Negeri Kami Sedang Memburuk ya Amirul Mukminin

  • Whatsapp
Khairul Jasmi (ist)

Catatan Khairul Jasmi

Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri, maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya (HR. Bukhari & Muslim).
****

Umar bin Khatab dan rombongan terkejut, sebab di tengah padang pasir yang nyaris tak bertepi, Gubernur Negeri Syam, Abu Ubaidah bin Al Jarrah, menyonsgongnya. Ketika itu tahun 18 Hijriyah. Umar sudah ada jadwal ke negeri Syam, guna melihat kehidupan rakyat di sana.

“Kenapa kalian menemuiku di sini, bukanlah kita akan berjumpa di Damaskus?” “Negeri kami sedang memburuk ya Amirul Mukminin. Wabah Thoun. Mulai menjalar dari Amwas ke Palestina, kemudian menyebar ke seluruh negeri, sehingga banyak menimbulkan kematian,” jawab Ubaidah.

Potongan film ini saya tonton di Instagram ulama terkenal AA Gym. Cuplikan film Islam. Film berjudul Omar, mirip dengan kondisi corona sekarang. Setelah berdiskusi, Umar memutuskan batal masuk Negeri Syam. Umar kemudian memberlakukan lockdown. Rombongan sahabat Nabi itu kembali ke Medinah.

Umar berkata: “Kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.” Kisah ini selain ada dalam film tersebut di atas, juga dalam biografi Umar bin Khattab karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi. Saat itu di Syam, pemerintah meminta agar rakyat menjaga jarak satu sama-lain dan tidak boleh keluar rumah, kalau tidak amat penting. Karena dramatisnya kisah ini, lalu difilmkan. Cuplikan film itulah yang ditayangkan di instagramnya, @aagym.

Corona di Indonesia

Doeloe. Dulu benar, zaman Umar bin Khatab, sudah ada wabah. Umar memberlakukan lockdown (mengunci/terkunci) negeri Syam. Hadist Nabi Muhammad SAW pun menyatakan harus lockdown. Jika rujukkannya harus ke agama, kurang apa lagi?

Kemarin Jumat, saya di rumah saja, seorang kawan berkata, “Apa pula itu corona ditakut-takutkan benar, aneh Shalat Jumat kita pula yang akan ditinggalkan,” kata dia.

Saya bilang kepadanya, bisa saja saya ada gejala corona atau orang lain, ia batuk kemarin sedang sujud. Lalu saya sujud di sana, ya saya kena corona atau Anda kena. “Kan corona ciptaan Tuhan, itu kata khatib tadi,” balasnya.
“Corona, tumo, gajah, lintah, harimau, singa, ular piton sebesar tonggak, ular kobra, jilatang, semua ciptaan Tuhan. Api, air, angin adalah ciptaan Tuhan juga.

Jika Anda sekarang dikandangkan dengan seekor harimau, apa berani? Atau ada api membakar rumahmu, apa kau biarkan saja sebab api ciptaan Tuhan?”.  Ia akhirnya berkata, “Iya kita harus waspada,” katanya.

Saya pernah menerima informasi sekitar 10 tahun silam, seseorang tak mau berobat, karena menurut dia, penyakit itu ciptaan Tuhan, jadi tak perlu diobati. Ia meninggal.

Lalu saya sarankan kepada kawan ini pada Jumat kemarin, jika hendak berjemaah di masjid, maka bawalah sajadah sendiri, pakai masker, takkan aneh dilihat orang, sebab negeri kita sekarang sedang kekurangan masker karena amat perlunya.

Banyak orang anggap enteng corona. Dikiranya takkan sampai pada dirinya. Dari China yang jauh itu saja, sampai ke sini. Jarak Padang dan Wuhan, sumber virus corona itu, jika kita naik pesawat, 3.800 Km. Sejauh itu, virus sampai ke Padang.  Jarak Wuhan ke Jakarta, 4.166 Km. Sampai. Jarak Wuhan ke Makkah 7.378 Km. Sampai pula.

Tentu saja saya berdoa agar Ranah Minang nan permai ini terbebas dari virus corona. Doa untuk saya dan keluarga dan kawan-kawan saya semua agar tidak kena corona. Kalau karena sok hebat, lalu kena juga, siapa yang akan teraniaya? Anak, laki, bini dan seterusnya.

Jika Anda tewas karena corona, jasad takkan dimandikan, tak ada takziah-takziah, tidak ada peluk cium terakhir. Jenazah masuk body bag, ditayamumkan, lalu dibalut plastik dikebumikan sesuai prosedur resmi kesehatan WHO. Anda yang bandel, mau mati begini?

Saya menyaksikan dan membaca menit demi menit laporan perkembangan korban virus corona, yang seolah bisa menggiring kita semua ke tiang gantungan. Corona itu bagai lidah maut yang menjulur kemana-mana, maka “jagalah diri dan keluargamu dari api neraka.” Di dunia ini jaga dari kecelakaan lalulintas, dari amukan banjir, dari longsor, dari tsunami. Awasi anak cucu dari gigitan nyamuk ciptaan Tuhan, makanya ada obat nyamuk jumbo.

Dari corona? Dari nyamuk saja kita jaga, apalagi dari corona.
Sampai Jumat sore, rakyat Indonesia yang meninggal dunia karena corona mencapai 32 orang.Virus ini sudah merambah 178 negara dengan 9.994 orang meninggal.

Maka marilah kita waspada, sebagaimana diajurkan oleh pemerintah. Daya tahan tubuh perlu, asupan makanan perlu, jangan keluar rumah kalau tak perlu. Di Itali saja, satu negara dikunci.

Sepi, senyap, lengang selengang-legangnya. Terburuk sepanjang sejarah dunia. Dan kabarnya ruang isolasi di RSUP M Djamil Padang sudah penuh, hal serupa juga di RS Achmad Muchtar, Bukittinggi. Ini bukan kabar pertakut, sebab tak ada seorang pun yang bisa mempertakut rakyat. Ini sekadar waspada atas kesehatan yang diberikan Tuhan pada kita. “Negeri Kami Sedang Memburuk ya Amirul Mukminim…” (*)

  • Whatsapp

Rekomendasi