Mulyadi Aktor Utama Percepatan Pembangunan Kelok 9

oleh -722 views
Mulyadi (tengah) didampingi sejumlah pejabat terkait melihat disain jembatan Kelok 9 saat meninjau pembangunan jembatan kebanggaan Sumbar itu. (ist)

 

LIMAPULUH KOTA-Jembatan Layang Kelok 9 sejak  diresmikan Presiden lima tahun silam-tepatnya 31 Oktober 2013, membuat lega  masyarakat Sumbar-Riau khususnya para perantau dan pedagang yang rutin melalui jalur negara tersebut.  Merekanya senang bukan main. Dari Sumbar, Riau nan rancak dan tumbuh pesat itu sudah dekat.

Begitu pula sebaliknya, dari Riau, pengguna jalan tak lagi dihambat kemacetan yang hampir setiap tahun terutama jelang lebaran Idul Fitri, bisa mencapai belasan kilometer.  “Alhamdulillah, jasa-jasa perjuangan pak Mulyadi sangat terasa bagi kami,” ujar Adi, perantau Limapuluh Kota di Duri

Adi tahu itu kiprah Mulyadi-anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat- karena para sahabat dan dunsanaknya di kampung maupun perantau lain yang sering melewati jalan tersebut juga sering menyebut nama Mulyadi. Selama dipercaya mengemban sebagai wakil rakyat di Senayan, banyak program pembangunan yang digiring ke Sumbar.

Selain Adi, perantau lainnya juga mengaku semakin tertarik pulang kampung ke Sumbar, setelah adanya jembatan layang Kelok 9. “Sekalian ngajak anak-anak untuk berwisata ke Kelok 9,” sebut Sardi. “Sumbar pantas memiliki wakil rakyat sekelas Mulyadi,” tambahnya.

Sementara itu, sejumlah pedagang telur dan beras asal Mungka, Guguak, Lareh Sago Halaban dan Situjuah di Limapuluh Kota menyebut, buah perjuangan Mulyadi dalam mendorong anggaran mega proyek Kelok 9, terbukti telah memperlancar usahanya.

Anggota DPRD Sumbar, Darman Sahladi kepada Singgalang, di Padang, juga menyebutkan kalau tidak diperjuangkan Pak Mulyadi di DPR terkait pendanaan pembangunan Jembatan Kelok 9, mungkin hingga kini jembatan itu tak siap-siap.

Bahkan saat Darman Sahladi, baru menjabat sebagai Ketua DPRD Limapuluh Kota (periode 2009-2014), banyak masyarakat bertanya, kapan Kelok 9 bisa dituntaskan. Menggunakan dana APBD provinsi apalagi APBD kabupaten, rasanya mustahil. Satu-satunya jalan, ya, harus didanai APBN.

“Begini-begini juga atau diangsur sedikit demi sedikit kapan siapnya. Tolonglah Pak Ketua, ‘dinding pembatas’ Sumbar-Riau ini dihilangkan dengan menuntaskan pembangunan Jembatan Kelok 9,” kenang Darman saat sejumlah warga Limapuluh Kota diskusi dengannya.

Darman tahu, wakil rakyat Sumbar di Senayan ada. Mereka punya peran dalam menggiring dana APBN ke Sumbar dalam bentuk berbagai program pembangunan. Komunikasi intens dibangun, termasuk dengan Mulyadi. Selain sama-sama kader Demokrat, Darman tahu, Mulyadi kalau berjuang untuk kepentingan rakyat, tidak tanggung-tanggung. All out di Senayan demi Sumbar.

“Selama diamanahkan menjadi wakil rakyat dan dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR, perhatian ke Sumbar tinggi. Sukses memperjuangkan anggaran untuk pembangunan berbagai infrastruktur di Sumbar. Salah satunya yang kini menjadi ikon Sumbar adalah Jembatan Kelok 9,” sebutnya.

Anggota DPRD Sumbar lainnya,  Nofrizon tahu persis perjuangan wakil rakyat low profile itu, karena dalam periode 2009-2014, Nofrizon bertugas di Komisi III DPRD Sumbar yang membidangi pembangunan. “Kami sering meminta kepada Pak Mulyadi yang di DPR juga menangani bidang ke-PU-an dan Perhubungan, agar pembangunan infrastruktur Sumbar didanai pusat. Dana daerah terbatas. Alhamdulillah direspon,” ujar Nofrizon.

Pembangunan Kelok 9 dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap I dimulai 2003 hingga 2011. Total anggarannya mencapai Rp350 mliar lebih. Sedangkan tahap II dimulai 2012 hingga 2013, dengan total anggaran mencapai Rp50 miliar. Tahap II meliputi pembangunan  satu unit jembatan dan jalan penghubung serta pengerjaan fondasi jalan yang mengalami review design.

Dalam rentang waktu  hampir 7 tahun (2003-2009), pembangunan Kelok 9 tersebut boleh dikatakan tersendat-sendat. Selama periode itu, total anggaran yang diturunkan hanya sekitar Rp200-an miliar. Masih butuh sekitar Rp400-an miliar lagi untuk menuntaskan Kelok 9 tersebut.

Sebab dari disain dan planningnya, biaya yang dihabiskan untuk pembangunan jembatan Kelok 9 itu berasal dari APBN mencapai Rp602,55 miliar. Jembatan memiliki konsep pembangunan ‘Nature and Engineering in Harmony’.

Dari 2010 hingga 2013, ketika Mulyadi dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi V DPR, dana APBN langsung didrop ke sana dalam jumlah besar. Dia ingin jembatan kebanggaan Sumbar itu cepat tuntas karena kehadiranya mendorong percepatan ekonomi di Sumbar, khususnya Limapuluh Kota dan Payakumbuh.

“Tidak hanya menjadi kebanggaan Sumbar, tapi juga kebanggaan Indonesia. Karena itu, Komisi V DPR terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di Kelok 9 dengan mengalokasikannya anggaran pembangunan tiap tahun,” kata Mulyadi  saat dihubungi Singgalang.

Jika mengikuti skenario anggaran pemerintah tanpa intervensi DPR, apalagi Mulyadi  menjadi wakil ketua Komisi V ketika itu dan punya hak diskresi sebagai pimpinan tentu sisa anggaran sekitar Rp400 miliar akan terealisasi selama 14 tahun kemudian. Dengan kata lain, Kelok 9, selesai dibangun pada 2024. “Lama betul rasanya. Sementara berbagai elemen masyarakat berharap Kelok 9 dituntaskan sehingga bisa dimanfaatkan,” kata dia.

Pada 2011 sekitar Rp150 miliar dana APBN didrop ke sana. Pada 2012 ditingkatkan menjadi Rp200 miliar. Di 2013 dialokasikan lagi Rp50 miliar guna pembiayaan review design fondasi jalan untuk penyesuaian konstruksi ramah gempa dan percepatan pengerjaan ruas jalan penghubung dan satu unit jembatan. Selain itu, Mulyadi tiga kali ke sini, memimpin kunjungan kerja Komisi V untuk memastikan penyelesaian Kelok 9 pada 2013.

Hal ini juga dibenarkan Dahler yang ketika itu menjadi Satker Pembangunan Kelok 9, Kementerian PU. “Pak Mulyadi begitu gigih memperjuangkan  pembangunan infrastruktur Sumbar, termasuk Kelok 9 yang kini menjadi fenomenal,”sebutnya.

Menurut Dahler yang juga berperan pada tahap awal pembangunan meyakinkan Kementerian PU adalah Kepala Dinas PU Sumbar ketika itu (almarhum Hediyanto W. Husaini).. Apalagi dalam perjalanannya, saat Mulyadi menjadi Wakil Ketua Komisi V, dana APBD didrop besar untuk Kelok 9.

“Berkat pengalaman dan tangan dingin Pak Mulyadi sebagai politisi Senayan, skenario anggaran yang secara baseline terealisasi 14 tahun dapat dipercepat oleh Pak Mulyadi menjadi 4 tahun,” sebut wakil rakyat Sumbar, Nurnas yang sebelumnya malang melintang di dunia jasa konstruksi.

Apa jawab Mulyadi? “Alhamdulillah, saya sangat puas dan bahagia karena sekarang Jembatan Kelok 9 menjadi kebanggaan masyarakat Sumbar. Ini ikon baru Sumbar selain Jam Gadang sekaligus menjadi destinasi wisata baru,” sebut Mulyadi. (015)

 

 

 

 

 

 

 

 

Loading...