PADANG – ‘Saya senang sekali dikeliling oleh penyair, seniman dan penulis dalam satu acara. Menjadi pecinta semua festival ini sangat mengesankan. Pertemuan dengan orang berfikiran sama dengan saya’. Sepenggal kesan, Nazhatulshima Nolan, Delegasi IMLF-3 dari Malaysia.
Nazhatulshima Nolan seorang Penulis dan Pelukis dan Ilustrator yang tergabung dalam Persatuan Penulis Nasional Malaysia selalu mengabadikan setiap langkahnya mengikuti program-program yang ditampilkan MLF-3 (The Third International Minangkabau Literacy Festival) selama 8 – 12 Mei.
“Saya sudah dua kali mengikuti IMLF, yakni IMLF-1 dan IMLF-3. Saya suka acara ini sebagai mengabungkan berbagai minat saya. Saya suka melukis, menulis dan membaca puisi,” ucap Nazhatulshima Nolan Dosen Senior di Jurusan Bahasa Inggris, Akademi Studi Bahasa, Universitas Teknologi MARA (UiTM) Johor, Segamat.
Di IMLF-3, lukisan Nazhatulshima Nolan di tampilkan selama kegiatan berlangsung di Gedung Youth Center Bagindo Aziz Chan. Menariknya, salah satu lukisannya menjadi cover buku ‘Bahagianya Bisa Menulis’ karya Aisha Marchaqueena Jasmine.
“Saya berharap kegiatan ini akan berkelanjutan setiap tahunnya, karena luar biasa, mengabungkan berbagai jenis budaya dan seni dari berbagai negara. Mengabungkan semua pelukis, penulis, penyair dan pekerja dari berbagai bidang dan negara banyak negara terlibat.
Nazhatulshima Nolan, seniman multidisiplin yang secara alami dan berjiwa seni menunjukkan cara uniknya dalam melihat dan mengalami dunia melalui seninya dengan mengambil makna dari simbolisme dan alam.
Seni, baik visual maupun sastra dalam bentuk lukisan, sketsa, atau puisi adalah mekanisme koping pribadi dan terapeutiknya untuk menghadapi ekspektasi dan ketakutan dalam hidup.
Ia sering melihat keindahan dalam kehidupan sehari-hari dan terus-menerus menciptakan dan menggambar lapisan perak di balik awan tergelap.
Karya seninya menantang seniman dan orang yang mengalaminya untuk selalu mencari berkah dalam hidup, bahkan ketika berkah itu tersamar. Ambisi dan impian masa kecilnya sebagai seniman telah terwujud melalui ketekunan dan hasratnya.
Seorang seniman paruh waktu yang tidak memiliki pelatihan formal atau kualifikasi dalam seni. Puluhan karyanya sudah dipamerkan baik nasional maupun internasional. (009)












