‘NKRI Bersyariah Vs Ruang Publik Yang Manusiawi’

oleh -269 views
Hendri Nova
Wartawan topsatu.com
Membaca dan menyimak dengan seksama esai yang ditulis Denny JA, Ph.D dengan judul ‘NKRI Bersyariah Atau Ruang Publik Yang Manusiawi?’, membuat saya harus membaca berulang kali, untuk menangkap target yang ingin dicapai Denny JA, Ph.D melalui esainya.
Apa yang ingin ia gapai dengan menurunkan tulisan ini, dan kenapa begitu penting bagi seorang Denny membahas hal ini. Saya merasa ada aroma phobia Islam dalam tulisan ini, karena nada sinisme tersebar dimana-mana.
Barometer yang digunakan Denny JA membuat saya berpikir ulang. Apakah ini benar-benar tulisan Denny yang biasanya analisa dan kritisnya jelimet atau tulisan orang lain yang memakai nama Denny JA.
Tapi setelah saya lihat tulisannya tampil di web-nya milik PWI, ya sudahlah, saya yakini saja ini memang esai miliknya Denny JA. Satu hal yang saya sayangkan dalam tulisan ini, adalah tolak ukur yang dijadikan bahan untuk menolak gagasan Habib Rizieq terkait usulan NKRI bersyariah.
Denny mengambil hasil dari sebuah lembaga riset bernama Yayasan Islamicity Index yang katanya dipimpin oleh kalangan sarjana tingkat Ph.D bidang ekonomi, bidang keuangan, di samping yang ahli AlQuran.
Lembaga itu dikendalikan antara lain oleh PhD bidang ekonomi (Hossein Askari), finance specialist (Hossein Mohammadkhan), PhD dalam Islamic Economics/Finance (Liza Mydin), web specialist (Mostafa Omidi). Web resmi lembaga ini, disebut memang meniatkan ingin melembagakan ruang publik sesuai dengan arahan kitab suci Quran.
Mereka menurunkan aneka nilai yang diperjuangkan dan direkomendasikan AlQuran dalam sebuah indeks. Termasuk di dalamnya nilai seperti keadilan, kemakmuran, pemerintahan yang bersih, penghormatan pada manusia.
Cukup kompleks, aneka indeks itu ia  masukkan ke dalam empat kategori: Economic Islamicity, Legal and Governance, Human and Political Rights, dan International Relation Islamicity Index.
Tim ini merumuskan nilai AlQuran hanya pada sisi hubungan sosial saja.
Sementara hubungan individu pada Tuhannya, seperti prinsip Tauhid dan akidah tidak diukur. Hal ini dilakukan agar nilai sosial Islami itu dapat pula diukur dalam masyarakat yang tidak secara resmi memeluk Islam.
Di tahun 2017, setelah indeks Islamicity resmi dibuat, mereka pun mencari data negara di seluruh dunia. Negara manakah yang paling tinggi skor index Islamicitynya: yang bersih pemerintahan, ketimpangan ekonomi kecil, tinggi penghormatan pada hak asasi.
Temuan lembaga ini menarik. Ternyata Top 10 negara yang paling islami, yang paling tinggi skor Islamicitynya adalah negara di Barat. Di tahun 2017, negara itu antara lain: Selandia Baru, Netherland, Swedia, Irlandia, Switzerland, Denmark, Kanada, Australia.
Sedangkan negara yang mayoritasnya Muslim justru skor Islamicitynya biasa saja dan cenderung rendah. Misalnya: Malaysia (rangking 43), United Arab Emirat (rangking 47), Indonesia (rangking 74), dan Saudi Arabia (rangking 88).
Kesimpulan riset menohok: masyarakat yang mempraktekkan nilai-nilai sosial yang islami, yang dianjurkan Al Quran justru terjadi di negara Barat. Banyak negara yang bahkan berlabel negara Islam tidak berhasil menggapai rangking teratas dalam mempraktekkan nilai yang islami.
Dari sinilah pangkal keanehan kesimpulan yang kesannya sangat dipaksakan agar diterima para pembaca. Lembaga ini ibarat ingin mengambil kesimpulan tata cara dan pengamalan hidup kambing, namun sampelnya juga diambil di kandang keledai.
Lucunya, lembaga ini kemudian mengatakan, ternyata keledai itu lebih kambing daripada keledai itu sendiri. Saya jadi ingat isi ceramah Zakir Naik yang sering mengatakan, bahwa jika tingkat kekristenan itu diukur sejauh mana seseorang mengamalkan isi alkitab, maka orang Islam itu katanya lebih Kristen dari orang Kristen. Sebabnya tidak lain karena orang Islam tidak makan babi, dikhitan, tidak minum minuman keras dan sebagainya.
Namun untuk mengukur seorang itu lebih Kristen atau lebih Islam, tentu syarat utamanya adalah seorang itu harus Islam dulu atau Kristen dulu. Tentu satu hal yang lucu, jika kita mengatakan anak UGM itu ternyata lebih UI daripada anak UI. Soalnya anak UGM bukanlah anak UI dan begitu juga sebaliknya.
Disinilah saya merasa sangat menyayangkan kecerobohan Denny JA dalam mengambil sebuah sampel. Harusnya apel to apel, bukan apel to pear.Terkait index yang dikeluarkan PBB yang dijadikan dasar Denny JA untuk mengambil kesimpulan, menurut saya juga terlalu dipaksakan. Disebut lembaga dunia untuk semua negara (Persatuan Bangsa Bangsa) mengembangkan indexnya sendiri untuk menguji kemajuan sebuah bangsa. Mereka membentuk khusus lembaga bernama UN Sustainable Development Solution Network (SDSN).
PBB beranggapan kemajuan sebuah negara tak bisa diukur hanya oleh kemajuan ekonomi semata. Yang utama, negara harus mampu membuat warga negara merasa bahagia.
Untuk bahagia, tak hanya kebutuhan dasarnya tercukupi, tak hanya pertumbuhan ekonomi dan pendidikan. Namun tercipta pula ruang sosial yang penuh dengan trust, tolong menolong, dengan pemerintahan yang bersih dan kompeten.
SDSN menamakannya World Happiness Index. Aneka list mengenai prinsip manusiawi dirumuskan  dalam index yang terukur. Lalu aneka negara di seluruh dunia diuji dengan data terukur. Dua tahap yang dituliskan Denny JA di awal disebut juga sudah dilakukan oleh SDSN.
Apa hasilnya? Top 10 negara yang paling tinggi skor Happiness Index tak banyak beda dengan Islamicity Index. Top 10 itu di tahun 2018 adalah negara: Finlandia, Norwegia, Denmark, Iceland, Switzerlands, Netherland, Canada, Selandia Baru, Australia.
Negara yang mayoritasnya Muslim berada di level tengah: United Arab Emirat (20), Malaysia (35), Indonesia berada di bawah top 50. Dalam hal ini Denny harus lebih kritis lagi dalam menilai kebahagian seseorang apalagi sebuah negara yang terdiri dari banyak orang. Saya yakin tim penilai dari PBB tentu tidak semuanya Muslim, sehingga menilai kebahagian yang tampak saja.
Jika Denny JA mau menambah ilmu sedikit lagi, maka Denny akan tahu, akan apa yang bisa membuat umat Islam bahagia. Umat Islam yang sudah memahami agamanya dengan benar, memahami jika kebahagian hakiki itu tidak akan pernah ia dapatkan selagi masih berada di dunia ini.
Kebahagian yang sebenarnya ada di akhirat yaitu ketika ia memasuki surganya Allah SWT. Jika masih di dunia, Nabi Umat Islam Muhammad SAW telah mengatakan, dunia itu adalah penjara bagi seorang Muslim.
Nah, bagaimana seseorang bisa bahagia dalam penjara ? Kebahagian orang yang dipenjara, hanya akan terjadi saat ia kembali mendapatkan kebebasannya di luar penjara.
Itulah sebabnya, PBB tak akan pernah menemui umat Islam atau negara Islam yang benar-benar bahagia. Soalnya mereka hidup di dunia bak dalam penjara, dengan larangan-larangan yang tak boleh dilanggar.
Hal itu tentu beda dengan non Muslim yang larangannya tidak sebanyak umat Islam. Dalam hal makan dan minum saja, umat Islam tidak boleh berlebih-lebihan. Jika banyak harta, mereka disebut bakal merangkak ketika akan memasuki surga, dikarenakan harta itu akan dihisab terkait darimana didapatkan dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan.
Jika memilih hidup miskin, jelas mereka akan hidup dalam keterbatasan. Mungkin Denny JA sendiri dengan berani bisa mengatakan jika nabi umat Islam Muhammad SAW adalah nabi yang tidak bahagia, karena hari-harinya terutama malam-malamnya dihiasi dengan tangisan akan nasib umatnya di akhirat kelak.
Menurut saya, nada phobia Islam berupa penerapan syariah dalam kehidupan yang dialami Denny JA adalah akibat dari dangkalnya ilmu terkait syariah Islam. Jika Denny berhasil menguasai ilmu syariah Islam, bukan tidak mungkin Denny jadi orang pertama yang mendukung penerapan syariah Islam di NKRI.
Sayangnya syariah Islam itu memang berat, terutama jika masih ada keinginan untuk melanggar perintah agama. Lihat saja Sumatera Barat yang katanya memakai falsafah ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Ketika diminta menerapkan syariat Islam, sebagian besar anggota dewannya menolak, karena mereka tahu konsekuensi jika syariah Islam diterapkan. Kemungkinan untuk berbuat dosa jadi semakin kecil, sehingga tak bisa lagi berbuat macam-macam.
Padahal jika syariah Islam diterapkan, maka kehidupan akan berjalan dengan baik, sebagaimana waktu Jazirah Arab di bawah kepemimpinan Muhammad SAW. Hampir tak ada angka kriminal dan tidak ada penjara yang dibangun.
Keadilan diterapkan dengan perlindungan penuh terhadap hak-hak setiap warga negara, baik Muslim maupun non Muslim. Alhasil, semasa kepemimpinan Muhammad SAW tak ada warga yang merasa dizalimi. Mereka merasakan lapar dan kenyang bersama pemimpinnya.
Bahkan disebut Muhammad SAW pernah menganjal perutnya dengan batu, karena saking laparnya. Ketika ada sahabatnya mengadukan perihal kelaparannya, ia jadi malu, karena Muhammad SAW rupanya juga sedang lapar.
Begitulah adanya jika syariah benar-benar ditegakkan. Baik Muslim maupun non Muslim diakui hak-haknya dan itu dilindungi oleh Islam. Hukum tidak tebang pilih dan ditegakkan dengan seadil-adilnya, sehingga tak ada yang merasa dizalimi di depan hukum. Semua warga hidup dengan tenang, tanpa ada gangguan keamanan yang berarti.
Terkait Ruang Publik yang manusiawi yang lebih condong disukai Denny JA, malah tidak memiliki tolak ukur yang jelas. Manusiawi dalam kacamata siapa ? Apakah menurut kacamata penguasa ataukah menurut kacamata rakyatnya.
Kata manusiawi bak pasal karet yang bisa diterjemahkan dengan bebas. Penguasa bisa saja mengklaim jika apa yang telah diputuskannya sudah manusiawi, meski di mata rakyatnya jauh dari manusiawi.
Oleh karena itu, sebelum Denny JA lebih parah pemahamannya akan nilai-nilai syariah, belajarlah terlebih dahulu pada yang telah sukses mengamalkan syariah tersebut. Pelajarilah hidup Muhammad SAW, karena ia sudah terbukti berhasil menjadikan Jazirah Arab yang dulunya jahiliyah, menjadi lebih nyaman didatangi oleh siapa saja.
Jangan mencari contoh lain selain Muhammad SAW jika ingin mengetahui syariah Islam, apalagi mereka yang masih hidup, karena ia masih cenderung bisa berubah. Muhammad SAW sudah mendapat garansi sebagai Alquran yang berjalan yang dalam arti kata, ia sukses mengamalkan keseluruhan isi Alquran.
Setelah sukses mempelajari Muhammad SAW, silahkan putuskan lagi, apakah NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusia. Pilih, mana yang lebih kuat dan memiliki dasar pijakan yang lebih jelas dan akurat. *
Loading...