Mentawai Terang, Ekonomi Jadi Benderang

NGKUT TIANG - Para pekerja mengangkut tiang listrik milik PLN. (humas)

Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com

“Waduh mati listrik lagi, udara sedang panas-panasnya lagi,” keluh Mita, salah seorang penghuni penginapan di Pulau Siberut.

Mita ke Mentawai dalam rangka menjalankan tugas kantor bersama rekan-rekannya dari Padang. Selama seminggu mereka akan berada di pulau terluar Indonesia tersebut, untuk melakukan bakti Keluarga Berencana (KB), tugas dari BKKBN Pusat.

“Maaf ya buk, kami sedang berusaha cari Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menghidupkan genset. Keadaan seperti sudah biasa bagi kami di Mentawai ini buk, maklum listrik kami sangat bergantung pada pasokan BBM dari Padang,” kata Meri, pemilik penginapan.

Setelah basa-basi dan meminta maaf sekali lagi, ia pun berlalu ke kamar lainnya untuk menyampaikan permintaan maaf. Sampai semua kamar selesai didatangi, barulah ia kembali ke lantai dasar bangunan kayu bertingkat dua tersebut.
Rata-rata penginapan di Siberut Mentawai yang bertingkat dua, terbuat dari kayu, hampir tidak ada yang berbahan beton. Sejak lancarnya transportasi ke Mentawai dengan adanya kapal cepat, geliat ekonomi pun terasa di semua pulau di

Kepulauan Mentawai, baik di Sipora, Sikakap, Siberut, maupun pulau tujuan wisata lainnya. Sayangnya, penginapan yang seharusnya memberikan rasa nyaman, kadang ternodai oleh matinya listrik. Kipas angin yang rata-rata ada di setiap kamar, dipastikan tidak akan menyala, kecuali gensetnya hidup pasca matinya listrik.

Setelah menunggu 15 menit, listrik kembali menyala yang tentunya disertai raungan mesin genset. Semua penghuni kamar mengucap syukur, karena bisa beraktivitas lagi dengan leluasa. Sebagian besar langsung menyalakan laptop, mengisi power bank, mengisi baterai smartphone, dan tentu ada juga yang berbaring ditemani kesejukan dari kipas angin. Kenyaman kembali didapat penghuni penginapan.

“Kami maunya sih, listrik di Mentawai ini menyala 24 jam, walau bagaimanapun caranya. Jika dengan BBM jenis solar keadaannya seperti ini, kami berharap satu saat nanti ditemukan listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT), sehingga kami bisa meningkatkan produktivitas,” kata Ujang, salah seorang pemilik usaha perdagangan sehari-hari.

Saat ini ia mengaku hanya bisa efektif berusaha di siang hari, karena kalau malam takut tagihan jadi membengkak. Sayangnya di siang hari, listrik malah sering mati, karena mengejar rasa nyaman terang di malam hari. Lain lagi cerita Rusli, pemilik usaha ikan asin kering. Ia berharap bisa memiliki mesin pengering ikan, agar usahanya makin lancar. Saat ini, ia hanya mengandalkan sinar matahari, karenanya jadi kurang efektif.

Apalagi saat musim hujan, ikan yang ia punya akan lama keringnya dan itu berarti lambat pula modal kembali. Padahal ia sangat mengandalkan usahanya ini, untuk menafkahi anggota keluarganya.

“Rata-rata orang Padang yang datang ke Mentawai, pulangnya membawa ikan asin. Jadi sudah jadi buah tangan wajib bagi mereka, begitu kembali ke Padang,” katanya.

Peluang inilah yang dimanfaatkan Rusli dan dijadikannya usaha keluarga. Kadang kalau ikan sedang banyak, ia minta bantuan pada keluarga dekat, untuk membantu pengolahan ikan yang mau dikeringkan, maupun ikan yang harus dikemas.