Modernisasi Pasar Modal di Era Ekonomi Digital

oleh
Hendri Nova
Wartawan topsatu.com
‘Mereka yang anti perubahan, maka akan mati ditelan perubahan itu sendiri,”
Ujar-ujar ini… harus disampaikan ke anak cucu, agar mereka terbuka untuk perubahan. Mereka harus menyesuaikan diri dengan perubahan dunia, jangan termenung dalam tempurung yang membuat perkembangan diri jadi terkungkung.
Jika mereka bertahan dengan nilai masa lalu, maka mereka bak menentang arus yang kian deras. Mereka pada akhirnya akan kalah juga, meski awalnya kuat akan kelelahan juga menghadapi apa yang disebut perubahan.
Perubahan zaman adalah satu hal yang mutlak terjadi. Tak ada yang menyangka dulunya, jika perpindahan dari satu daerah ke daerah lain bisa dilakukan dalam hitungan jam.
Bak kisah Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW yang dianalogikan anak manusia dengan perpindahan seekor semut dari satu provinsi yang jauh ke provinsi lainnya. Jika semut itu bercerita pada manusia dengan peradaban yang sudah maju, maka ia dengan mudah bisa dipercaya, karena ia diperjalankan dengan ikut manusia dalam pesawat, bukan jalan sendiri.
Namun tidak demikian halnya jika ia bercerita antar sesama semut. Ia akan dibully dengan sebutan gila, saraf, dan lain sebagainya.
Semua itu wajar, karena peradaban dan daya pikir semut tidak sampai ke arah itu. Paling-paling semut yang mengakui cerita perpindahan itu, hanyalah semut yang percaya pada kekuatan super yang menyebabkan semua itu bisa berpindah dari negeri yang jauh dalam hitungan jam.
Fakta Pasar Modal
Begitu juga halnya dengan kemajuan ekonomi. Mereka yang bertahan dengan ekonomi tradisional dengan kepemilikan perusahaan secara pribadi, jadi sulit berkembang dan mereka akhirnya kalah dengan kemajuan zaman.
Mereka kemudian diserang dengan masuknya perusahaan asing yang memakai konsep modern, sehingga akhirnya kalah karena tak mampu bertahan. Usaha mereka stagnan tidak bisa mengembangkan diri, karena keterbatasan modal.
Keterbatasan ilmu mereka akan konsep perusahaan terbuka terhadap modal asing, membuat mereka dihantui rasa takut jika nanti perusahaannya berpindah tangan pada orang lain. Hal itu menyebabkan mereka menutup perusahaannya rapat-rapat, akan masuknya modal dari luar.
Alhasil, perusahaan mereka hanya ada di daerahnya sendiri dan itu membuka kesempatan bagi orang lain untuk membuka usaha serupa di daerah lain, tanpa dibebani kewajiban membayar royalti. Mereka pemilik usaha pertama tak bisa berbuat banyak, karena usaha perusahaannya memang tidak dipatenkan dan memang menjadi milik usaha umum.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) seperti dikutip dari detikfinance.com, pada Sensus Ekonomi 2016 jumlah perusahaan di Indonesia tercatat ada sebanyak 26,7 juta. Angka ini meningkat dibanding hasil Sensus Ekonomi 2006 yang sebanyak 22,7 juta perusahaan.
Artinya, ada 3,98 juta perusahaan baru dalam 10 tahun terakhir. Perkembangan jumlah penduduk dan tumbuhnya usaha modern seperti bisnis online memberikan andil meningkatnya aktivitas ekonomi di Indonesia.
“Jumlah perusahaan pada Sensus Ekonomi 2016 ini meningkat 17,51% dibanding dengan jumlah pada 2006,” kata Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (27/4/2017).
Dari total jumlah perusahaan di Indonesia ini, yang baru melantai di Pasar Modal hanya 527 perusahaan. Sisanya masih memegang cara tradisional, sehingga sulit untuk berkembang.
Menurut Direktur Utama BEI Tito Sulistio, seperti dikutip dari tirto.id, BEI mencatat bahwa minat perusahaan Indonesia untuk “go public” masih rendah. Jumlah perusahaan yang sahamnya telah tercatat di BEI baru mencapai 527 emiten.
Meskipun sejak 2010 pertumbuhan jumlah perusahaan tercatat di BEI telah mencapai 25 persen atau merupakan yang tertinggi dibandingkan bursa-bursa lain di kawasan regional, namun berdasarkan data World Federation of Exchange (WFE), jumlah perusahaan tercatat di BEI secara keseluruhan masih di bawah Bursa Thailand (644 emiten), Bursa Singapura (766), dan Bursa Malaysia (904).
“Masih rendahnya minat perusahaan Indonesia untuk ‘go public’ dikarenakan banyak yang beranggapan bahwa ‘go public’ hanya untuk perusahaan yang membutuhkan pendanaan saja, atau pencatatan saham di pasar modal dilakukan ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan perekonomian Indonesia sedang dalam tren positif,” katanya.
Padahal, kata Tito Sulistio, ada beberapa manfaat “go public” lainnya seperti meningkatkan kemampuan keberlangsungan usaha perusahaan, meningkatkan citra perusahaan, dan menambah nilai perusahaan.
“Artinya, demi meningkatkan kualitas perusahaan, seharusnya ‘go public’ dapat dilakukan di waktu kapan pun,” katanya.
Sementara menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida, banyak perusahaan yang ingin ‘go public’ tapi tidak tahu harus kemana. Ia berharap dengan Pusat Informasi Go Public yang diadakan BEI, informasi ‘go public’ atau IPO hendaknya lebih mudah didapat masyarakat.
“Dengan kemudahan informasi pencatatan saham kepada masyarakat diharapkan dapat lebih meningkatkan jumlah emiten di pasar modal domestik,” katanya.
Sedangkan Sarman Simanjorang, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi DKI Jakarta, seperti dikutip dari swa.co.id mengatakan, anggota dari HIPPI Jakarta ada sekitar 5 ribu pengusaha. Jika melihat seluruh Indonesia, keanggotaan HIPPI bisa mencapai 250 ribu pengusaha. Untuk di Jakarta sendiri, belum ada anggota HIPPI yang melantai di BEI.
Ia beralasan, pengetahuan pengusaha akan dunia pasar modal masih rendah. Padahal, sebenarnya, banyak perusahaan yang cukup mumpuni untuk masuk ke bursa efek. “Kita lihat misal di daerah itu sudah cukup banyak pengusaha-pengusaha lokal yang sudah layak masuk pasar modal. Tapi memang lagi-lagi pengetahuan mereka terkait bursa masih sangat rendah,” lanjut dia.
“Kemudian budaya kita memang masih belum menyentuh bagaimana perusahaan bisa go public. Karena banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia ini dikelola oleh keluarga. Ketika ada suatu keluarga yang menginginkan go public, tapi yang lain nggak mau nah itu kendala juga,” lanjutnya.
Era Digital Pasar Modal
Terkait kemajuan Pasar Modak di era digital, BEI bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus berupaya memberikan layanan terbaik. Upaya yang dilakukan guna meningkatkan infrastruktur dan memperluas jangkauan pasar modal ke seluruh Indonesia.
“Satu langkah yang baru saja di lakukan dalam infrastruktur digital dan tekonogi yakni mengembangkan JATS (Jakarta Automatic Trading System) baru, yakni JATS Next-G. Pencapain itu sesuai dengan tema pasar modal kita untuk menuju pasar modal modern di era ekonomi digital,” ujar Direktur Utama BEI Inarno Djajadi seperti dikutip dari inews.id.
Pengoperasian sistem baru ini bagian dari upaya BEI untuk memperkuat pasar modal. “Hal ini sekaligus sebagai kerja keras terakhir dan terbesar dari tim kami bertujuh,” kata Tito, seperti dikutip dari investasi.kontan.co.id.
Menurut Tito, saat ini kapasitas JATS yang baru bisa mencakup 15 juta order dari sebelumnya 2,5 juta order. Kecepatan order juga meningkat menjadi 12.500 order per detik dari sebelumnya 4.000 order per detik.
BEI juga sudah resmi memindahkan data center di Tier 3, yang tak lagi berada di wilayah perkantoran. Tito mengklaim bahwa sistem baru ini memiliki availability 99,98%.
Modernisasi Pasar Modal
Alasan lainnya tidak mau go public karena ketakutan pemilik perusahaan menjadi perusahaan modern dengan melantai di bursa saham adalah kepemilikan perusahaan yang dengan gampang bisa jadi milik orang lain, jika semua saham sudah terjual. Tentu juga ketakutan akan perusahaan pindah menjadi milik asing, karena kepemilikan sudah berpindah tangan.
Agar hal ini bisa teratasi, maka Bursa Efek Indonesia (BEI) harus rajin melakukan sosialisasi, untuk mengatasi ketakutan ini. Jika perlu, dibuatkan bursa saham lokal yang sahamnya hanya bisa dibeli oleh satu provinsi atau satu pulau, atau se-Indonesia saja sebagai media latihan.
Jika pemilik perusahaan sudah terasa nyaman dengan perubahan yang terjadi di perusahaannya karena mendapatkan banyak keuntungan, tidak tertutup kemungkinan ia akan melantai di lantai bursa yang lebih besar, dan menjadi terbuka akan masuknya modal asing ke perusahaannya.
Jadi apa yang harus dilakukan Pasar Modal agar bisa menjadikan perusahaan anak bangsa go public, adalah dengan melakukan modernisasi pelayanan yang mengerti dengan kondisi lokal. Jika pemilik perusahaan hanya mau sahamnya dibeli orang Indonesia saja, maka sahamnya hanya muncul di bursa lokal.
Namun jika perusahaannya mau go public alias sahamnya bisa dibeli juga oleh pemodal asing, BEI tinggal membantu melakukan penyesuaian agar bisa segera melantai di lantai bursa.
Agar para pemilik perusahaan yang melantai di Pasar Modal dan yang menjadi investor di lantai bursa tidak ketinggalan info terkait saham mereka, hendaknya sistem digital yang dimiliki BEI bisa memberitahukannya secara langsung.
Apapun perubahan yang terjadi, pesannya langsung disampaikan pada yang bersangkutan. Setidaknya, sistem yang diterapkan bak sistem media sosial yang rutin memberitahukan per detik, setiap perkembangan pada pemilik akun.
Hal ini akan membuat mereka merasakan kontrol ada di tangan mereka, sehingga tak ada satupun yang terlewatkan. Modernisasi yang dilakukan Pasar Modal di era ekonomi digital bisa mereka rasakan langsung efeknya bagi kelangsungan bisnis mereka.
Mereka pun pada akhirnya bisa merasakan hebatnya kesuksesan bisnis yang bisa mereka raih, dengan adanya modernisasi yang dilakukan Pasar Modal. Dan tentu saja diharapkan, pembinaan terus menerus harus dilakukan pada pemilik saham ataupun pemilik perusahaan, agar mereka bisa mengembangkan bisnisnya lebih baik lagi.
Jika sudah sukses di satu bisnis, maka sayap bisnis harus dilebarkan pada bisnis lainnya. Orang sukses berkata, jika ada banyak telur, maka jangan hanya ditaruh dalam satu keranjang. Dia harus menaruh di beberapa keranjang, sehingga kalau keranjang yang satu tak diduga pecah telurnya, masih ada telur lain di keranjang lain.
Pihak pengelola Pasar Modal hendaknya juga menyediakan ruang konsultasi gratis di aplikasi yang telah dibuat, untuk melayani pemilik perusahaan ataupun pemilik saham yang ingin berkonsultasi.
Buatlah iklim atau suasana antara pengelola Pasar Modal dengan pemilik perusahaan dan pemilik saham, seperti suasana kekeluargaan. Jika ada satu perusahaan bermasalah, secara bersama-sama dibantu dicarikan jalan keluarnya.
Dengan demikian, modernisasi Pasar Modal di era ekonomi digital menjadi satu berkah hebat, bagi kemajuan perusahaan yang telah melantai di bursa. Sementara bagi pemilik saham, menjadi satu kesempatan untuk memiliki perusahaan meski dengan modal yang sedikit.
Mereka juga menjadi lebih tangguh dalam bertransaksi saham, karena dibantu dan dimudahkan oleh Pasar Modal. Pada akhirnya, jayalah Pasar Modal Indonesia sampai mancanegara. (*)
Loading...