Mukjizat di Samudra Hindia, Radar Samudera Lahir di Kapal ASDP

Oleh Yunisma 

PADANG-Tangis seorang bayi pecah membelah malam di kapal Ambu-ambu milik ASDP yang melintasi Samudra Hindia pada 7 Agustus 2026. Dia lahir dalam perjalanan dari Sikakap berjarak sekitar 104 mil laut atau setara dengan kurang lebih 205 kilometer ke Kota Padang.

Enam jam menjelang sampai ke tepi Pelabuhan Bungus Teluk Kabung Padang ketuban sang ibu pecah. Kondisi itu membuat Nova, (31) bidan desa yang mendampingi ibu bayi panik.

Ibu bayi yang dibawanya dari Sikakap untuk dirujuk karena riwat sesar namun melahirkan secara normal di kapal ASPD Padang.

“Kontan saja saya panik buk. Karena kondisi ibu Berlisnda harus punya riwayat sesar dua kali. Tidak ada dokter dan alat-alat pendukung melahirkan sesar di kapal. Saya takut kalau ibu dan bayinya kenapa-kenapa. Tapi alhamdulillah ada mukjizat Tuhan malam itu. Buk Berlisnda melahirkan secara normal dengan mudah dan tidak lama. Dua nyara selamat malam itu,” kata Nova, kepada Topsatu.com Jumat (25/09/2026).

Bayi yang lahir di kapal ASDP Padang merupakan anak ketiga dari pasangan Berlinsda dan suaminya Robertus Sinaga. Anak pertama dan kedua mereka lahir secara sesar kondisi inilah yang mengharuskan Berlinsda dirujuk ke Padang untuk mendapatkan pertolongan medis di rumah sakit.

“Saya benar-benar panik malam itu karena Buk Berlisnda  riwayatnya sesar, dari puskesmas dirujuk ke rumah sakit. Tapi tiba-tiba harus melahirkan di kapal tentu saya sangat kuatir,” kenang Nova, lulusan STIKES Ranah Minang tersebut.

Namun rasa was-was dan kuatirnya bisa terbagi karena Nova tidak sendiri dalam melakukan persalinan normal malam itu. Dia dibantu beberapa petugas medis lainnya yang ada di kapal ASDP. Seorang dukun beranak pun turut membantu proses lahiran normal Berlinsda hingga ibu dan anak selamat.

“Petugas kapal ASDP pun turut membantu. Respon mereka cepat. Kami saling bekerjasama demi dua nyawa malam itu. Saya coba minta ke kru kapal lebih cepat berlayar. Karena ibu Linda harus dirawat cepat. Jika melahirkan di kapal takut tidak bisa karena butuh alat. Jika anaknya lahir apa sehat? Jika tidak tentu harus segera dirawat juga dengan peralatan medis, ” terang Nova yang sudah mengabdikan diri di Sikakap sejak 10 tahun terakhir.

Sebagai seorang bidan di daerah kepulauan sudah menjadi rutinitas baginya membawa pasien menggunakan kapal ke Padang. Namun membantu persalinan ibu Berlinsda dan bayinya merupakan pengalaman yang tak terlupakan oleh perempuan asal Padang tersebut.

Hal serupa juga diutarakan Supervisi Mentawai, Sukma Nugraha. Selama enam bulan bertugas di Kepulauan Mentawai, membawa dan membantu seorang ibu melahirkan di kapal menjadi pengalaman berharganya baginya.

Baca Juga  Antisipasi Lonjakan Penumpang Saat Lebaran, ASDP Padang Tambah Dua Rute Pelayaran

“Malam itu kami kru kapal panik karena dapat info seorang ibu harus melahirkan di kapal. Ditambah pula info yang kami dapat malam itu, sang ibu harus melahirkan secara sesar. Bagaimana pula bisa sesar sedangkan kami tidak punya alat khusus untuk lahiran sesar,” kenang Sukma.

Kepanikan kru ASDP Padang mulai pudar tatkala mendapat info kalau ibu yang hendak melahirkan tersebut didampingi seorang bidan dan petugas medis lainnya.

“Meski sudah ada bidan dan petugas lainnya kami tetap kuatir, takut terjadi hal hal yang tak diinginkan. Tapi Tuhan berkehendak lain, ibu itu bisa melahirkan secara normal. Alhamdulillah ibu dan anak selamat,” kata Sukma.

Mukjizat di Tengah Lautan

Kelahiran anak ketiganya di tengah badai Samudera Hindia bagi Berlisnda Tri Yulia Hulu adalah sebuah mukjizat. Di tengah keterbatasan fasilitas dan tanpa sinyal seluler hanya mengandalkan jaringan Wi-Fi kapal bidan pendamping dengan sigap membantu proses persalinan darurat.

Hanya dengan satu dorongan napas, bayi laki-laki yang diberi nama Radar Samudera Sinaga tersebut lahir secara normal dan selamat tanpa mengalami pendarahan hebat. Lahirnya sang bayi disambut rasa haru dan rasa syukur luar biasa dari suami, bidan, dan kru kapal yang menyebut peristiwa ini sebagai sebuah mukjizat.

“Nam Radar Samudera Sinaga saya diambil dari koordinat titik radar yang sempat digunakan tim penyelamat saat menentukan posisi kapal di tengah Samudra Hindia. Saya berharap dia kelak tumbuh menjadi pribadi yang mampu mendeteksi serta membedakan hal baik dan buruk dalam kehidupan, serta memiliki kebesaran hati seluas samudra,” ujar Berlisnda .

Atas pertolongan tim medis, kru kapal, basarnas dan pihak terkait lain ibu tiga anak itu mengucapkan terima kasih.

“Saya benar-benar sangat berterima kasih pada semua tenaga medis yang sudah membantu persalinan saya. Pada kru ASDP yang memberikan perhatian besar pada saya dan bayi saya. Mereka cepat tresponnya, mereka hubungi pihak Basarnas, mereka tanya bagaimana keadaan saya. Saat sedang lagi sakit itu, butuh pertolonga cepat. Itu yang saya dapat dari kru ASDP Padang. Sekali lagi terima kasih semuanya,” ungkapnya.

Sementara, keterbatasan armada kapal pemerintah menjadi cerita getir warga kepulauan yang bergantung pada akses ke Kota Padang.

“Kami sangat berharap adanya penambahan jadwal kapal. Kalau bisa juga tambah kapal. Sebab daerah kami beda dengan daera lain. Semuanya serba terbatas. Di sini tidak ada rumah sakit besar, dokter ada tapi peralatan tidak lengkap, kalau tidak ada kapal besar seperti ASDP maka kami hanya bisa pasrah,” ujarnya.

Baca Juga  Denyut Kehidupan di Balik Pelayaran Kapal ASDP Padang – Mentawai

Dukung Aksesibilitas Mentawai

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Padang terus memperkuat konektivitas antarpulau di Provinsi Sumatera Barat dengan mengoperasikan dua armada kapal utama, yakni KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo. Kedua kapal roro ini menjadi tulang punggung transportasi laut yang menghubungkan Kota Padang dengan wilayah Kepulauan Mentawai.

GM ASDP Padang, Hari Gunanto mengatakan selain di Sumatera Barat, ASDP Cabang Padang sebenarnya juga mengoperasikan satu armada lain, yaitu KMP Pulau Telo yang melayani rute Bengkulu–Enggano di Provinsi Bengkulu. Namun, khusus untuk wilayah operasional Sumbar, pelayanan difokuskan pada KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo.

KMP Gambolo memiliki ukuran 560 GRT (Gross Tonnage) dengan kapasitas daya tampung 148 orang penumpang. KMP Ambu-Ambu memiliki ukuran 571 GRT dengan kapasitas daya tampung 149 orang penumpang. Di wilayah Sumatera Barat, ASDP melayani total enam lintasan pelayaran dari Padang menuju Kepulauan Mentawai yang terbagi menjadi dua kategori, 2 Lintasan Komersial yakni Padang – Tuapejat (PP) wadan Padang – Sikakap (PP). Kedua lintasan komersial ini dilayani secara bergantian oleh KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo).

Kemudian kata Hari, ASDP punya 4 Lintasan Perintis yakni Padang – Siberut (PP) dan antar-pulau Siberut – Tuapejat (dilayani oleh KMP Ambu-Ambu). Padang – Sikabaluan (PP) dan antar-pulau Sikakap – Tuapejat (dilayani oleh KMP Gambolo).

Pola operasional jadwal reguler mencakup sekitar 70 kali pelayaran per bulan. Sistem keberangkatan dari Padang dirancang bergiliran—ketika satu kapal berada di Pelabuhan Bungus (Padang), satu kapal lainnya berada di Mentawai.

“Untuk kenyamanan penumpang, kedua kapal dilengkapi dengan berbagai fasilitas standar pelayanan minimal (SPM) yang diperiksa secara berkala oleh Dinas Perhubungan Provinsi Sumbar. Seperti kursi penumpang dan ruang tatami (matras/kasur bertingkat). Ruangan ber-AC dan fasilitas hiburan (televisi/sistem pemanggil announcement),”jelas Hari lebih jauh.

Dikatakannya, dalam aspek keselamatan pelayaran, ASDP mengacu ketat pada UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Peralatan keselamatan seperti life jacket, life raft (rakit penolong), sekoci, tabung APAR, hingga sistem sprinkler diperiksa secara berkala oleh Marine Inspector dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Menghadapi anomali cuaca ekstrem yang sering terjadi di perairan Samudra Hindia, pihak ASDP selalu memprioritaskan faktor keselamatan. Operasional kapal akan ditunda jika ada peringatan dari BMKG serta Notice to Mariners (NTM) yang dikeluarkan oleh KSOP, termasuk melakukan koordinasi dan pemantauan situasi pelayaran bersama operator kapal lain di perairan Mentawai.

“Satu baut saja patah bisa fatal akibatnya. Jadi kami benar-benar harus cek ulang sebelum kapal berangkat. Keselamatan jiwa penumpang nomor satu,” pungkasnya. (*)