti kompromi dengan kolonial itu bahkan mati ditembak oleh aparat penguasa yang sampai saat ini tidak diberikan hak keadilannya oleh negara yang ia perjuangkan untuk merdeka.

Hampir semua tokoh tokoh intelektual negeri ini bersikap kritis kepada penguasa yang dianggap tidak berjalan sesuai dengan seharus nya. Bahkan tokoh daerah seperti Ahmad Husen, seorang kolonel dari Sumatera Barat, mewujudkan sikap kritisnya atas ketidakadilan penguasa dengan mengkoordinir perlawanan dalam bentuk Pemerintahan Revolusieloner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958 Soeharto berkuasa, negeri ini agak lebih baik dibidang pembangunan, orang Minangkabau mendapat tempat sebagai bagian dalam sistem kebijakan dan kekuasaan negeri ini, banyak yang menjadi menteri, namun seorang buya Hamka ulama Minang memperlihatkan sikap kritisnya dan ahli tafsir yang sastrawan dan budayawan itu memilih keluar dari sistem, dia mengundurkan diri dari jabatan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Uraian diatas, menjadi bukti betapa banyak sekali orang Minang dari kalangan generasi baby boomers yang hebat hebat tapi memiliki pendirian teguh yang diperlihatkan dengan sikap kritisnya kepada penguasa. Setelah reformasi, sesungguhnya kita masih punya tokoh tokoh kritis, saya pernah kagum atas kekritisan Andrinof Chaniago kepada Rejim SBY dulu, sekarang tak terdengar lagi, pernah pula viral sebentar anak muda Faldo Maldini, Tokoh Minang yang kritis kepada penguasa saat ini hanyalah Rizal Ramli, sementara Fadli Zon sudah mulai pula tiarap. Tapi saya punya harapan dengan anak muda alumni INS Kayu Tanam, Willy Aditya namanya dia sekarang memihak kepada suara orang Minangkabau , kita doakan dia tak mati pucuk pula.

Di Rejim sekarang ini memang minus tokoh-tokoh kritis Minangkabau sehingga ada pendapat orang Minang sekarang sudah kehilangan taji, marwah sudah tak seperti dulu lagi. Mungkin juga itu benar, sebabnya adalah tak ada lagi tokoh Minang yang kritis dan memiliki pemikiran yang boneh.